Pernah disuit suitin di jalan? Ditatap laki laki dari atas sampai bawah? Berjalan lalu satu dua orang berkomentar soal fisik kita? Itu namanya pelecehan.
Kita bukan anjing, tak pantas disiul siul. Tubuh kita bukan barang yang bisa dinikmati walau sekedar ditatap (itu sebabnya saya tak suka perempuan disamakan dengan emas, permata, atau perhiasan). Dan kita bukan domestik animal yang setiap orang bisa memanggil kita dengan sebutan sayang.
Pagi ini, saya berjalan dengan sahabat saya untuk pergi ke gereja di depan Taman Pintar Jogja. Lalu, segerombolan laki laki dengan bar barnya menggoda kami. Mulai dari menatap, melontarkan joke joke porno yang tidak lucu, sampai mengomentari fisik.
Mereka salah pilih lawan! Kalau mereka berpikir saya akan malu malu atau lari mereka salah.
Yang saya lakukan adalah berhenti berjalan. Menatap balik, atau lebih tepatnya melotot. Mungkin mereka shock, mereka langsung terdiam.
Pulangnya, kami melewati jalan yang sama. Tak ada lagi siulan, tak ada lagi joke joke receh yang memuakan.
Saya bukan orang yang akan diam saja ketika orang lain membuat saya tidak nyaman. Tubuh saya adalah otoritas saya. Tubuh saya bukanlah bentuk demokrasi dimana semua orang bebas melontarkan pendapatnya.
Saya pernah mendatangi seseorang, karna dia menatap saya dari atas sampai bawah. Saya tanyakan apakah kami saling mengenal? Jika tidak, saya tidak suka ditatap terus menerus.
Kita seringkali diam, dan menganggap hal hal diatas adalah sebuah kenormalan. Apakah normal laki laki mengumbar ketertarikannya pada perempuan? Tidak normal, laki laki juga diciptakan mempunyai akal, mereka bukan binatang yang dikendalikan oleh napsunya.
Apakah salah perempuan karna tidak mengenakan busana tertutup? Apakah dengan mengenakan busana tertutup menjadi jaminan tidak ada pelecehan sexual? Tidak juga kan, hanya barangkali dan mungkin.
Jika mengalami hal hal yang membuat dirimu tidak merasa nyaman, kamu harus berani mengungkapkan. Tubuhmu, otoritasmu!