Mencintai Sepi
Sayap-sayap burung mengepakan diri terbang ke langit biru yang murung. Bersamaan dengan lemah jiwa yang ia bawa. Tak ada sesuatu yang istimewa.
Sedaritadi memandangi sekeliling sembari mencari hal yang harus ada, namun nyatanya tidak ada. Lalu ia bertandang di atas pohon yang rapuh dan tua. Merebah bersandar sejenak..
Aku melihat kejadian itu dari jauh, tepat di seberang sana yang sedang duduk di atas dipan bale seorang diri. Seakan-akan burung itu menemani, namun masing-masing.
Inilah sebuah imajinasiku saat membayangkan hal itu terjadi padaku, suatu hari nanti.
Duduk sendiri, menikmati sepi. Menghirup keheningan yang pekat. Hanya semilir angin yang meniup dedaunan, sampai pohon ikut bergoyang seperti alunan suara yang merdu tanpa nada. Tenang dan menghanyutkan.
Kemudian, menyesapi segelas coklat manis yang hangat. Bertemankan pena dan buku, menulis atau menggambar semua apa yang ku lihat-ku dengar dan ku rasakan.
Sebuah momen langka sederhana yang sangat ku dambakan. Sebab, realitanya bahwa diriku kini sedang berada di atas ranjang dalam posisi merebah sambil mengawasi amanah penciptaku yang tengah asyik bermain.
Diriku disini, hanya bisa merenungi hayalan yang tak tahu pasti kapan itu terjadi. Aku yakin, akan Allah takdirkan.
Mencintai kesepian terkadang adalah nikmat yang besar bagiku. Sebab, darinya aku merasai kesederhanaan dalam meraih kebahagiaan tak ternilai.
Tangsel, 22/11/2023 | MKH (Catatan Senhula)















