๐๐จ๐๐ซ๐ ๐ซ๐จ๐ฌ๐ญ
๐ท๐๐๐ ๐
With @deepriversworld
Sebuah perayaan besar sedang berlangsung di Spring Court-Istana Musim. Seluruh penghuni Faerie berkumpul di istana kerajaan. Perwakilan dari Summer Court, Autumn Court, hingga Winter Court hadir memakai pakaian terbaik mereka. Musik mengalun lembut, gelas-gelas kristal berisi embun bunga saling bersulang, sementara para peri kecil menari di udara meninggalkan jejak cahaya.
Di atas singgasana yang dipenuhi sulur mawar putih, Sang Raja tersenyum menyaksikan rakyatnya bersuka cita. Para tamu undangan pun sudah memadati seluruh seisi istana tersebut.
Seorang herald kerajaan melangkah ke tengah aula. Suara sihirnya menggema ke seluruh taman. "Sebagai persembahan terakhir malam ini..." Ia berhenti sejenak. "izinkan kami mempersembahkan kebanggaan Spring Court Lord Aetherion!โ
Seluruh tamu langsung menoleh ke pintu besar yang perlahan terbuka. Keheningan menyelimuti seluruh istana.
Aetherion berjalan masuk langkahnya begitu tenang. Ia memakai Jubah putih gading yang terlihat menyatu dengan cahaya bulan. Benang-benang emas membentuk motif ranting dan bunga yang hidup, seolah terus bermekaran setiap kali ia melangkah. Rambut panjangnya yang seputih cahaya fajar jatuh hingga pinggang. Di punggungnya, sepasang sayap bening berkilau lembut, memantulkan warna-warni pelangi setiap kali terkena cahaya lentera di taman itu. Setiap langkah peri itu membuat bunga-bunga kecil bermekaran di atas lantai marmer sebelum berubah menjadi partikel cahaya.
"Dia semakin indah," puji salah satu tamu dari Summer Court yang terpukau melihat Aetherion.
"Tak heran Yang Mulia begitu menyayanginya," sambung tamu dari Autumn Court.
"Aetherion benar-benar diberkati oleh World Tree," tambah tamu dari Winter Court
Di tengah panggung telah menunggu sebuah harpa yang terbuat dari kayu suci World Tree. Aetherion duduk perlahan dan matanya terpejam lalu jari-jarinya yang ramping menyentuh senar pertama.
โTingโฆโ
Hanya satu nada, tetapi seluruh dunia seakan ikut terdiam. Lalu melodi mulai mengalir dengan begitu lembut dan jernih
Setiap petikan harpa terdengar seperti tetesan embun yang jatuh ke permukaan danau. Bunga-bunga di seluruh taman perlahan bermekaran mengikuti irama. Kupu-kupu cahaya bermunculan dari dalam kelopak. Bahkan ranting-ranting World Tree ikut berpendar, seolah menikmati lagu yang dibawakan salah satu anaknya.
Kemudian Aetherion pun mulai bernyanyi. Suaranya begitu bening hingga sulit dipercaya berasal dari makhluk hidup. Tidak tinggi dan tidak juga berlebihan. Namun setiap nada menghangatkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Sementara itu di antara para tamu yang hadir dan tanpa disadari oleh semua bangsa peri, ternyata hadir juga Corvinus. Rambutnya hitam kemerahan gelap dan ia memakai pakaian bangsawan peri untuk menyamarkan identitasnya yang merupakan bangsa Abyss.
Corvinus yang merasa bosan dan juga ingin tahu bagaimana pesta yang dibanggakan kaum peri. Maka malam ini ia memutuskan melakukan sesuatu yang bahkan para iblis lain akan menganggapnya gila. Ia menyelinap ke Faerie bukan untuk menyerang ataupun mencuri.
Dengan santai Corvinus menyelinap di antara para tamu. Tidak ada seorang pun yang menyadari aura iblisnya telah disembunyikan oleh sihir kuno miliknya.
Sampai akhirnya musik itu terdengar dan langkah Corvinus berhenti. Alunan harpa memenuhi taman mencuri perhatian hingga pandangan beralih pada sosok yang duduk di tengah panggung. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun makhluk abyss itu terdiam.
Aetherion itu tampak seperti musim semi yang menjelma menjadi manusia. Setiap senyum kecilnya membuat bunga bermekaran. Setiap petikan harpa menabur suka cita pada kehidupan.
"Jadi..." gumam Corvinus yang nyaris tak terdengar. "inilah permata yang selalu dibanggakan Faerie."
Entah kenapa Corvinus tidak bisa mengalihkan pandangan dari atas panggung tanpa alasan yang jelas.
Sementara itu Aetherion merasakan tatapan yang begitu mengarah padanya. Perlahan ia membuka mata di sela-sela nyanyiannya. Pandangannya menyapu lautan tamu. Lalu pandangan mereka pun bertemu. Mata hijau zamrud milik Aetherion bertemu dengan hitam obsidian milik pria asing itu.
Napas Kelvert memburu dan degup jantungnya begitu kencang rambut hitam dengan gaya korean textured two-block terlihat basah dengan keringat, seperti selesai berlari menempuh ratusan mil jauhnya. Padahal ia baru saja terbangun dari mimpi yang begitu indah tetapi juga membingungkan. Mimpi yang menjadi sumber inspirasi ia membuat cerita novel barunya. Tentang Peri dan makhluk abyss yang menjalin hubungan terlarang. Mereka pun terpisahkan karena hukuman, sang peri dikirim ke dunia manusia menjalani hukuman hidup tanpa cinta di dalam hidupnya.
Awalnya Kelvert menulis cerita itu berdasarkan hidupnya yang jauh dari cinta. Urusan percintaan tidak pernah berjalan dengan baik dan bahkan yang lebih menyedihkan adalah ia pun tidak dicintai oleh orang tuanya. Cinta dari sang nenek menjadi satu-satunya cinta dalam hidupnya.
Kelvert bangkit dari tempat tidur dan mengambil secangkir air untuk menenangkan dirinya sebelum ia kembali membuka laptop dan membuka draft lama miliknya. Ia sempat menghentikan tulisan itu, tetapi belakangan ini ia malah suka bermimpi hal yang mirip seperti cerita yang pernah ia tulis itu.
Perlahan jarinya mulai mengetik beberapa hal yang ia ingat dari mimpi tersebut, tetapi rasa kantuk kembali menghampiri. Diliriknya jam digital masih menunjukkan pukul tiga pagi lewat, pantas ia masih merasa mengantuk. Setelah menyimpan ide-ide tulisan tersebut, Kelvert kembali naik ke atas ranjang dan melanjutkan tidurnya.
~~~
Seperti biasanya saat siang Kelvert akan mendatangi kedai kopi kesukaan, bahkan ia sudah cukup akrab dengan pemilik tempat itu. Namun, siang itu ia sepertinya kurang beruntung seluruh meja di kedai itu sedang penuh. Sehingga akhirnya dengan terpaksa ia mencari orang mungkin bisa berbagi meja dengannya.
Akhirnya ia menemukan seorang pria berambut hitam duduk sendiri dan di atas mejanya sudah ada cangkir yang berisi minuman. โPermisi, apa bangku ini kosong?โ tanya Kelvert seraya memegang bangku kosong yang berhadapan dengan pria itu.
Pria itu mengangkat pandangan dari halaman buku yang terbuka, menatap Kelvert lalu mengedarkan pandangan pada seisi kafe yang penuh.
"Silakan," ujarnya kemudian.
โTerima kasih,โ sahut Kelvert lalu duduk.
Kelvert sempat terdiam bingung harus bagaimana, sebab ia tidak pandai berkomunikasi dengan orang baru apalagi jika harus berhadapan secara langsung seperti ini. Beruntung teh earl grey pesanan sudah diantar oleh pelayan. Ia pun menyesap teh itu sejenak sebelum ia mulai berpikir apa lagi yang harus ia lakukan.
โBy the way, nama saya Kelvert,โ ujar Kelvert yang akhirnya lebih dulu memperkenalkan diri sebab bagaimanapun pria di depannya ini sudah cukup baik memberikan tempat duduk.
Pria itu hanya menatap Kelvert sejenak lalu menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak membalas ucapan Kelvert dan kembali fokus membaca bukunya.
Mendapatkan reaksi yang demikian semakin membuat Kelvert merasa semakin canggung dan ada sedikit rasa kesal. Namun, lama kelaman saat melihat pria di depannya itu, entah kenapa ia merasa tidak asing dengan wajah pria tersebut. Ia merasa pernah melihatnya. โHmmโฆ apakah Anda sering ke tempat ini?โ tanya Kelvert yang sebenarnya tidak yakin kenapa ia harus bertanya demikian.
โSepertinya Anda tertarik sekali dengan kegiatan orang,โ sahut pria asing yang meletakkan cangkir, bibirnya tersenyum tipis. Ramah ataukah sarkas, Kelvert hampir tidak bisa membedakan.
Kini Kelvert merutuki pertanyaannya sendiri, memang tidak sepantasnya ia bertanya demikian. Ia menarik napas sebelum kembali berbicara. โYa karena sepertinya saya pernah melihat Anda di sini sebelum. Jadi saya bertanya demikian. Maaf jika pertanyaan saya menganggu Anda.โ
Pria itu sempat mengalihkan pandangan ke arah luar sebelum kembali menatap Kelvert. โJadi diam-diam Anda memperhatikan saya?โ
โTidak juga. Saya adalah pelanggan setia di kedai ini. Jadi saya hafal wajah-wajah yang sering datang ke tempat ini,โ jelas Kelvert.
Ia pun mengangguk sambil tersenyum kecil sebelum ia melihat ke buku yang sedari tadi dibacanya.
Kelvert yang merasa semakin canggung akhirnya memutuskan untuk menghabiskan minumannya. Segera saja ia berdiri. โTerima kasih atas bangkunya dan saya jalan dulu.โ
Kelvert langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari Albert. Ia memasuki mobilnya dan bergegas kembali pulang ke apartemen.




















