Butuh keberanian besar untuk saya akhirnya kembali menemukan jati diri, menemukan apa yang sebetulnya saya inginkan, saya butuhkan. Tak sulit ternyata, Dear. Cukup percaya saja, jangan ragu, lepaskan rasa takut.
Masalah rambut, boleh dibilang saya orang paling konsiten. Sekiranya selama tujuh tahun terakhir, bisa dihitung dimana dan oleh siapa saya dipotong rambut. Kenapa begini?
Trauma. Betul, saya seringkali dikecewakan oleh si pemotong. Maunya apa, jadi apa. Bahkan, saya ingat betul, di salon yang mengusung salah satu merek perawatan rambut ternama, semasa di TK dulu, rambut lurus saya ini sempat berubah jadi menyerupai helm. Bayangkan. Dan tahun ke depan, bagi sayam perkara rambut bukan hal sepele.
Semenjak saya duduk di bangku SMA, resmi saya urus dan rawat rambut secara intens. Jangan heran, saya bisa saja dua sampai tiga minggu sekali potong rambut. Pertama, saat itu, saya sedang program penebalan rambut alami. Karena berbagai vitamin dan lain sebagainya gak pernah ampuh, dalam tiga tahun bahkan enam tahun saya tekuni cara tersebut, Alhamdulillah.
Kedua, saya memakai poni depan. Sehingga, rajin-rajin potong dan merapihkan pun sudah jadi kewajiban. Kalau tidak ingin dianggap \m/, he-he.
Dari perjalanan sekian lama, rambut saya tanpa poni depan bisa dihitung. Alias jarang. Awal semester satu dan saat tugas akhir, saya ingat betul, momentum saya transformasi sok kekinian, tanpa dora.
Lebih dari setahun terakhir ini, rambut saya dibiarkan ala kadarnya. Panjang gak jelas, poni rata. Setiap ngaca, saya sedih, kok begini. Kok rasanya bukan aku ini tuh.
Padahal dulu, saya begitu mengidamkan poni yang sama panjang dengan rambut. Ternyata ya biasa saja, enaknya hanya karena bisa diikat seluruhnya.
Begitulah manusia, kebiasaan : mencari apa yang tidak ada.
Akhirnya, Jum’at (13/11/2015) saya dibakar semangat untuk memangkas rambut. Kembali menjadi sosok yang sebetulnya paling nyaman.
Bilang saya lebay, karena tinggal di Tasikmalaya setahun belakangan, saya baru berani potong rambut di sini di bulan kedelapan. Sebelumnya bagaimana? Iya, ke Bandung. Lho kok sampai akhirnya berani?
Karena, si Mbak yang biasa megang sejak SMP itu pulang kampung ke Kroya. Masa iya harus disamperin ke sana? Mungkin ini waktunya moving up.
Saya meninggalkan kebiasan potong selama tiga minggu sekali, justru saya potong kalau merasa sudah pusing dan gak enak sama rambut. Potongannya pun biasa banget, hanya dibentuk seperti biasa. Gak ada yang spesial.
Tiga minggu lalu, sebetulnya saya baru juga potong rambut. Memangkas rambut yang semula sudah agak panjang jadi sebahu lagi. Masalah poni, saya biarkan panjang saja. Mau kembali jadi dora, tapi ragu.
Entah dari mana keberanian itu datang, di salon yang sebelumnya bahkan gak pernah kudengar, gak ada review di internet, saya membiarkan rambut ini, pasrah.
“Panjangnya kurang lebih sama, dibentuk ouval. Tapi pakai poni depan lurus, gak perlu yang rapih, acak saja,” mintaku saat itu.
Deg-degan luar biasa, gak kebayang kalau sampai harus gagal. Rambutkuu! Tapi itulah, keberanian. Sebanding dengan apa yang ditakutkan. Hasilnya memuaskan, sepulang dari salon, aku gak berhentinya senyum.
Sampai kata Mama, kamu kok narsis banget.
Padahal, mereka semua gak tahu, kenapa aku belakangan terus menerus senyum, aku ketemu lagi sama Astri, si pribadi yang sebetulnya. Welcome back!