Rangkuman diskusi di suatu grup sosial media dengan sedikit perubahan dan edit sana-sini. Ingin lebih banyak yang membaca ini karena seringkali ini masih menjadi kebingungan banyak orang. Rada panjang tapi semoga bermanfaat!
Islam selalu mengajarkan untuk hati-hati. Dalam kasus upload foto di medsos, ga ada kan dasar apapun yang melarang kita upload foto kegiatan di medsos? Cmiiw. Walau misal niatnya bukan untuk riya’, tapi bisa jadi akan ada yg jealous, akan ada org yang iri hati. Intinya membuat orang lain iri hati katanya ga baik (?)
Iya, betul. Gak ada yang melarang, kan di zaman Rasulullah ga ada sosmed :)
Nah, kalau terkait riya’, ini bab individunya dengan Allah. Kita gak pernah tau kan yah, teman kita riya atau tidak?
Cuma Allah yang bisa menilai. Karena riya’ itu kalau kata salafus shalih “seperti semut hitam berjalan di atas batu hitam, pada gelapnya malam”, gak keliatan.
Trus gimana dong tau diri kita riya’ atau engga? Ya diri kita sendiri, yang bisa menimbang-nimbang, ini bener karena Allah gak ni posting kayak gini? Niatnya apa ni? Ikhlas utk Allah? Tujuannya? Dakwah kah? Syi'ar kah? Atau apa? (ya, cuma kita yang bs jawab).
Riya’ kan lawannya ikhlas ya, dan ikhlas adalah ilmu tersulit.
Ini beberapa artikel bagus (karena ada dapusnya, ambil dri kitab mana hee), di sini dijelaskan, mana yg dibolehkan ditunjukkan ke orang2, mana yg tidak boleh
* https://almanhaj.or.id/2724-riya-dan-bahayanya.html
* http://www.dakwatuna.com/2014/08/25/56195/riya-di-media-sosial-2/#axzz4UpmAy5t4
* http://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html
Eventually orang bilang kalo kita harus hati-hati, jangan berlebihan. Sering banget orang bilang begini, bukan soal upload foto di medsos aja, misal soal berbaur dengan lawan jenis juga). Selama segala sesuatu itu ga berlebihan, it considers okay. Tapi yang namanya berlebihan sekarang itu subjektif dan jadinya bias. Berlebihan bagi kita belum tentu berlebihan bagi orang lain. Kaya contoh lebaynya, kita upload makanan di instagram, siapa tau ada yg iri hati
Iya memang, definisi berlebihan itu ya gak bisa diukur
Apalagi terkait posting-postingan ya.
Namun, muslim selalu punya standar sendiri. Misalnya, sholat sunnah rawatib, akan ada yang komen, “lo berlebihan amat sih, setiap mau dan setelah sholat lo sholat terus” atau, “lo lebay deh, pakai2 jilbabnya”, atau yg lainnya. Padahal, gak lebay, memang segitu porsinya kita, kebiasaan Rasul demikian, Islam mengatur seperti itu << oke ini contoh ekstrim.
Kalau upload makanan, mungkin… yang berhati-hati untuk tidak posting, bisa jadi ada beberapa kemungkinan :
a. Dia mikir tentang adab bertetangga juga mungkin. Kalau kita masak, kecium bau masakannya, Rasulullah SAW bilang ke Aisyah utk perbanyak kuah dan bagiin makanannya ke tetangganya. Nah bisa kita ambil ibrohnya dari kisah ini.
b. Dia mikir, orang lain juga akan kepengen pasti, tapi kita bisanya cm nunjukin makanannya, tanpa kasih makanannya, jadi dia urung utk upload. Menjaga perasaan saudaranya.
Nah, lain halnya kan kalau kita memang jadi orang dagang makanan ? Ya pasti kita posting-posting lah. Atau misalnya kita jadi chef. Atau kita memang dibayar untuk promosi makanannya hehe beda hal. Untuk hal-hal seperti ini mungkin gapapa.
Intinya memang balik ke niat dan manfaatnya. Cek lagi, postingan kita ada ilmu buat orangnya apa engga nih?
Misalnya berbagai postingan Teh Patra, Teh Kiki, Dewi Nur Aisyah yang banyak posting kehidupan pribadinya, posting tentang keluarga dan anak-anaknya, “itu gimana bisa bikin iri orang yg keluarganya berantakan ga? Bisa bikin orang ya berkesempatan keluar negri sampe S3 dan membangun keluarga muslim di sana kayak Kak Dewi ga?” Itu kan tujuannya inspirasi, syiar bahwa muslim juga baik, Insyaallah ga apa-apa. Sama aja kayak Ridwan Kamil banyak posting ya sebagai self branding karena dia pejabat publik.
Jadi, kembali ke awalnya, untuk apa? Karena kita hidup di sini, akan ditanya “untuk apa ?”
Nah itu kan dari diri kita, kalau tentang iri hati nya orang gimana?
Iya gak bisa dipungkiri yang ini, karena pasti akan ada yg iri. Tapi lagi-lagi iri pun bisa ada yang dibolehkan, ada yang tidak.
Ya, lagi-lagi kendali ada di diri kita sendiri hehe. Kita ga bisa mengendalikan orang, selama kita sudah niat untuk kebaikan ya Bismillah aja. Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita, untuk ga usah mudah iri dan dengki sama kebahagiaan orang.
Semoga kita selalu dituntun Allah untuk diarahkan ke yg benar, hatinya diteguhkan di jalan kebaikan, dibolak-balikkan tetap dalam ketaatan.
Mudah? Sulit, justru ini ujian bersosmed.
Jadi apakah harus memilih super aman dan ga bersosmed?
Tapi jangan sampai orang islam jadi ketinggalan zaman dan jadinya hal-hal kaya gitu dikuasai sama yang ga baik ya. Justru itu jadi sarana bagi kita untuk menyebar kebaikan.
Sosmed kan cuma sarana, mau digunakan untuk kebaikan atau keburukan kita yang atur. Sama aja kayak pisau. Gunakan dengan bijak aja.
Setiap orang, mungkin ada yang ga bersosmed sama sekali, karena ada targetan sendiri, atau sulit fokus atau sulit menahan dirinya dari yg maksiat. Gapapa, itu hak mereka demikian, dihargai saja.
Kalau kita tetap memilih bersosmed, ya mari kita jaga segala postingan kita hehe.
Yah awalnya aku mikir it’s okay utk upload apapun as long as it gives benefits to people hehe, cuma kadang kan upload di igstory ga penting gitu wkwk
Nah iya bener, kan bagus ya, menghindari yang ga penting? Rasulullah menyuruh kita juga menghindari ke-ga penting-an ya?
Terus aku pikir yaudah selama ga merugikan orang dan ga takes time sampe ga tilawah atau ga sunnah-sunnah lain, knp hrs mikirin itu -.-
Iya, pengen juga sih ga mikirin org lain, kayanya ribet hidup mikirin orang lain. Tapi sayangnya.. Allah udah nyuruh kita buat saling mengingatkan QS. Al'asr ayat 3
Yakin ga meninggalkan sunnah? Seringkali kita banyakan megang sosmed, padahal mathurat aja yang sughra, dhuha seadanya, tahajjud kadang-kadang, tilawah banyak alesan :(
Memang aktivitas upload itu bermata dua ya… Satu sisi bisa jadi inspirasi/motivasi untuk orang, satu sisi bisa bikin iri hati walau underlying motivation kita ga utk riya’, misal utk self branding yg mengarah ke motivasi/dakwah/any good motives lah.
Iya betul, bermata dua banget huhuhu
Nah, makanya islam ngajarin ikhlaashunn niyah (niat ikhlash)
Apalagi medsos itu sifatnya “bisa dilihat kembali” dan cenderung addictive. Nah keraguan2 semacam ini (yang bukan cuma apply di kasus medsos aja) apakah perlu dihadapi dengan hati-hati atau selow aja selama niatnya baik/netral (gaada niatan riya’) insyaAllah everything okay (doesnt matter if it makes people jealous)?
Iya, sangat perlu dihadapi hati2 :)
Riya’ itu suliiiit dibedain. Makanya, kudu hati-hati dan ga bisa selow. Bayangkan, syaithan teh tiap hari ga pernah absen dari zaman pertama bekerja, jadi mereka pengalaman banget dalam menggoda manusia. Bahkan ga pernah berhenti dia ngajakin ke neraka.
Hmm, dan apabila misalnya riya’ itu terhindari, gimana caranya kita tahu kita bener-bener posting untuk manfaat, bukan yang lain? Karena basically kita ga bisa mengkuantifikasi mudhorot (bikin org jealous) dengan benefitnya (memotivasi), lebih besar mana.
Kalau kita mau dituntun Allah supaya menemukan keputusan yang tepat dalam bertindak, perbaiki ruhiyahnya dulu, sering-sering membersihkan jiwa.
Insyaa Allah, Allah akan menuntun kepada keputusan yang tepat. Kalau hati kita aja acak adut, kacau balau, gimana mau dituntun sama Yang Maha Membolak-balikkan Hati?
Kan setiap hal akan dipertanggung jawabkan. Coba kita tanya diri kita sendiri, “apakah postingan aku yg cantik dan imut ini masuk kategori pahala atau dosa?” In syaa Allah hati mah gakan berbohong.
Jangan sampai orang buka medsos kita dan isinya malah ngabisin waktu orang lain, trus kita kecipratan dosa juga. Yang bikin ngeri sih ada hadits, “kalo kita ngasih contoh dan org lain ikutin kita, kita dapet pahala/dosa orang yang bersangkutan”. Bisa jadi, pasti, ada yang ngikutin kita. Kita posting yg baik, buruk, atau ga penting, pasti ada yang jadiin kita contoh.
Tetap saling mengingatkan, yang menulis belum tentu lebih baik dari yang membaca.
Dan pesan terakhir, ini penyakit hati harus diilmui, karena pasti ada penangkalnya. Misal riya. Kalo gatau ilmunya bisa terjatuh ke riya. Mau sodaqoh takut diliat orang, eh gajadi Shodaqoh, padahal mah udah termasuk riya’.
Satu lagi kuncinya: yang mahal adalah proses, yang sulit adalah istiqamah.
Cara dapetin kuncinya: tombo ati, ada lima perkaranya :)