Bajingan
Tuhan?
Halo, Tuhan?
Halo, Tuhan ada?
Tuhan ada?
Ada?
Ada Tuhan?
Ada Tuhan di mana?
Ada di mana?
Tuhan?
Halo?
Dasar bajingan.
𓃗
almost home
ojovivo
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
The Bowery Presents

Kiana Khansmith
EXPECTATIONS
Monterey Bay Aquarium
YOU ARE THE REASON

Andulka
🩵 avery cochrane 🩵
RMH
sheepfilms

izzy's playlists!

blake kathryn
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

pixel skylines
Misplaced Lens Cap
Sade Olutola

seen from Netherlands
seen from Iraq
seen from Bangladesh

seen from Bolivia
seen from Russia

seen from Kyrgyzstan
seen from Chile

seen from Bangladesh

seen from Dominican Republic
seen from Argentina
seen from Italy

seen from Venezuela
seen from Brazil

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Bangladesh
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
@saatsenggang
Bajingan
Tuhan?
Halo, Tuhan?
Halo, Tuhan ada?
Tuhan ada?
Ada?
Ada Tuhan?
Ada Tuhan di mana?
Ada di mana?
Tuhan?
Halo?
Dasar bajingan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
13:21
Hampir setengah dua
Berarti kamu mati hampir tujuh jam
Cairan tubuhmu menetes setitik-setitik
Membuat marmer dan tembok jadi lengket
Nyawamu sebenarnya dekat
Disembunyikan setan di kamar mandi
Kamu beruntung
Setan itu alergi pada perangkat teknologi informasi
Jadi, sampai hampir setengah dua ini
Kamu bisa bermalasan-malasan
Sambil memaki nasib habis-habisan
Sebelum nanti malam
Maaf membuatmu menjilat marmer dan tembok
Yang akan kamu injak lagi besok
Sampai lebih dari setengah dua
knowing every particular objects
tahu sedikit merangsang laku untuk mencari tahu lebih
walau awalnya tidak peduli dan tidak mau tahu
lalu sekarang berpikir bahwa lebih baik tidak tahu
Kedatangan Berang
Laku
Merusak
Rasa
Maka
Tatkala berang yang semula berselindung dalam rubanah batin muncul ke pangkal hidung,
tak ada yang kuasa meredamnya.
Perihal Hari #1
Aku sedih pada malam yang disalahpahami. Aku benci pada pagi yang kau anggap suci.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Protes
Puaskah Kau,
Dengan kegagapan yang tampil pada karanganMu?
Requiem
“On a day like this
do not die just yet, please.”
Di Meja Kerja
Waktu tidak tersedia
Bagi sepi di ujung jari
dan pada anak panah yang kau tekan
Karena oleh tirai putih penuh perihal
dan jejeran angka yang telungkup pada jarak pandang
Maka pada awal hari
Kita lupa kita lelah
Menara Radius Prawiro, Bank Indonesia, 15 November 2017 06:36 WIB
Ufuk
Pada ambang yang sunyi, jagat berpesan
tanpa kata.
Hanya riak air, gesek daun, atau bayang gunung
yang mematung.
Atau sekadar pijar jingga
pada mega.
Kau buka mata, pada pagi
yang asing namun melingkupi.
Lamat-lamat kau dengar:
“Hiduplah, satu hari lagi.”
Muara Enim, September 2017
Harrumph

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Siap Saji
Kotak kaca berpendingin udara Menyajikan kegelisahan di atas nampan Potongan tubuh dan bau minyak panas Berangkat terburu-buru menuju mulut dan hidung yang lapar Kau menikmati pemandangan sadomasokis itu Mempertanyakan hasrat yang hadir di sana Di pucuk sumber salivamu Dinding lidahmu lebih tahu
McDonald's Taman Alfa Indah, 5 November 2015
Semalam
Bahwa dia bukan milikmu adalah hal yang niscaya.
Tapi mereka yang tidak percaya, terus merongrongmu tentang keberadaannya.
Selalu lantang kau jawab, "Tidak punya!"
Bahwa dia sering kau cari diam-diam adalah suatu yang lazim.
Kemarin kau diingatkan padanya, pada rumahnya di sudut-sudut rutinitas, pada hari lahir muka maya yang kau namai seperti namanya.
Lalu dia hadir dengan ganjil. Di antara terang temaram kamar hotel, dari balik berkas, dalam empuk alas kepala yang putih.
Barangkali mesti demikian agar kau bisa menulis,
“Selamat ulang tahun, Saat Senggang.”
Untukmu yang lahir pada 27 April setahun lalu. Palembang, 29 April 2015.
Di Zalongo
Suatu epilog yang miris: perempuan-perempuan Souli, saat tangan-tangan mereka dengan entengnya mendorong darah dagingnya sendiri ke mulut jurang, sebelum mereka bernyanyi dan menari untuk kemudian turut loncat menjemput ajal.
"Perempuan-perempuan gila!”, hakimmu, “Tak bermoral!"
Kemudian tanyaku: “Adakah yang lebih amoral dari perbudakan anak dan perempuan Souli?"
Di momen itu, sepertinya raungan tak lagi mampu menggambarkan horor yang hadir, maka perempuan-perempuan Souli cuma bernyanyi dan menari.
Saudade: Epitaf
Jarak: suatu terberi yang hadirnya merupakan kepastian. Sedekat apapun dua benda atau jiwa, selalu ada ruang yang menengahi. Kutukan ini: Bangsa Portugis menamainya Saudade, suatu rindu yang tak terperi, namun tak terjamah. Suatu yang ada, namun tak tergenggam. Suatu yang dinikmati lamat-lamat bayangnya, namun tak kunjung hadir wujudnya.
Bagi Bapak, itu ialah epitaf di fitur catatan telepon genggamnya; sebuah parade nama dan berbaris angka:
“Oma (Maria)
Lahir 17 Des 1919 – Wafat 8 Des 1972
(53 tahun kurang 9 hari)
Opa (Lukardi Bachtiar)
Lahir 4 Des 1909 – Wafat 21 Jun 1999
(89 tahun 6 bulan)
Chyntia
Lahir 3 Feb 1957 – Wafat 20 Des 2007
(50 tahun 10 bulan)
Kiki
Lahir 8 Jun 1952 – Wafat 4 Sep 2006
(54 tahun 3 bulan)
Loky
Lahir 15 Okt 1948 – Wafat 13 Maret 2013
(64 tahun 5 bulan)”
Di saat ingatan tak lagi jernih dan nama-nama mengabur, Bapak hanya mau yakin mereka yang dulu ada teringatkan. Bapak cuma tak mau lupa dengan caranya sendiri; jangan sampai terhapus oleh kepalanya sendiri.
Aku hendak tahu bagaimana rasanya ketika saudade yang kita ciptakan melambai dari seberang pandang, di depan layar beberapa senti dari cembung bola mata?
Akan kutanya Bapak kelak, sebab dia tahu rasanya.
Ranjang Schrödinger
Barangkali mati adalah sekat tutup kardus, dan Tuhan ialah kucing. Untuk beberapa waktu, kucing itu hidup sekaligus mati; ada sekaligus tiada. Tapi saat sekat tutup kardus bersibak, kenyataan hadir: Tuhan baka atau fana.
Benar tampaknya kata-kata Subagio: Kematian hanya selaput / gagasan yang gampang diseberangi.
Kematian hanya sekat tutup kardus, materi yang mudah dilewati.
Maka dunia bukanlah sang kotak, melainkan semesta segala di luarnya. Kita mencoba menerobos ke dalam untuk menjawab pertanyaan masing-masing: apakah kucing itu ada?
Lebih setengah abad lalu, Schrödinger menerobos sekat tutup kardus itu. Ia telah menjumpai kucingnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di Sisi Lampu Jalan
Ada malam yang seperti teman: dia biarkan kamu melihat, tanpa menghakimi yang diperbuat. Sunyi. Namun menghantui.
Seperti petang ini di Jalan Sabang. Aku sedang di ibukota. Aku mampir, bukan pulang.
Dia mungkin sedang lelap. Kulitnya sawo matang, pekat. Bau tubuhnya tak sedap, seakan ada benda busuk yang lekat. Memandangnya, kamu bertanya: adakah khianat kota ini padanya?
Kamu tak bisa tak memerhatikannya. Dia ada di depan toko yang sudah tutup. Tengkurap. Dekat sinar lampu jalan yang remang-remang, yang menyoroti kumal kausnya. Celananya lusuh.
Hartanya yang paling bernilai terhimpit antara semen toko dan pahanya. Ujungnya muncul malu-malu, yang satu berwarna kuning dan yang satu hitam. Dua sandal jepit itu dipaksakan biar sepasang, biar bisa menjaga telapak kaki dari panas aspal dan kerikil tajam.
Pintu kedai kopi di sebelah toko terbuka. Dua orang keluar bergandengan tangan. Seorang dari mereka melempar botol plastik ke gerobak dekat badan yang tengkurap. Kaki mereka yang dilindungi sepatu ber-sol, melangkah cepat-cepat.
Aku hanya melihat. Dia mungkin sedang lelap.
Maka malam di ibukota akan selalu begini. Yang lelah akan bersandar pada sudut-sudutnya, sementara yang perlu akan bercumbu. Keduanya sama: ditemani terang yang palsu.
Tepi
Sensasi itu: saat matahari belum kuat memanggang bumi dan memar langit tampak mengisi seluruh celah pandang di sela-sela pepohonan. Kau mungkin baru saja bangun, dengan wangi apak di mulut dan odor semi-kadaver yang meruap. Nyawa masih tercecer, masih kau punguti. Namun semua tidak masalah, sebab waktu masih banyak. Hari baru beranjak dari tepi.
Ada rasa seperti terasing yang aneh yang hadir di beberapa pagi: seperti sendiri, namun terlingkupi. Di menit-menit itu, di muka hari, semua tampak serba tak tergesa-gesa. Saat bulir embun masih pula menurunkan suhu. Tenang, damai. Pelan. Khusyuk.
Namun siapa sangka pagi pernah juga alpa. Pagi pernah mempermainkan. Pagi ternyata pernah ingkar.
6 Agustus 1945.
9 Agustus 1945.
11 September 2001.
26 Desember 2004.
Pada pagi-pagi itu kita menjadi berpikir: barangkali pagi bukan ujung lain mulut gua yang menawarkan sinar; barangkali ia hanya celah kecil di lelangit gua di mana cercah menyelisip masuk, untuk kemudian kembali pekat. Maka hening, biru, dan embun tidak akan selalu menyapa setiap pagi; ia tak selalu mampir di balik pintu.
Malam di Sayan, satu Mei, dua tiga satu dua.