Ini bukan sekali yang kurasa. Lagi-lagi pikirku bertengkar, menyusun sangka yang salah. Salah karena diturutkan nafsunya. Tidak. Ia tak mungkin mengkhianatiku. Dan semua sangkaku adalah kebohongan rasa. Berat kupandangi bayang-bayang pukaunya. Mereka menari lalu perlahan memudar, menguat kembali, dan memudar lagi. Kusandarkan kepalaku di atas meja jahit. Dan bulir itu menelisik keluar, mengubah ketenanganku menjadi isakan. Haruskah aku bertanya? Siapa yang kamu temui hari itu? Tidak. Apakah kamu bertemu seseorang? Atau apakah kamu bertemu dengannya? Pertanyaan demi pertanyaan menderas. Meski kutahu aku tak mungkin menanyakannya. Aku seperti si bodoh yang pasrah. Dan seakan hilang kenalku tentangnya. Bodoh. Dia akan selalu menjadi dia. Dia yang kamu kenal. Dia yang kamu tahu. Dia yang kamu rasa. Bermenit-menit isakku bertahan. Mengubah setiap kenangan menjadi genangan. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Dia akan selalu menjadi dia. Hingga hilang sadarku. *** Aku mengerjap. Merasakan sisa-sisa air mata yang menggenang. Aku menangis? Ya ampun. Aku sudah berjanji tidak ada lagi tangisan bersebab lelaki yang belum tertakdir untukku, dan aku menangis? Perlahan sisa-sisa kesedihan itu berubah menjadi tawa. Hey, kamu bukan siapa-siapanya. Masa lalunya pun bukan. Adakah hakmu memintanya sesukamu? Bahkan menyangka pun kamu tidak berhak. Lucu. Hahaha. Lucu. Kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuhembus perlahan. Ini tentang rasa yang menguat. Tapi kuingat, seperti kain yang harus kusatukan dengan benang di atas meja jahit ini, rasa itu harus terjalin sempurna dengan ikatan suci. Maka tentang rasa yang menguat, kurasa ini masih berupa sisa-sisa mimpi tadi malam. Bayangannya yang begitu dekat. Ah, apa yang sedang kukhayalkan? “Mala, makan siang dulu! Dari tadi Emak panggil kok ya gak nyautin?!” suara Emak menambah kesadaranku. Dua hari ini Emak mudah marah. Bersebab aku yang tidak tahu diri membatalkan secara sepihak pernikahan malam itu. “Eh, maaf, Mak. Gak dengar..” aku segera beranjak meninggalkan meja jahit. Dan segala kesedihan yang tak tahu dari mana sumbernya. Aku harus bahagia. *** Di meja makan, lagi-lagi Bapak menatapku dengan tatapan sinisnya. Sudah lima kali ia menatapku seperti itu sejak malam itu. Kuambilkan sepiring nasi untuknya, juga untuk Emak. “Kamu itu maunya apa? Tiba-tiba kabur, balik-balik nangis. Menggagalkan seluruh rencana. Memalukan Bapak dan Emak,” katanya. Aku terdiam, tak sanggup kutatap wajah Bapak, dan kesedihan tak bersumber itu kembali menyeruak. Ini sudah ketiga kalinya Bapak mengulangi perkataan yang sama. Seakan-akan ingin menyadarkanku, bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar. Kepalaku sakit. Kembali bulir-bulir itu membasahi pipiku. Dan untuk pertama kalinya aku ingin angkat bicara. “Pak,” panggilku. Aku mengangkat wajah dengan sisa-sisa keberanianku. Bapak dengan geramnya masih menatapku dalam-dalam, “apakah dulu Bapak menikahi Emak karena cinta?” Kulihat alis Bapak yang terangkat, kuteruskan, “Mala lihat Ilham tidak tulus ingin menikahi Mala. Dan Mala pun tidak memiliki ketulusan barang setitik pun untuk menikah dengannya..” Bapak kemudian memalingkan wajahnya ke arah Emak. Lalu menatapku lagi, “apa yang kurang dari diri Ilham?” Aku terdiam. “Kalau kamu tidak mau, seharusnya sejak awal kamu bilang, bukan mengulur-ngulur waktu, kemudian menyerahkan kepada Bapak. Lalu akhirnya dengan seenaknya kamu kabur begitu!” Isakanku semakin keras, tapi aku berusaha berbicara sejelas mungkin, “Mala juga gak tahu, Pak. Tiba-tiba Mala seperti tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan…karena Mala sudah mencintai lelaki lain.” “Siapa?” tanya Bapak. Aku masih terisak sampai Bapak menanyakannya tiga kali. “Ia kenalanku, namanya Yahya,” ucapku pelan. “Lalu? Cintamu bertepuk sebelah tangan?” tanya Bapak lagi. Pertanyaan itu menghunjam tepat di jantungku. Aku menunduk. Meremas bajuku di balik meja, “gak tahu, Pak.” “Kamu ini lho, datang yang pasti kok nyarinya yang gak pasti,” ujar Bapak. Emak memegang lengan Bapak, mengisyaratkan agar kita makan terlebih dahulu. *** Aku memutar kembali ingatanku. Ketika aku berlari ke stasiun, dan langkahku tertahan melihat sosok yang kunanti. Lalu bergerak mundur setelah menyadari ada seseorang yang membersamainya. Dress-nya yang berwarna peach, nampak anggun, dan kurasa aku mengenalnya. Tidak salah lagi, aku mengenal perempuan itu. Lalu sedang apa mereka? Aku menggelengkan kepalaku. Bahkan yang kutahu selama ini hanya ada aku dalam benaknya. Keyakinan itu yang membuatku bertahan pada rasa yang semakin tersemai. Disemai pula olehnya yang dengan beraninya menghubungiku kemarin sore. Membuka percakapan hangat. Dan rasaku semakin menganga karenanya. Oh, Tuhan… Aku merapikan helaian benang yang berserak di lantai. Tertiba pintu terbuka; Emak. “Neng, ngobrol sama Emak, ya? Sini..” perintahnya. Aku duduk di samping Emak di kasur, disambut dengan rangkulan hangatnya. Sungguh, ini jarang sekali terjadi. Emak jarang sekali mendidikku dengan kelembutan sentuhan fisik. Kali ini aku mengerti, Emak ingin aku berbagi masalah dengannya, ia ingin menjadi penguatku, dan ia ingin mengerti apa yan sedang kualami. Aku menunduk, bersiap mendengar apa yang akan ia sampaikan. “Mala, rencana Allah itu indah. Emak yakin apa yang terjadi kemarin adalah satu hal dari rencana Allah yang akan merangkai satu takdir yang indah pula nantinya. Hal yang kamu rasa buruk, jangan kamu ulangi lagi. Tapi jangan menyesali takdir ini. Berat memang mengingatnya, tapi ini sudah terjadi. Yang Emak inginkan sekarang adalah kamu ceritakan masalah yang sedang kamu hadapi, dan kita cari solusinya bersama,” aku tak menyangka Emak bisa berbicara sebegitu bijaknya. Tapi, apakah aku harus bercerita tentang perasaanku padanya? Ah, memalukan. Emak menunggu ceritaku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menghilangkan rasa cemas dan mengembalikan jiwa kekanakanku. Aku sedang berbicara dengan seorang Ibu. Lalu mengalirlah cerita itu. Pertemuan pertama kami, obrolan kami, bagaimana sikapnya padaku, dan segala definisi rasa yang terjadi dalam relungku. Juga pertemuan di stasiun malam itu. Emak mendengar dengan seksama. Aku seperti melihat wajah yang berbeda. Emak sedang berusaha menjadi sahabat bagiku. “Neng, yang harus kamu ingat. Sampai ijab qabul belum terjadi, maka takdir itu belum jatuh. Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu, karena yang Maha Menetapkan segala kebaikan adalah Allah. Dia Yang Maha Tahu segala yang baik dan segala yang buruk untukmu. Jika laki-laki itu baik untukmu, jalan takdirnya akan dibuka. Maka jangan pernah berprasangka terhadap perasaan manusia, karena yang tahu hanyalah dirinya dan Allah,” kata Emak dengan penuh penekanan. Aku menatap lamat-lamat ujung kakiku. Menyadari betul bahwa akulah yang telah menodai perasaanku sendiri dengan segala sangkaan. Bodohnya aku. PING! Kulirik ponsel di samping kananku, dan kalimat itu lagi-lagi terpampang jelas. kalimat itu lagi-lagi terpampang jelas. Mendesirkan hatiku. Hai, Bimala :)