Kebinekaan yang Masih Awet Menjadi Gimmick (Studi Kasus pada Mimi Peri sebagai Influencer yang Nyentrik)
Tulisan ini dibangun setelah melihat suatu thread di twitter yang ditulis oleh @moehammadrifki tentang seorang influencer yang populer dengan nama Mimi Peri.
Pada thread tersebut dijelaskan bahwa Mimi Peri merupakan representasi individu dalam penguasaan diri tertinggi karena bisa bangga dan cinta menjadi dirinya sendiri di platform publik yaitu instagram yang dominan menampilkannya secara visual. Tidak banyak yang bisa menjadi seperti dirinya, berani menjadi orang yang siap menerima kritik saat jujur dalam menampilkan dirinya sendiri.
Thread tersebut seolah menyadarkan bahwa selama ini kita memang selalu berusaha mengubur jati diri agar memiliki image yang acceptable. Berbagai jenjang pendidikan pun juga 'hanya' mengajarkan kita untuk menjadi individu yang bisa di approve oleh masyarakat, mulai dari pendidikan di rumah hingga perguruan tinggi.
Kita diminta belajar calistung sedari piyik, kemudian masuk sekolah favorit, dilanjut dengan keharusan mendapat ranking, lalu masuk ipa, hingga memaksa diri masuk kampus negri. iya gak?
Dalam berpakaian pun kita tidak cukup berani dalam berekspresi,
"lo emang siape berani-beraninya gaya nyentrik semau lo?"
Begitulah kira-kira sentimen yang biasa dilakukan dalam kasus Mimi Peri atau kepada sodara yang berbeda lainnya akibat terlalu jujur mengekspresikan diri.
Seolah untuk nyentrik menjadi diri sendiri harus memiliki legitimasi terlebih dahulu sebagai selebgram, fashion blogger, desainer, hingga menteri kelautan.
Saya di twitter mengikuti akun @howtosuitup. akun tersebut berbagi tentang cara berpakaian supaya terlihat kece menurut 'mereka' atau lebih tepatnya kece menurut butik mereka. Mulai dari mix and match warna celana dan sepatu hingga melipat lengan kemeja yang benar.
grrr lipet lengan kemeja aje diatur atur!!
Tujuannya memang tidak salah, yaitu untuk menjadikan seorang pria berdandan stylish dan manly.
Tetapi darimana legitimasi stylish dan manly itu dibentuk? Siapa lagi kalo bukan oleh mereka yang yang berkepentingan yaitu para penyuplai sandang.
Mereka men-delivery hal tersebut lewat fashion show, majalah, film hingga endorsement. masyarakat yang tadinya awam akan terbiasa akibat terpaan yang diberikan terus menerus. Berdasarkan teori Advertising Exposure (Batra, Myers, and Aaker, 1996) apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakkan konsumen untuk membeli produk.
Oiya berdasarkan asumsi saya, serial film netflix Stranger Things yang berlatar tahun 80an juga merupakan salah satu propaganda pada segmen fashion, dengan jalan cerita yang b aja namun publikasi yang mentereng pada setiap sosmed oleh berbagai influencer, maka kita mau menikmatinya sambil melihat peragaan berpakaian dan kehidupan tahun 80an.
Tokoh Steve Harrington, Max dan Dustin berperan sangat menonjol dalam propaganda berpakaian ala 80an dan hal tersebut tidak akan aneh apabila dipraktekkan untuk saat ini karena kita sudah memiliki pihak yang menjadi instrumen penyesuaian dan disukai oleh banyak pihak.
Kesesuaian atau perilaku konformitas selalu dominan dalam mengambil keputusan saat memilih jati diri, terutama bagi kalangan remaja. Menurut Kartono dan Gulo (2000), Konformitas adalah kecenderungan untuk dipengaruhi tekanan kelompok dan tidak menentang norma-norma yang telah digariskan oleh kelompok. individu melakukan konformitas terhadap kelompok hanya karena perilaku individu didasarkan pada harapan kelompok atau masyarakat.
Namun idealnya norma sosial bukan menjadi alasan bagi masyarakat yang kesulitan dalam menghadapi individu yang berani beda, berani jujur, dan berani mengekspresikan diri sendiri. Malahan bukan juga melalui kritik yang lebih kearah cyber bully.
Tulisan ini dibuat bukan untuk justifikasi sebuah patologi sosial yang dianggap makin merebak saat ini, namun hanya ingin menyadarkan bahwa masing-masing individu memang unik dan berbeda.
Norma mengatur supaya perbedaan dalam masyarakat tidak menimbulkan kekacauan atau ketidaktertiban yaitu sebagai sistem pengendalian sosial. Tapi sayangnya cyber bully yang dilakukan demi upaya pengendalian sosial juga masuk dalam kategori patologi sosial.
Jangan sampai kita terbiasa melakukan faking good hanya sebagai upaya mencari approval di masyarakat.
Norma sosial tetap harus dihargai, hal itu juga sebagai upaya kita menjaga keteraturan yang ada dalam masyarakat. hal ini juga bukan berarti membuat kita lupa untuk selalu kritis demi terciptanya civil society atau masyarakat madani. Menurut Nurcholis Madjid, masyarakat madani adalah masyarakat yang majemuk namun bersatu dalam sikap toleransi satu sama lain. Dan secara khusus masyarakat madani dicirikan sebagai masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah SAW ketika membangun peradaban Islam dikota madinah
Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar maupun persatuan dan kesatuan. Adapun cara pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik. Dalam rangka membangun “masyarakat madani modern”, meneladani Nabi bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya. (Badar, 2013)
Semoga kebinekaan atau keberagaman bisa lebih konkrit dalam implementasi dan tidak melulu menjadi komoditas yang hanya menjadi alat simbolik dan politis terhadap satu segmen saja, tetapi juga untuk hal lainnya seperti menghargai perbedaan karakter manusia, menghargai orang yang memiliki preferensi minat yang unik, hingga menghargai orang yang meminta jalan saat keluar gang.
mengerem dan berhenti 10 detik saat memberi jalan kepada orang berkendara yang ingin keluar dari gang tuh gak rugi-rugi amat kok, pun juga dengan ngasih nyinyir kepada orang-orang yang jujur, unik dan berbeda gak akan bikin laba meningkat layaknya biskuit khongguan saat lebaran.