Aku selalu mampu menulis ribuan kata puitis. Tak sulit. Cukup ku ingat dia atau dia. Semua kata mengalir tanpa batas. Tak pernah tersedat oleh apapun. Satu kedip mata mampu ku tulis barisan kalimat penuh makna. Tanpa harus ku baca berulang-ulang. Tanpa harus ku memikirkan argument orang. Ku tulis tanpa beban. Tanpa kertas berserakan. Tapi kali ini berbeda. Tulisan ku dinilai orang. Dicoret sana sini tanpa memikirkan perjuanganku semalam. Bergulat dengan ribuan kertas yang lusu, karena terus ku balak balik berharap kertas-kertas itu bisa membantu menulis satu kalimat saja. Kertas lusu itu bukan sembarang kertas. Ku peroleh kertas itu dengan cucuran keringat. Bersama teriak anak-anak yang selalu tertawa dihadapanku. “Nak, aku pusing mendengarkan kalian berterik”, itulah kalimat dalam hatiku yang selalu ku ucap saat anak-anak itu membuat gaduh. Sedangkan aku harus terus tersenyum dihadapan mereka. Ah, untuk menulis pun aku harus bersusah payah. Menggabungkan semua fakta menjadi sebuah bab per bab dengan ribuan kalimat yang menyusahkan. Setelah kalimat itu tersusun rapi, karena kerja kerasku satu hari satu malam yang akhirnya kudengar adalah revisi. Siapa itu revisi? Ingin sekali ku seret si revisi untuk menyalesaikan tulisanku yang belum menemui ujungnya.












