Nikah? Cerai?
Mengapa perceraian menjadi hal yang makin sering kita dengar akhir-akhir ini?
Apakah ini bukti egois manusia meninggi? atau ini menunjukkan ada yang salah dengan pola komunikasi personal, interpersonal dan intrapersonal manusia dewasa hari ini? Sebagai manusia dewasa yang belum menikah, dua pekan terakhir diisi oleh kalimat "jangan menikah karena cinta, gunakan logika". Sementara ketiganya saya kenal sebagai orang yang tidak mengedepankan cinta diatas segalanya, dan its not work. Menikah dalam Islam bukanlah perayaan cinta tapi gerbang ibadah baru, secara teorinya seperti itu. Dua orang dewasa yang sepakat bersama dan tumbuh didalamnya, jika merunut pada kisah Rasulullah atau sahabat, pernikahan dimulai dari kesiapan mental bukan usia, mental bertanggung jawab dan tumbuh dari laki-laki dan mental taat dan tumbuh dari perempuan. Dua kata sifat yang tak terlihat dari luar. Jika pada masa itu banyak pernikahan yang dilakukan pada usia belasan bisa jadi secara mental memang matang karena pada saat itu mereka terbiasa dengan pembebanan kerja.
Lalu apa yang terjadi hari ini?
a. Keberhasilan konspirasi barat yang menekankan kesuksesan manusia pada material.
Kepemilikan atas barang tertentu menjadi tolak ukur kesiapan seseorang dikatakan siap menikah. Padahal tidak selalu benar, kepemilikan barang adalah bukti bahwa dia mampu menghasilkan materi untuk dirinya dan memenuhi kebutuhan. Ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan, kalo sudah selesai kuliah dan bekerja ya menikah. Bekerja adalah bentuk pemenuhan tanggung atas diri bukan orang lain. Tapi bekerja bisa menjadi alat untuk memenuhi nafkah lahir.
b. Konsep dewasa berbanding lurus dengan usia
Tidak semua orang berumur dewasa, usia penanda tua. Pengalaman dan hal lainnya tidak bergantung pada usia. Dalam podcast temani, Zein Permana, psikolog dan konselor pernikahan menyebutkan tiga hal yang harus dimiliki oleh orang yang siap menikah: mampu bertanggung jawab, memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan memiliki kemampuan triangular emosi. Kemampuan triangular komunikasi dimulai dari mengenali emosi, meregulasi dan mengkomunikasikan emosi.
c. Standar media sosial
Jika 20 tahun lalu si A membandingkan diri dengan si B yang hidup bertetangga dengannya atau sekantor dengannya, hari ini si A dan si B bisa jadi tidak saling kenal di kehidupan nyata, hanya tahu dari balik akun media sosial. Kepemilikan atas sesuatu dari seseorang lantas menjadi tolak ukur kebahagiaan yang kita punya padahal berada di sepatu berbeda.
Ummu Balqis seorang penulis dan pengusaha pernah bilang dalam salah satu sesi Bengkel Dirinya, "orang tua sibuk membesarkan anaknya hidup dalam kemudahan lupa bahwa kesulitan yang membuat dia bisa tangguh". Kesulitan bukan diterjemahkan sebagai hidup sulit tapi belajar menunda kesenangan dan berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal itu yang akan membuat ketangguhan anak teruji saat bertemu masalah.
Terlepas dari takdir, mungkin ini waktunya saya mengevaluasi standar hidup saya, mengecek ulang niat, dan belajar lebih banyak bukan agar lebih baik saat masa itu tiba tapi agar kelak diminta pertangungjawabannya saya bisa bilang " telah hamba upayakan, ya Rabb".
Ma qadarallahu khair






