Three Goblin Art
AnasAbdin
Not today Justin
ojovivo
KIROKAZE
hello vonnie

pixel skylines
Show & Tell


izzy's playlists!

@theartofmadeline
Sweet Seals For You, Always

Kaledo Art

Discoholic 🪩
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
cherry valley forever
Keni
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Bangladesh

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
@restyjayadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
katanya, teman sejati memang tak akan pergi apalagi saat akan di uji. pertanyaannya adalah ujiannya kapan? hasilnya bs kita cek kapan utk tau siapa teman sejati yg sesungguhnya itu
rapopo, aku cuma mau merem aja kok. biar ga ganjel fi mata
Start a new beginning
GMK, Jan 2nd
It would make me so happy to see you thriving and being the best version of yourself. ✨ It would make this toasty-colored dog happy too! ☀️
Instagram | Patreon | Webtoon
Belajar dari Rumah Ibu Elly Risman
Nama Ibu Elly Risman pertama kali saya kenal dari sebuah poster seminar parenting yang saya lihat di media sosial saat saya masih di tingkat akhir perkuliahan. Siapakah beliau? Saat itu saya belum tahu. Hanya saja, semakin hari namanya semakin sering saya dengar, terutama ketika saya mulai berkenalan dan berkecimpung di dunia anak dan parenting.
Waktu berlalu, tapi kesempatan untuk bertemu dengan beliau belum juga tiba. Meminjam istilah cinta-cintaan ala anak zaman sekarang, saya hanya mengagumi beliau dari jauh, sambil kepo alias banyak mencari tahu tentang beliau dari media sosial: membaca artikel-artikel yang pernah dituliskan atau menonton video-video rekaman beliau ketika membahas isu-isu terkini tentang anak dan parenting. Satu hal yang saya dapat, berbekal ilmu yang tak terhitung banyaknya, beliau begitu serius mewakafkan diri untuk berkontribusi pada satu masalah ummat yang terjadi di negeri ini.
Sejujurnya, kesadaran saya untuk mulai mempersiapkan pernikahan dengan ilmu hadir dari beliau. Menikah perlu ilmu, perlu berdamai dengan diri sendiri dulu, perlu mengenal diri sendiri dulu, dan nasehat-nasehat senada nyata telah mengubah paradigma saya tentang jatuh cinta, menikah, dan menjadi orangtua.
Sejak bekerja di tempat dimana sekarang saya berada, meskipun rasanya satu fokus dengan apa yang Ibu Elly kerjakan, pertemuan itu belum juga datang. “Kapan yaa bisa ketemu dan cerita banyak sama Ibu Elly?” pertanyaan itu masih terus saya tanyakan. Hingga suatu ketika, kantor kami mendapat undangan eksklusif dari beliau untuk hadir di sebuah temu ilmiah dimana beliau akan mempresentasikan hasil penelitiannya tentang bagaimana pornografi berpengaruh pada perubahan otak. Maa syaa Allah, doa saya diijabah Allah. Lalu di akhir ketika berpamitan pulang, beliau memeluk saya sambil berpesan,
“Nak, pastikan kamu kelak menikah dengan ilmu, ya. Jangan terburu-buru, jangan asal jatuh cinta. Lihat negara kita banyak masalah, dan sebagian besar bermula dari pengasuhan yang salah.”
mendengarnya, saya mengangguk-angguk sambil menangis. Entahlah, haru sekali rasanya. Pesan yang sama masih selalu saya ingat sampai hari ini dan sebisa mungkin ingin selalu saya teruskan kepada orang lain, kepadamu juga yang membaca tulisan ini. Sejak pertemuan yang pertama itu, kesempatan bertemu dengan beliau semakin bertambah, meski tidak sering. Pernah sekali waktu saya menemui beliau di tempat praktiknya, dan pesan beliau masih sama: “Ayo dong, anak muda sebelum menikah itu melek pengasuhan!”
Hal yang paling menarik terjadi beberapa hari yang lalu, ketika saya dan teman-teman diundang ke rumah beliau untuk bertemu dan berdiskusi. Senang luar biasa. Rasanya seperti berlibur ke rumah nenek: mendengar banyak cerita tentang kehidupan nenek dan kakek di zaman dulu, sejarah bagaimana mereka akhirnya menikah dan tinggal di rumah yang masih ada sampai sekarang, cerita tentang betapa kayanya kebudayaan Indonesia, serta nasehat dan wisdom-wisdom kehidupan. Tak hanya itu, kami pun dijamu dengan masakan-masakan enak khas Aceh!
Sehari sebelum keberangkatan, saya bertanya kepada senior di lingkaran pekerjaan saya, “Pak, rumah Ibu Elly itu kayak gimana, sih?” Saya penasaran. Saya pikir, rumahnya mungkin akan seperti rumah-rumah pejabat yang pernah saya datangi: besar, mentereng, dengan barang-barang mewah di dalamnya. Tapi ternyata tidak. Senior saya itu menjawab, “Biasa aja, kamu engga akan takjub gimana gitu pas masuk rumahnya. Kalau Ibu mau, Ibu bisa saja bermewah-mewah, tapi Ibu lebih memilih untuk banyak bersedekah dan berwakaf daripada menghabiskan harta untuk kepentingan pribadi.”
Ketika tiba di rumah Ibu, apa yang senior saya bilang itu ternyata benar. Alih-alih mewah, rumah Ibu ini lebih tepat disebut bersahaja. Dengan segala kesederhanaan di dalamnya, rumah ini sangat hangat dengan atmosfer kekeluargaan yang terpancar dari berbagai sudut ruangannya, juga dari orang-orang yang tinggal di dalamnya.
“Teh, teteh udah ngerasa lagi kayak pergi ke Aceh belum?” bisik teman saya yang saat itu duduk tepat di sebelah saya ketika kami sedang berbincang-bincang dengan Pak Risman sambil mendengarkan logatnya yang unik khas Aceh itu. Ya Allah, saya tersenyum sambil menjawab pelan-pelan, “Ooh, begini kali ya rasanya kalau nanti pergi ke Aceh?” Teman saya itu pun tersenyum, rupanya ia teringat satu mimpi yang pernah saya bagi dengan teman-teman di kantor, yaitu pergi ke Aceh.
Obrolan pun jadi kesana-kemari, termasuk membicarakan masalah di negeri ini. Tak lupa, di sela-sela obrolan kami, Ibu pun menyampaikan,
“Nak, banyak masalah pengasuhan terjadi karena orangtuanya menikah asal-asalan dan tidak siap ketika menjadi orangtua.”
sebuah kalimat yang membuat saya dan teman-teman yang belum menikah menjadi bersyukur karena Allah ternyata masih memberi kesempatan bagi kami untuk bersiap dan belajar sebelum nanti dipinang oleh amanah peradaban.
Berkunjung langsung ke rumahnya, saya baru tahu kalau Ibu yang sering saya lihat di TV atau di acara-acara penting seputar anak dan keluarga ini ternyata pintar masak. Setiap harinya, beliau memasak 9 jenis makanan yang berbeda untuk suaminya. Maa syaa Allah, ini bukan hanya soal skill memasak, tapi juga tentang manajemen waktu dan kesediaan mengabdi sepenuh utuh kepada suami. Masakan Aceh yang Ibu buat hari itu adalah masakan Aceh pertama yang dirasakan lidah saya, dan ternyata … saya nambah tiga kali! Apalagi saat mencicipi Ayam Tangkap yang dilengkapi dengan daun salam koja itu, ditambah dengan sambal yang ternyata ditambah belimbing. Maknyus! Ibu pun berkali-kali bilang, “Ayo Nak, makanlah yang banyak. Mau apa lagi? Sini Ibu tambahkan.” Namanya anak muda, kami benar-benar literally makan banyak. Haha!
Banyak wisdom yang didapat dari kunjungan ke rumah beliau hari itu. Pak Risman berpesan kepada kami untuk menggenggam erat ketaatan kepada Allah dan kesungguh-sungguhan dalam berjuang, sementara Ibu Elly Risman berpesan tentang militansi untuk berjuang mengatakan kebenaran, melakukan kebaikan, dan tentunya persiapan pernikahan dan juga pengasuhan. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Semoga perjuangan yang tidak akan pernah selesai ini senantiasa diberi-Nya kemudahan. Selamat berjuang!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semoga kamu.
Semoga kamu.
Yang akan membuatku menerima semua penyesalan masa lalu, berdamai dan memaafkan segala kesalahan yang kuperbuat sendiri.
Yang akan membuatku percaya bahwa masa lalu adalah sebuah pelajaran berharga bagi diri dan akan terhapus dengan semua tangis, sehingga aku masih mempunyai kesempatan untuk membangun masa depan indah bersamamu.
Yang akan membuatku menerima diriku sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihan. Yang membuatku percaya terhadap diriku sendiri dengan segala kemampuan yang ku miliki.
Semoga kamu.
Yang akan mengajakku membangun surga di rumah. Terhiasi dengan berbagai kata indah dan kedamaian, bukan paksaan atau teriakan. Terisi dengan kesejukan lantunan lembut suaramu.
Yang akan menemaniku menikmati hangatnya mentari pagi di awal waktu. Memberikanku berbagai kebijaksanaan tanpa menghakimi. Menepiskan semua keresahan yang selama ini ada. Yang akan mengajariku menikmati hari hingga senja datang. Kemudian mensyukuri sinar bintang dan rembulan yang telah menuntun kita untuk saling menemukan.
Semoga kamu.
Yang akan menenangkanku pada setiap fase perjalanan, bahwa semua masalah dapat terselesaikan dengan baik tanpa sebuah pertengkaran. Kita tak perlu saling bersikukuh siapa yang paling benar, karena ini bukan perkara menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana memahami diri kita masing-masing yang memerlukan waktu berpikir dan menyerahkan semua kepada Allah. Kita bisa, kan?
Semoga kamu.
Yang akan membawaku pergi jauh, melihat semua kekuasaan Allah, melihat semua keindahan ciptaan-Nya. Berkeliling menyusuri lingkar pantai dan berkunjung ke setiap rumah-Nya yang indah. Sembari menceritakan semua sejarah yang telah kau hafal di luar kepala.
Semoga kamu.
Yang akan menuntunku menyusuri jalan setapak berkerikil yang panjang bernama kehidupan. Menggandeng tanganku memilih jalan terbaik, dan merangkul dengan penuh keyakinan.
Yang akan membuatku bersyukur telah mempercayai dan menerima takdir dengan mengikhlaskan segala rencana yang sebelumnya telah ku buat, yang ku revisi karena kehadiranmu.
Dan akan menyempurnakan semua mimpi yang telah ku harapkan.
Semoga kamu di masa depan, yang menjadi semestaku.
Iya, semoga kamu, siapapun kamu, tidak terlambat karena terlalu banyak pertimbangan dan hanya merencanakan, karena semua tidak akan pernah tersampaikan bila tidak dikomunikasikan.
Semoga kamu tidak terjebak pada idealisme yang kau buat sendiri.
mau repot
“mbak, kalau kamu mau anakmu jadi anak yang mandiri, berdaya, peka dengan sekitar, terasah empati dan emosinya, itu gampang. kuncinya satu, kamu harus mau repot.
membuat anak terus-menerus merasa terhibur dan memilih menghindarkan anak dari layar sebelum waktunya memang repot. lebih enak beri saja teve atau hape, biar nonton dan berhenti rewel. tetapi ini melatih anak untuk bisa membuat dirinya sendiri terhibur dengan yang ada di luar layar. ada banyak yang lebih menarik di sekitar.
membuat anak mau makan sambil duduk, apalagi makan sendiri, dengan rapi, tidak acak-acakan, dan makannya tetap banyak memang repot. lebih enak gendong dan suapi sambil jalan-jalan, makannya biasanya akan lebih banyak. tetapi ini melatih kesadarannya bahwa dia sedang makan. bahwa makan harus duduk. bahwa makan adalah bagian dari bersyukur.
membuat anak mau buang air di toilet, bisa duduk tenang, mencatur setiap pagi dan malam, memang repot. lebih enak pakai popok sekali pakai, biarkan saja buang air sesukanya. tetapi ini mengajarkan aturan dan menunjukkan bagaimana berperilaku yang baik. lebih sehat.
membuat anak memiliki jadwal yang rutin, jam tidur rutin, jam makan rutin, jam mandi rutin, memang repot. lebih enak biarkan saja anak semaunya. tetapi ini mengajarkan kebiasaan, yang saat besar akan memengaruhi perilakunya pula, kedisiplinannya.
mengikuti dunia anak dan tidak “memutus” begitu saja yang sedang dilakukan atau diinginkannya memang repot. harus menunggu sampai puas main air di kamar mandi, harus membuntuti sampai puas memanjat tangga, harus mengikhlaskan rumah berantakan, repot. tetapi ini memberikan sinyal kepadanya bahwa dirinya disayangi, didukung, dan boleh belajar.
mbak, intinya, menjadi ibu itu bisa saja tidak repot, tetapi jika ingin anaknya jadi anak yang berdaya kelak, ya harus mau repot. di tengah segala kemudahan yang ditawarkan zaman ini, menjadi ibu harus pintar-pintar memilih, harus banyak-banyak sabar, dan lebih banyak lagi memaafkan.“
demikian nasihat ibu untuk saya. sulit bagi saya membayangkan kerepotan yang saya timbulkan untuk ibu saat kecil dulu. ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah. semoga Allah memberikan cinta-Nya untuk ibu.
berharga :)
Jangan Takut Dengan Lamanya Kesendirian #6 : Biological Clock
Ceritanya udah familiar banget dengan pembicaraan bahwa perempuan tuh sebaiknya segera nikah dan punya anak karena punya biological clock. Usia rawan melahirkan akan mempertinggi potensi kematian baik pada ibu dan anak, at least kehamilannya lebih berat daripada usia ‘seger’.
Tentu saja itu jadi kecemasan buat saya, terlebih pernah sakit cukup parah yang tentu saja kesehatan sudah tidak seperti dulu lagi. Energi dan stamina tidak sebesar dulu. Jangankan naik gunung, sekarang bisa lari pun sudah teramat baik. Hehehe.
Siang ini dichat seorang sahabat lama, Dyah Pitaloka (meski anak ini annoying dan nyebelin, saya sayang banget sama dia). Ngobrol basa basi, yang sekelumit membahas semoga tahun ini giliran kami menikah karena akan menyentuh kepala ‘3′.
Dyah nyeletuk, “iya nih, aku juga, udah biological clock.”
Biological clock adalah isu yang teramat banyak dibicarakan jika perempuan belum juga punya anak. Seriously, ini jadi kecemasan.
Menyimak celetukan Dyah, tiba-tiba saya muncul pikiran : yang memberikan rejeki anak di usia yang kata orang terlambat itu kan Allah, yang menitipkan bayi di rahim perempuan yang dinilai ‘sudah lanjut usia’ juga Allah, maka kekhawatiran itu juga seharusnya kita kembalikan pada Allah, Sang Pemilik Kesehatan.
Spontan, saya menjawab, “semoga ketika kita diberi rejeki untuk hamil, kita diberi kesehatan.”
Saya jadi ingat ketika dulu seseorang pernah berkomentar, bahwa pinggul-pinggul kecil kemungkinan besar melahirkannya caesar. Seorang teman lain berkata, “Allah itu Maha Adil. Kalau kita diberi pinggul kecil, ukuran bayinya akan disesuaikan.”
Pun kalau dibuat caesar, tidak mengapa. Kalau kata teman baik saya, tujuan ibu hamil adalah melahirkan bayi dengan selamat keduanya. Melalui caesar ataupun normal, tidak jadi masalah. Daripada memaksa normal padahal kondisi tidak memungkinkan, itu akan mengancam jiwa keduanya.
Eh apa sih intinya?
Intinya adalah, jangan mengkhawatirkan hal-hal yang diluar kekuasaan kita. Kapan hamil, kapan mati, Allah yang memegang kendali. Maka ketika diberi kehamilan di usia atau kondisi yang agak sulit, berikhtiarlah yang terbaik dan memohon kesehatan serta keselamatan pada yang menciptakan kehamilan. Karena pada-Nya lah, kesehatan kita digenggam.
Don’t worry, be happy pregnancy.
*halah kayak lagi hamil*
Yang paling hebat dari pasangan adalah sabarnya. Betapa banyak pun kelebihan yang dia miliki, jika tak ada sabar dalam dirinya, maka keangkuhan akan menghapus kelebihan yang dia miliki tadi.
— Taufik Aulia
I’m stronger because I had to be. I’m smarter because of my mistakes. I’m happier because I’ve overcome the sadness I have known and I’m wiser because I’ve learned from my life.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semoga apa yang kita perjuangkan itu bisa membuat hidup kita lebih tenang dan berserah, bukan membuat kita semakin memaksakan kehendak. Semoga yang kita perjuangkan itu adalah sesuatu yang banyak kebaikannya, sekalipun kita bersikeras merasa bahwa itu yang terbaik, kita hanya tidak diperlihatkan celanya. Semoga yang kita perjuangkan itu adalah sesuatu yang kalau nanti kita mendapatkannya maupun tidak, tidak membuat kita kecewa, tidak membuat kita bersedih. Karena kita paham, Allah masih menjadi yang pertama.
aamiin
Suami Bagimu Belum Tentu Ayah Bagi Anak-Anakmu
The world has change, and from year to year, children become fatherless - Anonymous
Seorang ahli psikologi berkata bahwa dunia berubah. Semakin banyak anak-anak yang yatim sekalipun ia memiliki seorang ayah. Ayah yang kehadirannya kian lama tak dirasakan lagi. Peran ayah kini kian lama kian bergeser. Hanya menjadi pencari nafkah tanpa memedulikan bagaimana tumbuh kembang anaknya karena sudah percaya pada ibunda. Maka ketika hasil pendidikan ibu yang didadaptkan tidak sesuai ekspektasi, akhirnya ayah cenderung menyalahkan istri, “Kamu nggak becus mendidik anak!”.
Al Ummu, Madrosatul Ula, Ibu adalah madrasah pertama
Begitulah dalih yang barangkali sering dijadikan landasan mengapa seorang ayah sangat sibuk menafkahi. Namun teruntuk para ayah dan calon ayah (seperti saya :p) sadarlah. Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun ayah adalah kepala sekolahnya. Wahai para calon ayah, engkaulah kepala sekolah yang kelak akan menentukan visi bagaimana sekolah pertama anakmu kelak. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang guru tanpa kepala sekolah. Ia bisa mendidik, namun tak punya arah yang jelas bagaimana peserta didik itu nantinya. Analogi itu pun sama dengan pendidikan anak.
Dan kau Ayah, adalah kepala sekolah bagi anak-anakmu
Peran ayah pun telah dicontohkan dalam Al-Quran. Ada Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, dan Imron. Merekalah contoh ayah-ayah yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Seorang peneliti asal timur tengah, Sarah binti Halil, dalam tesis nya di Universitas Ummul-Quro, Makkah menuliskan bahwa dalam Al-Quran tertulis dialog ayah dengan anaknya sebanyak 14 kali, sedangkan dialog ibu dan anaknya hanya 2 kali. Tentu itu bukan merupakan sebuah kebetulan, sebab Quran adalah firmanNya. Hitunglah, 14 dibanding 2. Maka sudah jelas, peran sentral ayah dalam dunia anak tak terbantahkan.
Hanya visi saja tentu tidak cukup. Seorang ayah sekaligus menjadi evaluator bagi anak-anaknya. Layaknya seorang pemimpin yang memiliki visi, ia pastilah yang paling tahu ke mana visi itu dibawa, dan di mana letak kesalahannya. Pun demikian dengan ayah, ia akan tahu ketika anak yang didiknya melenceng dari visinya. Tentu di sini tidak sekedar menjadi evaluator layaknya di perusahaan, namun tentu anak punya cara tersendiri agar evaluasimu mendidik, bukan membebani mereka.
Sebab itulah wahai calon ayah dan mungkin ada ayah yang sudah membaca, karena kau lah sang penentu visi. Kau adalah kepala sekolah, bukan penjaga sekolah. Kepala sekolah adalah sang pembawa visi sekaligus evaluator. Penjaga sekolah adalah dia yang datang ketika lampu rusak, dapur bocor, kran mampet. Kau juga bukan donatur sekolah yang datang ketika sekolah membutuhkan uang. Kau adalah kepala sekolah, kunci dari pendidikan anak-anakmu.
Sebab ayah yang sukses, bukanlah sosok yang hebat dalam karirnya, sosok yang banyak prestasinya, atau sosok yang kaya raya. Ayah yang sukses adalah ketika anak lelakinya kelak berkata, “Aku ingin seperti ayah” atau anak perempuannya berkata, “Aku ingin memiliki suami seperti ayah”
- George Hilbert
Noted
Jangan selalu seperti itu, meminta untuk dimengerti. Tapi kau lupa, rasaku juga bisa pergi kalau kau selalu mau menang sendiri.
(via rantingkecil)
gapernah kepikiran utk pergi, hanya berpikir ingin rasanya mengurung diri dalam ruang sepi.
agar kami saling rindu, saling paham apa arti bertemu
Cari desain undangan digital menarik untuk hari spesialmu?
Hubungi @rantingkecil.studio aja.
tersedia berbagai template design digital invitation dengan harga mulai dari Rp 20.000 aja. Sehari bisa jadi dan desainnya insyaAllah gak mengecewakan. Bisa custom design untuk disesuaikan dengan tema hari spesialmu juga lho. Tambah map juga bisa. Mau cetak undangan for bridesmaid juga bisaaa banget.
Untuk yang spesial, berikan yang spesial juga ya.
Wa (0895334854784)
#wedding #invitation #undanganmurah #invitationonline #design #undanganpernikahan #rantingkecilstudio
ok noted
Yang naif dari orang yang ingin menikah adalah menyangka bahwa menikah hanyalah tentang yang indah-indah saja. Bagian naifnya bukan pada harapan baiknya, tapi pada ketidaksiapan akan kemungkinan buruknya. Bahwa kita menikahi manusia yang bukan hanya punya kelebihan, tapi juga kekurangan.
— Taufik Aulia
oleh karena itu, akan banyak pertimbangan utk keputusan tsb

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pulanglah sesering yang kamu bisa sekalipun ambisi terbesarmu adalah menaklukkan dunia. Karena di rumah ada dua orang yang ambisi terbesarnya adalah melihatmu sesering mungkin sebelum bertemu ajalnya.
— Taufik Aulia
noted
Dear para tamu yg berkunjung, Mohon di noted yaaa...