Mungkin Harusnya Usai
Sejenak semua menjadi hampa. Tak pernah beribu tanya ini terurai. Hanya sedikit sesal yang kurasa hingga kini tak kudapati lagi balasmu. Mungkin aku terlalu naif untuk mengakui bahwa sakit ini menguasaiku.
Berjuta jerit tertahan. Masihkah ada waktuku melihat matamu yang indah, setidaknya untukku. Mungkinkah namaku terlewat sedikit saja di kepalamu? Bolehkah aku mengharapkan engkau lebih dari kemarin hari? Apakah ada kita di tengah kekosongan ini?
Rasanya setiap saat selalu berharap ada engkau berdiri dihadapanku. Karena menggambar sosokmu dalam goresan gambarku, tak cukup mengobati kerinduan ini. Ya, ternyata aku merindukanmu. Rasanya aneh.



















