Ada musim yang diam-diam tinggal lama, menitipkan jejak pada hari-hari yang kita lalui. Pagi pernah terasa begitu dekat, seolah waktu berjalan lebih pelan dari biasanya.
Lorong-lorong hari menyimpan banyak suara, tawa yang pernah memantul di dinding kenangan. Langkah-langkah muda beriringan tanpa ragu, seperti tahu jalan ini akan panjang.
Namun waktu pandai menyamarkan perpisahan, ia menggeser hari menjadi cerita. Tanpa terasa musim itu telah menua, menguning seperti daun di ujung ranting.
Dan ketika angin akhirnya memanggil kita pergi, yang tertinggal bukan hanya tempatnya. Ada gema yang masih berbisik pelan, menyebut kenangan satu per satu.














