2014 telah bermuara ke peraduan terakhirnya. Angka ganjil yang menggenapi kala revolusi bumi kulalui tanpa kembang api, terompet, dan komplotannya. Senada dengan 364 hari yang kubiarkan berlalu dengan mengimitasi rumus air mengalir.
Rasanya, tak ada yang istimewa di tahun ini. Jalan di tempat. Aku masih menjadi Sefti si Ahli Madya penunggu SK—yang akan mengubah hidupku menjadi punggawa keuangan yang seutuhnya. Sepanjang tahun kulalui dengan berkhayal Akan ku-apa-kan gajiku nanti? Atau ketika hantu pesimisme datang Berapa puluh tahun aku harus bekerja sebagai PNS agar bisa kaya?
Genap sepuluh bulan pertama di 2014 aku mengisi waktu luangku yang terlalu banyak dengan bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Keputusan yang setengah benar setengah salah. Benar karena aku bisa menyambung hidup tanpa bergantung pada orang tua dan mulai bermimpi menabung uang gaji untuk masa depan. Salah karena waktu luangku yang semula berlimpah ruah malah ludes tak tersisa. Mimpi menabung pun kandas oleh kejamnya Ibu Kota.
Sepuluh bulan bukanlah waktu yang sebentar, terjebak dalam rutinitas memeriksa laporan pendapatan hingga merekayasa laporan keuangan. Namun, bak sekedip mata jika dilalui bersama makhluk-makhluk luar biasa yang dihadiahkan Tuhan untukku di sana. Kontribusi si Emak (julukan untuk financial controller di sana) tak terelakkan dalam pembentukan kekompakan kami. Tanpa bermaksud mendiskreditkan si Emak, tiraninya berhasil membuat kami, para kurcaci, menyatukan kekuatan untuk memberantas kezaliman, yang seringnya berujung hanya sebatas tawa saat makan siang.
Aku selalu bersyukur, arusku sempat terbendung di sana. Tempat kutemukan pula seseorang yang membuatku lebih mencintai Indonesia. Tanah airku. Sekolah memang mengajarkanku arti nasionalisme, tapi cinta ‘tanah’ dan ‘air’ yang sesungguhnya kudapati darinya. Lima puncak yang mungkin hanyalah awal. Petualangan kami memberiku kuliah baru. Hidup itu hanyalah sebuah perjalanan. Perjalanan cinta kepada sang Maha Pencipta dan ciptaan-Nya.
Aliran kisahku begitu tenang, namun menghanyutkan. Di sisi lain dari hikmah perjalanan, tak kupungkiri, aku terbuai dalam rengkuhan hangat si metropolitan. Ia telah meninabobokanku dari kenyataan. Kenyataan bahwa komitmen menabungku binasa untuk membeli gaya hidup. Akhirnya, ketika panggilan untuk ‘bakal calon’ itu datang, kuputuskan untuk memulai karir di kampung halaman. Practically, bukan aku yang memutuskan. Aliran air hanya mengikuti arus, bukan? Ya, atas permintaan Kanjeng Ratu pemegang tahta tertinggi kekaisaran keluargaku, aku terkutuk di kantor penghimpun pajak yang paling dekat dengan rumah. Satu jam perjalanan jika tidak macet. Dekat bukan?
Dua bulan yang menjadi katup memori 2014 ternyata tak seburuk yang kubayangkan. Kutukan bertuah. Setidaknya, dalam hal penghidupan. Mengingat honor calon pegawai negeri yang sekadar Alhamdulillah, aku mendapat penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sarapan di rumah, bekal makan siang tersedia, tak perlu repot menolak ajakan makan makanan berkelas—karena tak ada, dan banyak pilihan jajanan bermutu di depan kantor-sementara-ku ini. Cilok. Makanan favorit kami.
Menurutku, manusia adalah makhluk yang suka kejutan dan menantikan tantangan. Dua bulan yang dilalui hanya dengan berosilasi dari rumah ke kantor dan sebaliknya ternyata hiper-membosankan. Setiap kali aku meloncat, bumi selalu menarikku dengan gravitasinya. Ingin memberi makna untuk orang lain, namun kerap sibuk mencari makna atas diriku sendiri. Idealisme kian hari kian terkikis. Integritas yang dulu lantang disuarakan, kini terdengar samar-samar. Satu-satunya hal yang kucintai dari pekerjaanku hanyalah dua jam perjalanan pulang dan pergi.
Aku sangat menikmati perjalananku menuju kantor. Disapa oleh sejuknya semilir angin pedesaan, direlaksasi oleh harumnya embun pagi, diantar oleh senyum mentari yang beringsut naik malu-malu . Hebatnya lagi, aku dikawal oleh gunung salak dan gunung pangrango yang seakan melambaikan tangannya men-dadah-i-ku. Begitu pula di perjalanan pulang, bedanya, temaram menambah romantis kepulanganku. Lampu-lampu rumah di kaki gunung satu-satu muncul menambah kecantikan hari yang menjelang terlelap. Dan, yang lebih aku cintai lagi ketika hujan turun mendamaikan bumi. Bagiku, hujan mampu merobohkan keangkuhan manusia. Ketika hujan datang, semua manusia mencari tempat perlindungan. Tanpa kita sadari, kita telah kalah oleh hujan. Bahkan, kita lebih lemah dari sekadar rintik-rintik air.
Pada akhirnya, dua bulan kulalui penuh rasa syukur. Dan, tibalah hari ini. Hari di mana resolusi tahun 2014 seharusnya sudah semua terpenuhi – yang bahkan aku sendiri tak membuatnya. Hari ini menuntut resolusi baru untuk 2015 yang lebih baik. Mimpi. Tujuan dengan deadline. Mungkin, aku akan tetap menjadi si penunggu SK. Tapi, tak akan kubiarkan kisahku terbawa arus begitu saja. Akan kuciptakan arusku sendiri. Arus yang tenang, damai, dan membuat siapa pun ingin bermuara bersama.
Menjadi hamba Tuhan yang selalu ingat kekalnya akhirat. Permaisuri yang patuh pada Raja dan Ratunya. Calon lalu menjadi mantan calon PNS yang gaul dan bermartabat. Menjadi makhluk sosial yang benar-benar berjiwa sosial. Pemilik golongan darah B yang tidak cuek dan menjaga perasaan orang lain, ehm.. dan perasaan sendiri. Cewek Gemini yang rajin menabung. Selalu mencintai tanah dan air tempat kuberpijak. Menjalin persahabatan karib dengan gitar dan keyboard. Woman of letters. Maha-siswa.
Pengembaraanku di tahun ini, siap aku mulai.