Aku pernah menjadi seperti itu, sosok yang introvert, murung, lebih suka berteman dengan beberapa orang saja, kadang memilih menyendiri, jutek, muka tak bersahabat pula ketika mood berantakan atau butuh recharge energi. Rasanya jarang sekali bisa menjumpai aku tersenyum. Sampai suatu hari di lab biologi ditanya Pak Eko.
"Kamu kenapa Nak? Ada masalah apa? Sini cerita sama Bapak. Dimarahin guru atau ada masalah sama temen di asrama?".
Aku menggeleng. Memang tak terjadi apa-apa padaku saat itu. Aku bahkan tak mengerti pada diriku sendiri. Setelah itu aku diajak Pak Eko bermain sesuatu, hanya tebak-tebakan gambar biasa tapi ternyata itu permainan psikologi. Setelah dijabarkan hasilnya aku shock. Diriku saat itu nyatanya berseberangan sekali dengan hasil permainan itu yang notabenenya merupakan gambaran kita yang sebenarnya. Benar memang ada yang salah denganku saat itu.
Dan ternyata karena hal itulah muncul sosok "teman imaji" beserta dongeng-dongeng tentangnya. Teman di mana aku bisa bercerita dengan leluasa, sesuatu yg tak pernah bisa ku lakukan pada siapapun.
Naasnya aku menemukan sosok yg mirip teman imajiku itu di dunia nyata, di penghujung putih abu-abuku. Duileeeh semakin tenggelam dalam dongeng-dongeng Habibie dan pesawatnya kan?β
Ah tak apa, nyatanya karena dongeng-dongeng itu akhirnya aku bisa melewati badai-badai yang menerpa dan bisa tegak hingga kini. Karena dongeng itu pula aku bisa tetap berprogres dan bertumbuh. Dongeng-dongeng yang senantiasa menjadi pengingat di kala aku sudah mulai melenceng dari tujuan, ketika aku diambang keputusasaan. Bahkan ketika aku pernah kehilangan tujuan untuk mrlanjutkan hidup. Dongeng-dongeng itulah yang kembali menyelamatkanku. Rasanya Tuhan memang sengaja mengirimkan ia sebagai "penjaga" mimpi-mimpiku agar tetap menyala. Rasanya ia adalah hadiah dari Tuhan atas hati yang tercabik-cabik selama ini. Ah bukankah sekarang waktu yang tepat untuk pamit? Sudah semakin tegak berdiri sendiri kan sekarang?
Semarang, 22 Februari 2019
@riaerlani












