Perihal hati, mungkin aku telah kalah untuk urusan mendapatkan pengganti. Tawa dan senyum telah menghiasi harimu akhir-akhir ini. Melepasku kau (lebih) bahagia rupanya.
Namun toh nyatanya aku tak peduli bahagiamu dengan siapa saat ini. Sebab aku ingin sembuh dulu, merapikan yang sempat kau buat berantakan. Aku tak ingin buru-buru sebab jodoh akan selalu tepat waktu.
Bukankah bahagia tak perlu bersaing, siapa yang mendapatkannya lebih dulu? Aku menikmati setiap fase kehidupanku, sejak kau memilih pergi bahkan memilih penggantiku dengan cepatnya.
Jika kau menuduhku tak bahagia karena tak kunjung mendapatkan pengganti, kau salah besar. Bagiku bahagia adalah menikmati proses tanpa menyesalinya. Bagaimana aku melepasmu dengan tangis hingga sekarang menikmati kesendirianku dengan tawa.
Kau benar, bahwa bahagia telah ditetapkan sesuai masanya. Dan selepasnya maka hanya dengan tabah menjalaninya. Fase terberatnya adalah bangkit dari keterpurukan, bangkit untuk berbenah dari keberantakan. Dorongan bangkit itu entah dari orang tua, teman, orang baru, atau bahkan diri sendiri. Yang penting harus bangkit.
Kelak kita akan menertawakan hari ini, dimana pernah ada tangis yang tumpah namun disuatu hari akan menyesali bahwa seharusnya tak perlu menangisi orang yang salah. Di hari itu kita akan berbahagia, karena tangis di masalalu telah mengantarkanmu untuk menemukannya. Selamat menuju bahagia, untukmu.