Bandung Hari Itu
Aku sedang menatap barisan nama makanan pada menu saat pintu restaurant di hadapanku terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk sambil mengangguk kepada para server, lalu duduk dua meja di hadapanku. Ia langsung mengeluarkan buku dari tas yang ia bawa, lalu sibuk membaca.
Tak lama seorang waiter datang kepadanya, mengantarkan satu buah mangkuk yang mengepul dan juga satu gelas minuman yang entah apa itu. Lalu terdengar obrolan antara mereka. Aku pikir mereka pasti telah mengenal satu sama lain dalam kurun waktu yang lama.
Sungguh aku selalu iri akan seseorang yang hidup dengan keteraturan dan memiliki kebiasaan.
Anggukan kepala saat memasuki restaurant tadi pastilah sudah saling dihafal mati, baik oleh pelanggan maupun pelayan di resto ini. Sebuah kebiasaan yang dipatenkan oleh waktu.
Aku menatap lagi buku menu dihadapanku. Tak ada makanan dan minuman yang aku kenal. Tidak ada anggukan yang aku berikan dan dihafal oleh para pelayan.
Aku selalu datang dan pergi, bahkan beberapa tempat yang pernah aku kunjungi, tak pernah kudatangi lagi.
Aku bahkan terpana pada fakta bahwa seseorang biasanya memiliki makanan, tempat, bahkan warna kesukaan. Waktu itu aku baru saja duduk di kelas satu sekolah menengah pertama, anak-anak perempuan saling bertukar data diri dan menuliskan makanan kesukaan dan warna kesukaan mereka.
Aku diam sesaat pada waktu itu, sambil berusaha mengingat makanan terenak dan terkeren yang sering aku makan, tapi buntu. Aku tak pernah makan pizza, aku tak suka burger, aku lebih suka mie instant dari pada spaghetti.
Aku tak tau apa makanan kesukaanku. Fakta bahwa aku selalu memakan makanan yang dimasak oleh Ibuku menyeruak, aku juga selalu memakai baju apapun yang beliau belikan, aku tersadar bahwa aku tak memiliki makanan maupun warna kesukaan. Entah apa yang aku tulis saat itu, aku tak ingat.
Aku melambai pada seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu, ia datang dan tersenyum. βSudah mau order, Kak?β
Aku mengangguk, βIya.β Lalu aku menyebutkan beberapa makanan yang sepertinya menarik. Lalu pelayan itu pergi.
βAku seneng kalau kamu makannya banyak,β Kata laki-laki yang duduk di hadapanku. Ia tersenyum sambil menatapku lekat-lekat. Matanya sungguh indah, dan salah satu pipinya menampakkan lesung.
Aku tersenyum dan bersyukur.
Jika dulu aku tak pernah punya tempat kesukaan, warna kesukaan, makanan kesukaan, kini aku punya.
Ditambah sepasang mata kesukaan dari orang yang paling aku sayang.










