Long time no write :) hello tumblr!
Gw sedang menjalankan program profesi Apoteker, dan sekarang alhamdulilah sedang magang alias PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Apoteker). Kalo dokter, ya ini semacam koasnya lah, tapi sebenarnya beda sih sama koas, karena kita tidak dituntut mencari kasus pasien yang aneh-aneh, tapi intinya belajar di lapangan, mempelajari realita kehidupan profesi apoteker secara langsung di medan yang sebenarnya. PKPA ini dibanding profesi lain (dokter, arsitek dll) terbilang sebentar, cuma 6 bulan, 4 bulan magang sebenarnya, 2 bulan kompre, diskusi, dan ujian-ujian.
PKPA yang gw jalanin dibagi menjadi 3 tempat, yaitu puskesmas, apotek dan industri/rumah sakit. Karena gw mengambil minta industri, jadi gw insya allah PKPA di puskesmas, apotek dan industri. Yang sekarang sudah dijalani PKPA di puskesmas, yaitu Puskesmas Jetis I, Bantul. Banyak pelajaran dari puskesmas. Terutama dari apotekernya, kebetulan apoteker puskesmas ini adalah seorang ibu muda 30 tahunan yang sedang hamil anak ketiga, tegas tapi kelakuannya kocak.
1. Perempuan ga bisa lepas dari tanggung jawab mengurusi keluarga, jadi mau ga mau harus mengalahkan urusan pekerjaan. Sama seperti pikiran gw, perempuan ga bisa selamanya kerja di industri atau tempat yang jam kerjanya unpredicted, contoh yang dialami ibunya: rumah sakit. Tempat-tempat seperti itu hanya untuk gadis dan para laki-laki pencari nafkah hahaa. Makanya, ibunya pindah ke puskesmas karena waktu kerjanya lebih singkat dan ga mungkin lembur sampai malam seperti di industri/rumah sakit, waktu mengurus anak dan suami lebih banyak.
2. Lulusan apoteker harus terbuka pikirannya, lapangan kerja ga cuma melulu apotek, rumah sakit, dan industri farmasi. Wirausaha lebih baik dan enak ke mana-mana (kalo udah sukses).
Kenapa? 1) Punya waktu lebih banyak untuk ibadah, 2) Punya waktu lebih banyak buat keluarga, 3) Kesuksesan berbanding lurus dengan shodaqoh dan kerja keras kita. Coba kalo kerja ke orang, lo kerja keras lembur-lembur, tetap aja gaji segitu-gitu aja, 4) ga bisa dipungkiri manusia itu orientasinya duit. Jadi wirausaha ga melulu apotek, tapi melenceng aja, karena bidang selain apotek (contohnya makanan dll.) itu lebih cepat berkembang dan menghasilkan duit hahaha.
3. Praktek berbeda dengan teori, so jangan saklek-saklek amat. Kalo saklek dan on the track of the theory, jadi dosen aja.
4. Bisa bahasa yang sesuai dengan masyarakat itu penting bangeeeet. Contohnya ini puskesmas ada di tanah Jawa, notabene orang-orang berbahasa jawa, mbah-mbah bahasanya Jawa kromo inggil. Supaya lo bisa nyambung, pesan lo bisa tersampaikan, ya lebih baik lo berbahasa yang sama seperti mereka, kromo inggil. Berdasarkan pengalaman gw, penyuluhan di hadapan mbah-mbah peserta posyandu lansia menggunakan bahasa Indonesia, hasilnya mbah-mbah hanya terpana terkesima melihat muka kita, awalnya mereka menanggapi kita, lama-lama juga bakal roaming, kita tanya, mereka hanya mengangguk bahkan cuma berkedip ><
5. Kerja di puskesmas itu harus bisa apa aja, dari tugas profesi, administrasi sampai penyuluhan. Semua orang di puskesmas itu mengurusi administrasi bagiannya sendiri (karena dia yang lebih tau seluk beluk bagiannya) dan harus siap diminta penyuluhan untuk kalangan apa aja, tentang apa aja.
6. Obat di puskesmas itu-itu aja, buat orang yang males mikir, males menghapalkan obat, males konseling, kerja aja di apotek hahaha. Karena beda banget sama rumah sakit atau apotek, obat di sini sangat minimalis, pakai generik, penyakitnya itu-itu aja, resep banyak banget sampai tidak sempat untuk memberikan tips-tips atau edukasi ke pasien. Makanya terkadang apoteker ataupun dokter akan merasa bego setelah bekerja di puskesmas.
7. Profesi kesehatan itu profesi mulia, jangan mengharapkan gaji tinggi hanya dengan berpraktek di satu tempat. Orientasi profesi ini sangat altruistik (mengutamakan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri), artinya all about patient, profit dikesampingkan. Perlu gw sebutkan berapa nominal gaji apoteker atau dokter ga ya? Yang jelas tidak sampai 1,5 juta (di puskesmas).
8. “Anak muda yang kerjaannya main-main doang gampang banget meteng (hamil), orang yang serius (udah nikah) malah susah, haduuh” kalimat yang sering banget ibunya omongin.
9. Nikmatilah masa muda sepuasnya, jalan-jalan, main-main sepuasnya, karena setelah menikah nanti, belum tentu pasangan kita setipe dan sejalan pikirannya dengan kita, belum tentu gampang mau diajakin jalan-jalan wkwk.
10. Perempuan harus cerdas, punya ilmu, matang, siap lahir batin untuk mengurus keluarga dan membimbing anak sebelum memutuskan untuk menikah.
Jadi, gimana? Sudah menentukan mau ke mana setelah lulus? Gw sih tetap bermuara ke wirausaha, tapi belum ada modaaal. Semoga bisa dapat modal dalam waktu dekat ini, amiin :3