QUARTER LIFE CRISIS DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRES INDIVIDU
Quarter life crisis merupakan respons individu terhadap masalah yang muncul dalam situasi dengan berbagai pilihan tanpa solusi yang jelas, yang menyebabkan kecemasan dan perasaan tidak berdaya, yang sering terjadi pada rentang usia 18 hingga 25 tahun (Usmi et al., 2025).
Pada usia dewasa awal, seseorang harus menyesuaikan diri dengan standar dan harapan hidup sosial yang berbeda. Mereka juga harus memiliki kemandirian finansial dan membuat keputusan sendiri, dan tidak lagi bergantung pada orang tua mereka secaraekonomis, sosiologis, dan psikologis (Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, 2024).
Fenomena ini sangat penting sekali untuk dibahas dalam bab ini karena menurut saya pribadi wajar jika remaja mengalami QLC karena di usia itu manusia rentan mengalami kebingungan dalam menentukan arah tujuan hidup, dan mulai bertanya tanya ke arah mana tujuan hidup sebenarnya. Dalam hal ini QLC sering kali membuat seorang individu merasakan stress akibat ketidakmampuan dalam mengatasi kebingungan akan tujuan hidup dan mulai banyak yang melakukan hal negatif seperti tersandung narkoba, free sex, hingga prostitusi. Mereka melakukan hal tersebut lantaran bingung dalam menentukan arah tujuan hidup sebenarnya, mereka bertanya tanya untuk apa hidup sebenarnya dan apa arti hidup sebenarnya, ke mana tujuan hidup sebenarnya.
Di usia 20an banyak individu yang mulai kebingungan dengan arah tujuan hidup dan hidup seperti zombie berjalan tanpa arah dan tujuan tidak ada hari yang istimewa, semua hari terasa biasa saja dan membosankan tetapi selalu dijalani. Meskipun mencoba berbagai hal yang baru tetap saja hidup hampa tidak ada yang terasa istimewa setiap hari terasa sama hidup dalam kekosongan tanpa tujuan arah hidup. Perasaan semakin memburuk, pikiran semakin kacau dan bertanya tanya apakah kita seperti ini? Dan bagaimana kita bisa melewati ini semua? Bahkan bertanya tanya apakah air mata mampu mengatasi semua ini? Kita menjalani rutinitas sehari-hari kita setiap hari, tetapi kita tidak merasa tenang, kita merasa hilang, dan kita mencoba hal-hal baru, tetapi semuanya terasa hampa dan hidup seperti kita kehilangan pegangan.
sumber: How to manage a quarter-life crisis
QLC sering sekali membuat individu itu merasa tertekan dengan kehidupan dan berusaha untuk menjalani kehidupan yang tampak biasa saja tanpa ada yang istimewa, dan banyak sekali pikiran yang menghantui mengenai hidup mereka terutama faktor ekonomi dan asmara. Banyak sekali individu yang mulai cemas dengan masa depan mereka takut akan kegagalan dan berusaha untuk mengatasinya, banyak sekali cara untuk mengatasi stress akibat QLC yaitu: A. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain, fokus terhadap diri sendiri. B. Cari Dukungan Sosial, Jangan memendam masalah sendiri. Ceritakan keresahan kepada teman, keluarga, atau pasangan yang dipercaya. C. Mencoba menerima perubahan, ini adalah salah satunya yang berusaha untuk dapat merubah segala perubahan meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi hidup. D. Fokus terhadap diri sendiri dan jangan pernah berfokus pada perilaku orang lain, jadilah diri sendiri apa adanya tanpa membandingkannya dengan orang lain.
E. Bersosialisasi di lingkungan yang dapat menerima diri dan mendukung aktivitas individu. G. Jangan pikirkan omongan orang lain, tidak usah menoleh ke belakang dan terus maju ke depan dengan menjadi diri sendiri tanpa merugikan orang lain. H. Menjadi diri sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain, dan menjadi seorang yang positif dan mengabaikan hal yang tidak penting.
Dalam hal ini peristiwa QLC sering kali membuat kecemasan pada individu dan hal ini sudah menjadi hal wajar jika individu mengalami hal ini karena ini adalah bentuk perubahan psikologis dari remaja menuju ke fase dewasa dengan memikirkan arah tujuan hidup sesungguhnya. Dan banyak individu yang mulai kehilangan minat bahkan tidak tahu mengenai arah tujuan hidup sesungguhnya, dengan ini banyak sekali yang mulai terjerumus ke dalam hal negatif oleh karena itu salah satu caranya adalah dengan mulai beradaptasi dengan lingkungan dan mencari kegiatan yang positif.
Sumber:
Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, I.I.J. (2024) ‘PSIKOEDUKASI QUARTER LIFE CRISIS“FACE THEM WITH ONE BIG STEP!”’, 2(2), pp. 306–312.
Usmi, R.S. et al. (2025) ‘Faktor Penyebab Quarter life crisis Di Kalangan Mahasiswa’, Character : Jurnal Penelitian Psikologi, 12(01), pp. 262–274.















