Cerpen - Strawberry Girl
Waktu cium wangi lotion, kepikiran stroberi, jadinya yahh... fict ini terlahir deh! Aku gak pinter #DeskripsiInterior lebih sering buat #DeskripsiEksterior sih *halah, padahal emang gak bisa buat deskripsi yg maknyus*
silakan dinikmati!
-Strawberry Girl-
Auliya PN
Sinar matahari menyusup, masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Seorang perempuan yang tertidur di sofa,malas-malasan membuka matanya. Sambil menguap, dia merentangkan kedua tangan. Tak lama setelahnya, dia benar-benar membuka mata dan memposisikan diri untuk duduk.
“Ini... di mana?” Heran, dia menatap dengan lebih saksama ruangan asing tempatnya berada.
Ruang itu merupakan sebuah petak yang tidak terlalu besar, dengan dinding berlapis kertas berwarna cream bermotif buah stroberi. Di depan sofa merah tempatnya duduk, perempuan itu melihat seperangkat home theater yang anyar.
Menonton film atau sekadar karaoke di ruang ini pasti menyenangkan, pikir si perempuan takjub dengan TV dan perangkat audio yang terlihat mahal itu.
Karena di sebelah kanan hanya ada jendela yang tertutup gorden merah tua, dia mengalihkan pandangannya ke kiri. Terlihat ada sebuah rak kayu cokelat gelap. Isinya deretan kotak kaset. Mungkin kaset film atau lagu. Di sebelahnya, ada rak serupa berisi buku-buku dengan warna, ukuran , dan tebal yang beraneka.
Perempuan itu mengerutkan kening. Dia tidak ingat apa yang terjadi semalam dan benar-benar tidak tahu ada di mana sekarang! Dan oh, kepalanya berdenyut kuat saat berusaha berdiri.
“Eh? Yui-chan sudah bangun?” sebuah suara mengagetkan. Dia menoleh dan melihat seorang perempuan dengan rambut basah muncul dari balik sebuah pintu di samping rak buku. Seketika, ruangan itu dipenuhi aroma stroberi yang sangat manis.
“Hikari?” kening Yui semakin berkerut. “Kenapa... kau di sini? Ah, ini... di mana?”
“Kenapa aku di sini? Hahaha, tentu karena ini apartemenku, Yui-chan! Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?” tanya gadis stroberi bernama Hikari itu.
Yui menggeleng. Seingatnya, semalam dia pulang kerja pukul tujuh seperti biasa, menaiki kereta dan mampir ke kedai ramen sebelum pulang, lalu...
Oh, Tuhan! Aku mabuk! Yui menepak dahinya sendiri mengingat apa yang terjadi.
“Kita bertemu di kedai ramen, memesan sake, dan membicarakan pernikahanku dengan Ken...” kalimat Hikari terputus.
“Dan aku mabuk,” sambung Yui.
“Yah, itu.” Hikari tersenyum canggung. “Aku tak tahu alamatmu yang baru, kau juga tak kunjung bangun, jadi aku membawamu kemari.”
“Uh...” Yui terlihat tidak nyaman. “Maaf. Aku jadi merepotkanmu.” Dia menunduk.
“Bukan masalah, Yui-chan.” Hikari tersenyum. “Ah, kau mau mandi? Kurasa lebih baik kau... emm, membersihkan diri.”
Yui menunduk dan melihat kemeja putihnya bernoda. Apa mungkin semalam dia muntah? Uh. Itu menjijikkan!
“Um, terima kasih.” Canggung, Yui menyelipkan rambut pendeknya ke balik telinga. “Tapi, kurasa lebih baik aku pulang. Sekali lagi, maaf karena merepotkanmu.” Dia mengambil tas dan mantel hijau tuanya di atas meja.
“Kau yakin?” Hikari bergerak menuju jendela. Disibakkannya gorden merah tua yang tergantung di sana. Sinar matahari pagi menyerbu masuk ke ruangan itu, membuatnya lebih hangat. “Aku membuat sup untuk menghilangkan hang over. Kurasa lebih baik kau sarapan dulu.”
“Um, tidak perlu repot-re...”
Belum sempat Yui menyelesaikan kalimatnya, Hikari menyela, “Selagi sarapan, kita bisa bicara tentang Akihiko dan... ayahnya.”
Yui merasa darahnya seakan menjadi beku. Kulitnya mendingin, keringatnya mengalir dan saraf motorisnya behenti bekerja. Bahkan untuk mengerjapkan mata satu kali saja, dia tak bisa.
Hikari tersenyum sebagai tanggapan untuk kebisuan Yui. “Jadi, apa kau mau supnya?”
***
Hikari menatap kucuran air yang mengalir dari keran bak cuci piring. Tangannya memegang gelas keramik yang tadinya berisi teh. Dia berniat mencuci semua peralatan makan yang kotor di bak itu, tapi pikirannya melantur ke mana-mana.
“Hahhh...” Akhirnya dia meletakkan kembali cangkir itu dan mematikan keran, berbalik, lalu melangkah menuju kamar.
Cklek!
Pintu abu-abu di sebelah rak buku terbuka. Aroma stroberi menyeruak seketika, terbawa arus angin dari pendingin ruangan.
Refleks, Hikari menahan napas. Matanya tiba-tiba terasa panas. Ada bulir-bulir air yang tertahan di sana. Aroma yang dulu menjadi terapi saat lelah, sekarang berubah menjadi sesuatu yang menyesakkannya. Ditutupnya kembali pintu itu sampai terbanting keras seraya bergerak menuju tengah ruangan. Setelah menjatuhkan diri di atas sofa yang beberapa saat lalu menjadi tempat tidur darurat teman sejak kecilnya, Hikari kembali menghela napas. Kali ini, kelopak matanya tertutup dan air mengalir dari sudut-sudutnya.
***
Gelapnya malam mulai merambat, tapi Hikari tak kunjung bergerak, bahkan sekadar untuk menyalakan lampu dan memenuhi ruangan itu dengan cahaya. Matanya menatap kosong layar lebar TV yang tidak dinyalakan, kemudian berkeliaran menatap keseluruhan apartemennya yang terlihat samar-samar.
Sebagian besar buku di rak kayu sebelah pintu kamarnya sudah dimasukkan ke dalam kardus. Dia akan mengirim semua hadiah yang pernah diterimanya itu kembali begitu kantor pos buka besok pagi. Dan sorenya, setelah menyelesaikan tugas di kantor, dia akan menemui orang itu, lalu membersihkan apartemennya. Dia harus menghilangkan semua stroberi dari tempat itu. Parfum, lotion, body scrub, sabun, sampo, cairan pencuci piring, semuanya harus dibuang!
Dia juga harus menata ulang interior huniannya. Pertama, dia harus membeli kertas dinding baru. Harus! Warna hijau muda bercorak bunga lavender sepertinya akan jadi pilihan utama. Kedua, dia sudah pasti akan mengepel lantai dengan karbol dan menyemprotkan pengharum ruangan yang lebih segar! Ketiga, belanja perabotan baru! Ya. Semua perabot yang berwarna merah dan bercorak stroberi harus diganti. Mungkin warna hijau daun atau ungu akan cocok dengan kertas dinding barunya nanti.
“Sial!” Hikari mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Telapak tangannya kembali bergerak menutupi wajah. “Semua jadi merepotkan... Menghilangkan jejakmu... benar-benar merepotkan!” gerutunya di sela-sela tangis yang kembali meledak dalam malam yang kian memekat.
***
“Kau tidak memesan strawberry milk shake?”
Hikari mendongak untuk menatap orang yang baru datang dan langsung bertanya tentang minumannya sore itu. Dan dia tersenyum sambil menggeleng lemah sebagai jawaban.
“Tidak biasanya,” sambung orang itu balas tersenyum. “Dan...” Orang itu mendekatkan wajahnya ke arah Hikari. “Kau mengganti parfummu. Ini bukan wangi Hikari-ku yang biasanya.”
“Aku memang suka lavender sejak dulu, Ken,” sahut Hikari menatap pria yang kini duduk di hadapannya.
“Ya. Tapi kau tahu aku suka parfum lamamu.” Ken menopang dagunya dan menatap Hikari yang menunduk dalam diam. “Lalu, apa yang ingin kekasihku ini katakan?” Dia mulai bicara dengan nada menggoda.
“Aku...” Hikari malah semakin menunduk. Keramik putih restoran itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih menarik untuk dilihat. Dadanya sesak dan pikiran tentang kebenaran keputusannya tadi malam berulang kali membelah pikirannya.
“Hm?” Ken menuntut penjelasan.
“Aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Hikari berhasil mengatakan kalimat yang mematahkan hatinya sendiri.
“Hah?! Ma-maksudmu?”
“Kita akhiri saja semuanya, Ken. Aku tak ingin hubungan ini berlanjut.”
“Hikari, jangan bercanda seperti ini. Kita akan meni...”
“Pernikahan kita... itu... kurasa sebaiknya dibatalkan,” potong Hikari.
“Hikari, ada apa denganmu? Kau sakit?” Ken bergerak hendak menyentuh dahi Hikari, tapi tangan pria itu ditepis segera oleh wanitanya.
“Aku bertemu Yui-chan.” Hikari menahan napas. “Kau tahu kan? Dia tiba-tiba pindah dan mengganti ponselnya. Karena lama tak berhubungan, kami jadi bercerita banyak hal.” Sebuah senyum aneh mengiringi kalimat itu.
Ken terdiam dan mengernyit, tak tahu ke mana Hikari akan mengarahkan pembicaraan itu.
“Dan saat dia mabuk, dia menceritakan semuanya padaku, Ken. Tentang kau, dia, dan Akihiko, anak kalian yang bahkan kau tak tahu pernah ada.”











