Bab III
Rawamangun Untuk Willy
Dua ribu dua puluh satu, bulan empat.
Willy datang dengan mimpi dipundaknya.
Terlihat berat dan besar,
Isinya baju untuk di Jakarta, selama seminggu, katanya
tapi ternyata lebih besar dan berat dari yang terlihat.
Mukanya sumringah,
"Mau jemput cinta" mukanya sih bilang begitu.
Periksa dulu deh, cintanya ada gak tuh.
Tapi aku bilang di hati aku aja.
Botol pertama dihabiskan Willy dengan santai,
           “Ternyata tidak perlu dijemput, cinta akan datang”
Aku gak pernah bisa paham, apa yang dibahas sama
Hamzah, Willy, Safar, Nidu, Ibhe.
Kalau Jafar, aku bisa paham sedikit.
Hanya bagian rasionalnya saja, Namanya juga Jafar.
Botol kedua dihabiskan Willy dengan buncah
           “Besok, loh Qoy, asik!”
Hari berikutnya, aku terpana dengan perempuan itu.
Tinggi, semapai, sederhana namun mevvah.
Kakinya ukuran 42 atau 43, aku lupa.
Yang aku ingat, dia beli sepatu harus di Payless.
Biar ada ukurannya.
Gitu, katanya.
Ya, pokoknya hari itu aku terpana, deh.
Malamnya.
Botol-botol yang dihabiskan Willy lebih banyak
Botol pertama isinya kesunyian,
Botol kedua isinya kebingungan,
Botol ketiga isinya hati yang berkeping.
Kemudian Willy pulang dengan kepingan mimpinya,
Setahun kemudian,
Willy datang dengan kepingan yang lain,
         ternyata masih kepingan
         dari botol yang berbeda.
Yang aku suka, selalu Rawamangun.
Willy akan selalu kembali ke Rawamangun.
Hari ini Willy sudah pulang lagi,
Tidak ada sepatu ukuran 42 atau 43 yang meninggalkan jejak
di Rawamangun
dan
memorinya Willy.
Tapi Willy bisa pulang dengan lapang,
ya gak lapang bangetsih, setidaknya
hari ini tasnya tidak seberat tahun lalu.
Aku selalu suka Willy di Rawamangun.
Meski sebenarnya, aku bingung mau ajak ngobrol apa!
Tapi aku gak mau Willy bawa tas-tas yang lebih berat dari kelihatannya.
Rawamangun gak kemana-mana sih,
Jadi, Willy selalu bisa pulang kapanpun dia mau,
        itupun kalo Willy mau, hehehe.
Tapi jujur, aku juga gak tau ini tulisan macam apa.
Aku cuma mau bilang bahwa aku senang Willy kembali kesini.
Willy selalu ada sih, sejak aku bangun ini semua dengan Hamzah.
Willy adalah bagian dari pondasiku di Rawamangun.
Nanti balik lagi deh, ke Rawamangun.
Bawa buah hati kayaknya asyik, hehe.









