âSeseorang yang tidak bisa menerima kekuranganmu, dia juga tidak layak mendapatkan hebatmu.â
Begitulah kurang lebih bunyi kata-kata mutiara yang bersumber dari seseorang penulis ternama.
Sesaat, ungkapan ini indah. Menginspirasi. Mengajari sesuatu. Tapi, tunggu sebentar. Izinkan saya menelaah dan memberikan dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Ungkapan/kalimat mutiara ini apabila diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, akan menimbulkan beberapa hal yang tidak semestinya.
Dalam kasus rumah tangga, pasangan hidup mau atau tidak mau menerima kekurangan kita, kita harus tetap memberikan âhebatâ kita padanya, mencurahkan yang terbaik untuknya. Serta memperjuangkan yang terindah baginya.
Rumah tangga bukan perdagangan, bukan jual beli. Ada uang ada barang. Ada âkelebihanâ ada cinta. Ada âkehebatanâ ada sayang, bukan.
Rumah tangga adalah ibadah. Pasangan hidup kita bersedia mentolerir kekurangan kita atau tidak, kita tetap memberi âkehebatanâ kita, kebaikan kita. Karena memberi yang terbaik pada pasangan hidup adalah ibadah. Dan, diantara jenis ibadah ini ada yang setingkat wajib, ada yang mustahab (yang sudah menikah pastilah paham hal ini)
Misalnya, seorang istri tidak bisa menerima kekurangan suami dalam satu perkara tertentu. Apakah kemudian, seorang suami lantas tidak memberikan yang terbaik bagi istrinya?
Begitu pula sebaliknya, suami tidak bisa menerima kekurangan istri dalam bidang tertentu. Apakah lantas sang istri tidak mencurahkan yang terbaik bagi suami?
Pernikahan adalah ibadah. Karakter dasar dan fitrah manusia memang tidak mengharapkan adanya kekurangan pada pasangan hidupnya.
Namun, bila pasangan hidup kita belum bisa menerima kekurangan kita, serahkanlah itu kepada Allah, sambil terus berusaha membenahi apa yang bisa dibenahi dari kekurangan kita. Namun, seiring dengan itu, memberikan âhebatâ kita pada pasangan hidup tetaplah harus ditunaikan.
Karena mempersembahkan yang terbaik bagi pasangan hidup adalah ibadah yang tentu butuh keikhlasan mengharapkan wajah Allah semata.
Saya sependapat dengan tulisan ammi ahmad yang saya dapatkan setahun lalu. Semoga Allah memberkahi rumah tangga beliau.
Suami istri itu adalah pakaian. Yang mana sang istri adalah pakaian suami, dan suami adalah pakaian istri. Artinya mereka harus sama-sama melengkapi, menutupi kekurangan satu sama lain.
Saya masih ingat seorang teman menangis kala itu ketika membaca tulisan ini. Dia mengatakan bahwa alasan hingga kedua orangtuanya bercerai salah satu alasan terbesarnya adalah ibunya tidak bisa menerima kekurangan ayahnya yang hanya lulusan S1. Ibunya menilai, bagaimanapun laki-laki haruslah lebih tinggi dibandingkan dengan seorang perempuan.
Di sisi lain, ayahnya bekerja keras mencukupi kebutuhan rumah tangga dan biaya kuliah S2 ibunya. Namun setelah ibunya lulus dengan S2nya, ibunya malah menuntut banyak hal dari ayahnya. Percecokan setiap hari selalu teman saya dengar, perihal si ayahnya yang tidak bisa mengimbangi ibunya. Padahal jika mau dilihat dari perjuangan ayahnya, harusnya ibunya tidak bersikap demikian.
âSepasang suami istri itu harus saling menghebatkan, nis. Ketika nantinya kita memutuskan untuk membersamai seseorang pilihan kita, maka apapun tabiat dia. Kita musti harus saling menghebatkan. Saling melengkapi, saling menasehati, saling menguatkan. Suami pakaian untuk istri dan istri pakaian untuk suami. Itu yang akan aku lakukan nanti ketika memutuskan untuk menikah. Aku gak pengen kayak papa mama yang akhirnya memutuskan berpisah hanya karna salah satu dari mereka tidak bisa menghebatkan pasangannya.â jelasnya sambil mengusap airmatanya.
Setiap pasangan pastilah memiliki kekurangannya. Namun, bukan berarti tidak bisa memberikan âhebatnyaâ terhadap pasangannya. Syukuri setiap kelebihan dan kekurangannya, sebab jauh-jauh sebelumnya dia adalah seseorang yang rela memberikan waktunya, cintanya, egonya untuk membersamai kita..
16 Ramadhan 1438 H || 11.06.17