Jadi yang terbaik itu bukan jaminan kebaikan !!!
Anak pintar, nilainya bagus, dipuji disekolah, itu ga penting, selama tidak menyusahkan orang lain . yang penting dia bahagia, Itu yang bakal bikin dia bertahan dan baik2 saja dengan tuntutan materi ajar yg makin naik levelnya dari hari ke hari. Makanya pas pulang sekolah jangan langsung nanya nilainya berapa? Tapi tanya dulu "tadi seneng ga di sekolah...?"
Sy pernah pny siswa yg nilainy bagus tp dia tertekan dan stres-an, ... ternyata emang dia selalu diajari buat self value oriented sm ortunya. Dan bener emang makin hari prestasinya naik terus tp itu berbanding terbalik sm hub. Sosialnya. Dia jd lebih individualis, kurang care dan tdk mau berbagi dengan teman, gampang kecewa dan iri hati. Kalaupun diluar tampak baik tapi kebanyakan cenderung memendam dan punya dua kepribadian. Kecuali mereka yang beriman...
Anak, mereka adalah manusia yg kelak akan disebar ke masyarakat dengan berbagai profesinya sebagai agen sosial . Oleh karena itu biarkan mereka untuk mudah menjadi bahagia tanpa banyak syaratnya. Sebab bila mereka sendiri belum bahagia bagaimana kelak mereka akan bisa memberi manfaat dan membahagiakan orang lain.
Itulah penyebab besar profesional di zaman ini, banyak yang kurang tulus dengan profesinya. Kek kurang berkah, susah cari sukarelawan, kecewa kalau tidak dihargai, selalu ingin pengakuan dan mengejar posisi tertinggi. Sebab itu berangkat dari pola pikir "duku aku udah lelah dan susah, berjuang lebih dari yang lain, kerja keras buat sampai disini, sehingga kriteria2 itulah yang layak aku dapatkan, aku ga terima kalau tidak dihargai" padahal kan jika ditinjau dari sudut pandang iman ga ada usaha yg sia2 meskipun tidak kembali dari arah yang sama pasti pasti ada balasan yang lebih baik disisi tuhanNya. Cuman ya itulah efek buruk lainnya orang2 kayak gitu jadi menilai sesuatu dengan materi dengan harga dunia dan harus saat itu juga .
Ingatlah mak tentang pentingnya ikhlas sejak awal. Mengajari ikhlas sebelum memberi tanggungjawab dan syariat. Dan itu harus dimulai dengan mengenalkan tauhid, karena tanpa iman tidak akan ikhlas, dan tanpa ikhlas semua adalah beban. Ketahulilah mak bahwa derajat tertinggi yang dihargai makhluk bahkan hukum alam secara otomatis adalah ikhlas. Bahkan mutlak di sisi Allah bahwa orang terbaik akan kalah dengan orang ikhlas. Bahkan iblispunpun (petinggi2nya syaitan) tidak dapat mengganggu orang2 mukhlis (ikhlas) .
Iblis menjawab, "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." [ShΓ’d/38:82-83].
Makanya ga perlu tuntut anak kita tuk jadi yang terbaik tapi ajari mereka menjadi yang paling ikhlas. Sebab ikhlas itu sendiri yang akan memberikan, menjadikan mereka yang terbaik... Di sisi makhluk dan Tuhannya. Bahkan bila tidak di sisi makhluk... Tapi tetap di sisi Tuhannya bukankah itu kedudukan yang paling utama yang di damba setiap hamba karenanya jaminan di dunia dan surga.










