Perhatikan naskah Quran berikut:
ููุฅูุฐู ููุงูู ุฅูุจูุฑูุงูููู
ู ููุฃูุจูููู ุขูุฒูุฑู ุฃูุชูุชููุฎูุฐู ุฃูุตูููุงู
ูุง ุขูููููุฉู ุฅููููู ุฃูุฑูุงูู ููููููู
ููู ููู ุถูููุงูู ู
ูุจูููู ( ) ููููุฐููููู ููุฑูู ุฅูุจูุฑูุงูููู
ู ู
ููููููุชู ุงูุณููู
ูุงููุงุชู ููุงููุฃูุฑูุถู ููููููููููู ู
ููู ุงููู
ููููููููู ( ) ููููู
ููุง ุฌูููู ุนููููููู ุงูููููููู ุฑูุฃูู ููููููุจูุง ููุงูู ููุฐูุง ุฑูุจููู ููููู
ููุง ุฃููููู ููุงูู ููุง ุฃูุญูุจูู ุงููุขูููููููู ( ) ููููู
ููุง ุฑูุฃูู ุงููููู
ูุฑู ุจูุงุฒูุบูุง ููุงูู ููุฐูุง ุฑูุจููู ููููู
ููุง ุฃููููู ููุงูู ููุฆููู ููู
ู ููููุฏูููู ุฑูุจููู ููุฃููููููููู ู
ููู ุงููููููู
ู ุงูุถููุงูููููู ( ) ููููู
ููุง ุฑูุฃูู ุงูุดููู
ูุณู ุจูุงุฒูุบูุฉู ููุงูู ููุฐูุง ุฑูุจููู ููุฐูุง ุฃูููุจูุฑู ููููู
ููุง ุฃูููููุชู ููุงูู ููุง ููููู
ู ุฅููููู ุจูุฑููุกู ู
ูู
ููุง ุชูุดูุฑูููููู
Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, โPantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan.โ
Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: โInilah Tuhankuโ, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: โSaya tidak suka kepada yang tenggelam.โ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: โInilah Tuhanku.โ Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: โSesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.โ
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: โInilah Tuhanku, ini yang lebih besar.โ Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: โHai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. al-Anโam: 74 โ 78)
Ada sesuatu yang mengganjal dari gejala depresi yang saya miliki karena saya mencoba berjalan menuju Tuhan dengan segala daya pikir saya, segala emosi saya, segala nafsu saya, dan semua sekujur atom dalam tubuh saya dan reaksi-reaksi kimianya. Karena satu yang ingin saya dapatkan, saya memilih Tuhan, saya memilih jalan Tuhan dengan sadar hati, sadar emosi, sadar pikiran. Bukankah Allah tidak ingin kita mabuk? atau tertutup pikirannya? karenanya saya berpikir.
Ada satu stage berbahaya dari psikologis wanita tampaknya, ketergantungan dengan lelaki yang memang ditakdirkan lebih kuat, lebih stabil, dan tidak memiliki perpindahan emosional yang tinggi karena hormon yang tidak stabil setiap bulannya.
Saya, sudah berada dalam perputaran emosional itu tampaknya cukup lama, cukup lama dan tampaknya Allah ingin saya mengalami kesusahan emosional itu untuk menguji seberapa sadar emosionalkah saya memilih jalanNya.
Ramadhan lalu, saya mendapatkan kestabilan dan kesadaran pemikiran dan psikologis cinta Tuhan. Secara logika Islam sudah menjadi agama yang saya anut sejak dikucilkan teman Muslim ketika saya bertinggal di negara mayoritas karena pemikiran saya yang nyeleneh. Itu sudah berapa tahun lalu. Tahun lalu yang kudapatkan adalah pemahaman paripurna bahwa apapun yang dikatakan oleh muslim lain tidak akan menggerakkan tempatku. Terlalu banyak yang abu-abu, namun aku sudah gigih ada di tempatku, apakah aku ini ahli neraka atau ahli surga itu ridho-Nya Allah, aku tidak peduli apa kata orang lain karena hanya aku dan Allah yang tahu betapa aku mencintaiNya atau betapa aku membangkangNya.
Ramadhan ini menarik, aku diberikan pertanda oleh semesta mengenai perputaran siang dan malam dan somehow aku teringat sebuah cerita dalam Al-Quran mengenai Tuhan.
Aku mengalami depresi cukup serius setelah ditinggalkan seseorang yang aku cintai begitu dalam selama 8 tahun. Aku menyebutnya bintang dalam setiap puisiku dan kata-kata kepadanya. Alasan khusus? Karena mungkin ia dulunya mendalami ilmu perbintangan dan dia memang membuat malam-malamku menjadi indah (aku jarang bertemu muka dengannya, lebih banyak lewat mimpi kami yang terhubung). Ia meninggalkanku dan aku terdampar begitu dalam pada sebuah depresi.ย
Kemudian kurang lebih dua tahun lalu aku bertemu seorang laki-laki yang begitu aku kagumi, agamanya, stabilitas emosinya, dan banyak lagi. Aku sebut dia bulan purnama dan pengandaian bulan itu juga selalu aku berikan pada dirinya. Setelah berselang berapa lama, ia mulai hadir di mimpiku dan memberikan kesan kedamaian setiap kali ia datang. Aku ketakutan rasa cintaku yang begitu dalam pada Tuhan akan dirusak oleh asosiasi kedepresian diriku untuk menyamakan bulan purnama dengan kedamaian yang ia berikan. Aku memilih untuk menjauhinya dengan cara sewajarnya. Syirik, aku takut sekali, karena itu adalah dosa terbesar dari segala dosa dan dari seluruh dosa yang ada, aku tau dosa itu tidak akan termaafkan oleh sang Maha Pengampun segala dosa.
Kaitkan dengan ayat tentang Nabi Ibrahim, aku telah melewati tapal batas logika untuk penyembahan berhala (sesuatu yang berwujud fisik dan pemuas raga seperti uang, kecantikan, kekuasaaan), aku telah dibebaskan dari penyembahanku pada bintang, aku pun akhirnya secara sadar membebaskan diriku dari penyembahanku pada bulan. Sekarang, kehangatan matahari yang mungkin akan menerpaku, apakah itu bentuknya? Aku akan coba melewati ujian itu. Terima kasih Allah karena Engkau masih ingat akan diriku dan masih terus memberikan ujian dan cobaan. Bahkan cobaan yang makin terus meningkat layaknya yang Engkau berikan pada Ibrahim AS.ย
Ya Allah, tolong jangan pernah jauhkan diriku dari Mu.
Karena hamba yang mencinta ini sesungguhnya berada dalam genggamanMu. Dan tidak berdaya di luar kuasaMu.