Dibunuh Waktu Habis-habisan Sepuluh. Sejujurnya aku tak begitu ingat, berapa jumlah lilin yang ada di atas kue ulang tahunku ketika itu. Karena mengabadikan momen masih belum ada di genggaman semua orang seperti sekarang. Satu yang jelas terekam di ingatan, ulang tahunku yang harusnya dirayakan di tanggal tujuh, tapi dipaksa dirayakan di tanggal sembilan. Meski awalnya merajuk dan bertanya-tanya kenapa, toh aku si kecil itu pada akhirnya tetap saja merasa senang. Delapan belas. Kali ini aku ingat betul angka lilin yang ada di atas kue ulang tahunku hari itu. Dan kali ini benar di tanggal tujuh, bukan lagi sembilan. Bahagia sekali rasanya, sebelum akhirnya menghadapi kenyataan tertolak masuk universitas jalur SNMPTN. Belajar mati-matian siang malam mencoba SBMPTN, yang memang diterima, tapi di jurusan yang sama sekali aku tidak kenal. Menuju dua puluh tujuh. Mungkin tidak akan ada lilin di atas kue ulang tahun, sama seperti bertahun-tahun yang sudah. Hidupku sudah cukup rumit untuk sekedar menundukan kepala dan berdoa sebelum meniup lilin. Biar saja semua berjalan seapa-adanya yang Tuhan inginkan. Aku ikut. Malang, 26 november 2022 https://www.instagram.com/p/CoXWil5BGGE/?igshid=NGJjMDIxMWI=









