Jarak dan Ekspektasi
Beberapa hari terakhir dia nampak lesu. Seperti ada sekarung baja ditumpu oleh tulang belikatnya. Berjalannya pun menunduk, bagaikan dikalung rantai yang menjuntai sampai ke lantai. Aku mendekat, merayunya untuk berbagi penat. Tapi kulihat lidahnya seperti tercekat. Pelan pelan ku pandang matanya lekat-lekat. Ada jarak di antara mata dan dia memandang dunia. Pupilnya mengecil, ada yang menjauh dari tempat ia biasa duduk bercengkerama.
"Hey, kenapa?"
"Tidak apa-apa.", tuturnya singkat dan tenang.
Sambil melangkah, kakinya menuju lawan arah. Memberi ruang dari tempatku yang berusaha ramah. Ternyata tentang jarak. Dia butuh waktu memahami ekspektasi, andai-andai aku datang hanya menawarkan janji. Sepertinya dia sedang menikmati sendiri, tetapi.. setelah kulihat lagi, dia menuju Masjid. Ah, aku tau.. mungkin cukup baginya, Allah menjadi tumpuan ekspektasi. Dia letakkan karung baja di serambi, lalu melepaskan kalung besi di sisi Masjid sebelah kiri. Dari kejauhan, rembulan mendekat ke wajahnya, rautnya memantulkan cahaya. Aku tetap disini, tetapi tak lagi kau jadikan ekspektasi.


















