Gue belakangan lagi sering banget muter Catholic Easter Colours-nya Northern Picture Library. Suasana lagunya tuh menggambarkan banget apa yang gue rasain, belakangan ini. Sampai-sampai, gue jadi sedikit terdorong buat nulis.
Udah kurleb 30 tahun gue mondar-mandir di bumi dan mayoritas gue melewati itu semua dengan satu kaka perempuan dan dua adik laki-laki. Apa yang gue lihat sekarang, ketika umur adik terkecil gue, Aldi, akan menginjak 25 tahun kaya mengajarkan gue tentang satu hal.
Ada pepatah Jawa yang mengatakan âUrip iku urupâ, harfiahnya hidup itu menyala, maknawinya hidup itu bermanfaat kepada sesama.
Tapi bagi diri gue sendiri, gue selalu nyaman mengartikan kalo di dalam setiap orang ada nyawa yang berbentuk api. Kalo apinya nyala, ya dia masih hidup. Kalo apinya mati, yaâŚ
Itulah argumen yang coba gue buat tentang Diqi bertahun-tahun yang lalu ke Bokap, kalo udah sejak lama gue perhatiin anak ini tuh esensinya udah mati. Dan dengan kasar, bisa gue bilang, yang bunuh ya Bapaknya sendiri. Sosok yang dengan otoriter mengarahkan si anak penurut ini kesana kemari tanpa arah dan pertanggungjawaban yang jantan.
Diqi tuh udah lama mati. Hari ini, dia menuju tahun keempat sebagai pengangguran. Udah banyak tangan terulur dari keluarganya, tapi nihil hasil.
Dan semenjak Aldi beberapa minggu lalu memutuskan untuk kembali ke rumah sebagai pecundangâkarena dia minta pulang ke rumah sebab frustrasi sama proses skripsiannyaâgue berpikir, âWah, nambah lagi mayat di rumah.â
Pagi gue berangkat, lampu kamar mati. Petang gue balik, lampu masih mati juga.
Kalo dipikir-pikir, dari keempat anak Bokap gue, hanya tinggal gue dan Mba Lina yang nyala, yang hidup, wajar. Uniknya kami bertolak belakang sekali.
Menurut gue, Mba gue ngga kenal penderitaan sejak kecil, hidup sempurna penuh prestasi, dan kelihatannya ketika gerbang surga dibuka nanti dia akan termasuk golongan yang paling pertama masuk.
To her credit, hidupnya memang selurus dan seberhasil itu. Karena dia adalah muara dari semua rasa cinta yang Bokap gue miliki sepanjang hidupnya, gue menerima dan mewajarkan kalo kesuksesannya ini adalah contoh bahwa Bokap gue âbisa mendidik anakâ. Kalo mau dibilang di hidupnya ada penderitaan, ya paling menderita punya adik kaya gue.
Gue, di sisi lain, hidup dengan rentetan cerita menyedihkan dan ga punya torehan apapun di hidup. Kebanyakan waktu di hidup gue habiskan mempertanyakan ngapain gue hidup dan manfaat apa yang muncul dari keserba-tidakberdayaan gue di muka bumi ini. Gue ngga menghidupi sosok sebagai anak atau adik atau kaka sebagaimana umumnya.
Hidup seperti ngga ada maknanya buat gue, dan gue juga ngga memberi makna apa-apa kepada hidup ini. Tapi untuk mengakhiri hidup sendiri, gue belum punya keberanian.
Anehnya, dengan cara masing-masing, kami bertahan hidup. Kami seperti dua ekstrem yang justru karna ekstremitas itu jadi hidup, sementara mereka yang di tengah, malah mati.
Terutama Aldi, adik yang dulu gue banggakan karena tindak tanduknya paling mirip sama gue dan selalu gue lindungin dari omelan orang-orang. Dulu gue berpikir, âIni anak lebih pintar dari gue. Bisa lah dia ngurus hidupnya sendiri.â Ternyata, enggak sama sekali. Hanya status mahasiswa yang menyelamatkan dia dari predikat sampah masyarakat.
Gue selalu jadi tipikal saudara yang âKalo lo liat bagus di gue, ambil. Kalo lo lihat jelek, jangan ikutin. Hidup lo di tangan lo, urus hidup lo sendiri.â Mereka di rumah yang ngeliat amburadulnya hidup yang gue urus sendiri ini dari mulai tonjok-tonjokan sama bokap, dipukilin nyokap, berantem sama Mba Lina, dan semua hal buruk lainnya yang mungkin kalo ga terjadi saat itu, mungkin gue ngga sebertahan hidup seperti hari ini.
Justru, yang membuat semuanya jadi begitu menyedihkan buat gue di titik ini, adalah⌠kalo ada orang, di rumah ini, di rumah di mana kita semua tumbuh bersama ini, yang terkenal seneng matiin lampu, mengunci diri di kamar, berlama-lama sendirian dan ngga bicara ke siapa-siapa, itu gue. Puluhan, belasan tahun yang lalu gue menekuni hal itu.
Sekarang gue ngerti kenapa Bokap agak terlihat kecewa ketika beberapa tahun yang lalu gue bilang mau cabut dari rumah dan tinggal sendiri: Kelihatannya untuk sementara waktu gue diminta ngurus kuburan dulu.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Sebagaimana judulnya, edisi Maret ini gue isi dengan lagu-lagu minta maaf. Karena Maret salah satu bulan paling panjang dan selalu diisi dengan himbauan bayar pajak. Gue harap, selama itu jugalah gue bisa hidup sehingga bisa membayar pajak maaf gue ke orang-orang yang gue merasa punya salah ke mereka. Kalo gue bisa minta maafin mereka satu-satu, gue mati deh abis minta maafin orang terakhir.Â
Spring, Cherry blossom, and you itu semua yang pengen banget gue ungkapin tapi ga bisa, terutama ke Widya dulu waktu ngga akur-akurnya, dan setelah itu, dan setelahnya lagi, sampai beberapa masa laporan pajak berikutnya. Meh~ Lucunya malah gue ketemu lagu ini jauh setelah putus dari Widya, bahkan lagu ini sendiri kan piano piece ga ada liriknya. Ngapa gue bisa bilang dia itu semua yang pengen banget gue ungkapin ya. Piano sih emang, instrumen musik yang paling bisa nenangin kecamuk dan sekaligus ngisi kekosongan yang gue rasain di diri gue. Entah gimana itu bisa begitu, favorit banget sejak kecil, sejak gatau kalo ternyata itu bunyi tuts piano.Â
Ooh Baby Baby itu gue inget banget pertama kali denger pas di kostan TT, waktu itu ada Mba Jes muter lagu ini sambil humming2 di pintu kamar Ilham (kayanya numpang ngisi daya baterai dia). Gue yang lagi anteng di ruang tamu dengan spontannya, dan mata berbinar-binar merona penuh semangat seperti merasa terpanggil bidadari surga terus nanya, "Jes, ini lagu apa judulnya, ya?" Dari hari itu sampe hari ini, beberapa tahun kemudian udah berapa ribu kali ya lagu ini gue denger haha. Enak banget anjir! Gue pikir suara bidadari surga seindah suaranya Someky Robinson ini kali ya! Dan kalo ditanya intro lagu yang paling gue suka, nah gue udah paten, suka banget intro lagunya Ooh Baby Baby. Alasannya ya karena berarti intro itu menandakan bahwa lagu Ooh Baby Baby akan segera dilantunkan dan gue pun akan dengan senang hati berdendang. Dah.
Februari tuh kan bulan paling pendek ya, nah untuk merayakannya edisi kali ini gue kurasi lagu-lagu yang lumayan panjang durasinya. Belakangan ini emang lagi suka dengeri Prog-rock, jadi ini antara panjang durasinya, atau nuansa lagunya yang absurdum (di beberapa nomor yang pendek). Ada semacam rasa penat dan panik ngedenger raungan gitar yang diulang berpuluh-puluh kali, kaya merangsang sesuatu di dalem kepala gue buat meledak (atau gendang telinga(?)). Tapi gue mau kenalan sama dia ini.Â
Just itu contoh gitar yang meraung-raung dan gue suka banget karena porsi liriknya dikit sisanya gitar yang 'bernyanyi'. Like paper cuts tuh fantasi gue aja sih, gue suka berfantasi gue nyanyiin lagu ini sama Aliyuna. Tau dia denger lagu ini apa engga, tapi dari lirik sama aransmennya sih udah selevel absurdum sama tulisan-tulisannya Aliyuna. Move in Silence itu lagu gubahan 'anak bangsa' terakhir kali ya yang paling gue antusias banget dengerinnya, dan sampe sekarang masih kerasa betul euforianya waktu pertama kali dengerin. Anjir padahal udah lama banget itu, tiap pagi berangkat kerja dengerin lagu itu dulu biar semakin mompa semangat gue yang emang selalu menggelora somewhere along my vein lah, and, my vain, he~
Ah iya, belakangan ini gue ngurasi daftar putar tematik di Spotify gitu tiap bulannya. Tujuannya adalah karena sebagai individu, gue pengen bisa jadi ruang di mana sisi ke-Dionysus-an itu bisa selalu didorong untuk berkembang. Diinspirasi dari pengalaman gue baca bukunya Nietzsche yang âThe Birth of Tragedyâ sih, itu ngebantu gue banget untuk ya, dikit-dikit ngupas enigma di dalam diri gue sendiri yang kurang lebih mayoritas rimbanya masih asing.Â
Apa yang gue pahami tentang Dionysus itu sesederhana, setiap medium karya seni yang bisa bikin si âgueâ ilang, atau minimal melebur lah jadi satu sama entitas lain (entitas kolektif, misalnya) dan alam. Nietzsche berargumen kalo sebenernya masyarakat yunani klasik tuh bukan maju semata-mata karena mereka berkarakteristik Apollonian (oposisi biner Dionysus) doang, yang penuh dengan dengan kedisiplinan, keteraturan, dan keharmonisan individu. Tapi juga karena mereka semacam punya apresiasi terhadap pesimisme yang tak lagi mengenal batas-batas kewajaran. Tujuan akhirnya adalah dua karakter seni ini bisa diapresiasi dengan seimbang, sehingga ngga ada yang saling berlebihan dan ngasih dampak negatif.
Nah, musik tuh, selain sepakbola, adalah hal yang paling bisa bikin âgueâ ngerasa ilang dalam momen. Makanya gue pilih salah satu caranya adalah dengan nyusun daftar putar di mana ketika gue butuh, gue bisa ngilang saat itu juga. Kaya kalo di masyatakat klasik ada festival tertentu yang pesertanya bebas mabuk, dansa, dan nyanyi misalnya beberapa bulan sekali. Nah idenya, gue punya momen kek itu sebulan sekali, karena pasti stimulus2 buat suram atau proses2 mengolah emosi yang sulit tuh pasti ada aja minimal sekali lah sebulan.
Kenapa January Embers, ya karena ini dibuatnya bulan Januari. Ajeng lahir bulan Januari dan âJanuary Embersâ itu dari puisinya Ben buat Beverly di film âItâ. Gue suka banget sudut pandang film itu ketika memposisikan jatuh cintahnya Ben ke Bev: cintahnya gak berbalas, itu tuh kayanya mayoritas penonton juga lebih milih Bev jadian sama Bill dibanding Ben, tapi kehatangannya terasa dan awet bahkan sampe di sequelnya pas mereka udah pada tua dan ujungnya pada ga ada yang jadi juga. Dan dari dulu gue pengen banget gendut gitu kaya Ben. Shit man, kagak kesampean ampe sekarang~
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Belakangan gue bersyukur, ya. Nasib mujur sebab gue ber-ke-takdir-an, ber-ke-nasib-an mengikuti, ya memantau gitu, puan yang gue kagumi.
Sungguh gue sekadar mencari informasi keberadaan kawan lama saja. Si bung ini, yang mengenalkan gue dengan puan. Kok berulang-kali sobek kalendar senyap tiada beritanya. Berpesan pun tak berbalas. Mulai terbesit, ada apa.
Ah, siapa tahu puan ada kontak dengan si bung, adakah kiranya mungkin si bung sudah berganti alamat. Tak pula berencana menanyakan kabar puan. Ingin, tapi ya ngapain. Sudah lama tidak ngobrol, malas mulai lagi dari nol.
Dilalah, si bung muncul ke permukaan duluan. Niat bertanya, urunglah. Sebenarnya dengan itu pula sekaligus ingin berhenti mengikuti, tapi ya, terlanjur kagum.
Si puan. Tubuhnya mungil, rentan terserempet angin. Klaster kurang nutrisi, terlihat elok nan anggun seperti bukan idamannya. Gayanya indies a la aktivis, tidak beragam cukup hitam sewarna.
Senyumnya jarang, bola matanya jika diincar dan kemudian terjerat, mata bertemu mata begitu ya, seperti hitam semua. Jika musti tersenyum, pasti memandang ke bawah atau buang sekalian ke pelosok jauh. Teknik klasik orang-orang nelangsa.
Tapi ya justru dari situ akan sangat menyenangkan jika berkenan mengundang masuk lewat kedua mata.
Cakapnya teratur, seirama dengan nafas yang telah berkawan baik dengan hidup yang kelihatannya, sulit untuk dibayangkan. Pemilihan frasanya terdidik, emosinya tidak dibiarkan untuk terkekang. Keluar begitu saja, dari celoteh spontan, dari nada bicara, dari sorotan mata ketika malam. Â
Ada kenginan jiwa yang kuat untuk merdeka. Tapi setelah itu, apa.
Prinsipnya tercermin dari sudut yang digunakan untuk memandang, kawan-lawan, hitam-putih, kemampuan tapi juga sekaligus ketakberdayaan dimaknai sebagai pilihan-pilihan yang musti diterima, tapi juga bisa diubah.
Paling cepat mengendus kemunafikan dan lantang berbicara apa adanya, di depan muka. Pujian, cacian. Darinya gue belajar bahwa pada akhirnya memilih institusi tempat kita bekerja adalah soal sejauh apa kita bisa mengompromikan idealisme yang kita junjung selama kuliah.
Brilian. Sepenggal kalimat yang tidak lebih dari lima detik untuk diucapkan, tapi akan selalu gue bawa sepanjang hidup. Nampaknya gue hidup bertahun-tahun ya direncanakan untuk mencetuskan kalimat itu, tapi kadung kedahuluan.
Hidupnya menyendiri, tidak berkelompok. Pun iya, sebatas kelompok kecil. Kalau ajak temu pun, inginnya satu dengan satu. Tidak lebih.  Â
Ada zona nyaman yang sangat sempit di situ, sebenarnya. Selektif, harus siap berdekatan sekaligus dilempar setiap waktu. Kami santap bersama di kaki gunung iya, di ibukota iya. Menahun yang lalu. Si bung bilang, kuncinya mudah: sentuh. Di sini dan di sana, maka serta merta akan runtuh segala ke-dingin-an-nya dan kekakuannya itu.
Apa iya musti begitu? Padahal yang diingini hanya sekedar tahu isi kepalanya, seruwet apapun itu, dan sekedar bertanya, âAda apa?â.Â
Musti ada kecerdasan emosional di balik kedua mata itu yang lebih dari sekedar layak untuk dijadikan teman mengobrol bersama dua buah cangkir. Dan musti, ada sejumput rumpun ilmu tentang bagaimana caranya bertahan hidup yang bisa gue teladani.
Tapi ini praduga, tahu jadi tahu tidak. Tahu masih, tahu sudah. Apapun, dia masih beredar di cakrawala dan sebagaimana yang bisa diharapkan, gue pun masih setia menikmati padan-memadankan katanya.
Puan, terima kasih. Mendoakan semua yang baik tumbuh dari pilihan-pilihanmu sendiri.
âOh how strong can you be with matters of the heart? Life is much too short to while away with tears..â (Queen, Jealousy)
Not the best lyrics Iâd say to sum up the situation, only mention it in passing though~
Well, you see, I once had a girlfriend. We broke up quite a few months before her graduation -not to mention a post-break up apocalypse that lasted for years. Although she texted me saying thanks and that I got a super sweet sweet dedicated line on her final assignmentâs remarks right after she passed her defense and hinted a lil bit about the idea of me showing up at her graduation. I didn't come, neither did I care to send her a congratulation.
Not only because she didn't explicitly invite me, not only because she had already had a new bf, but solely because I didn't even think it was academically.... worthy, appealing, or even -sorry this gets banal- interesting. You know me, I donât talk no BS with shits. Iâm a man of my very own taste. Few of those who knew the story were a bit bitter that I chose not to come, theyâre always saying âYa lo ngelakuin itu bukan untuk perasaan lo, Tong. Anggap aja sih lo ikut berbahagia, ikut ngerayain kebahagiaan orang gitu loh.â Especially since her parents knew me and how I always stood for her during some difficult periods over the course.Â
Similarly, I have a sister whoâs five years my senior. I didnât attend her graduation either. At times, I didnât even ask âKapan sidang, Mba?â, âWisudanya kapan, Mba?â, or even say hi! We both lived inside our own heads. Neither did The holy family let me know just WHEN.
Now, at 25, I realise that even to remain silent and have my pacifist mode on could sometimes lead to mistakes. Ya well, not a mistake as if I did something wrong but a taste of bitter in my mouth to know that I could've done better.
So, now, you see me doing the double job, trying to make up for the lost ground while putting myself into a situation where I can express my affection to life at best. Iâve always been honest to myself. These two are the very persons to whom my affection and respect have been lasting for years and it would be great if the affection stays this way for many years to come.
I took my chances and I wouldnât want it to be anybody else as my affection and respect are not for just anybody. This time, I came to congratulate them. Be part of their happiness throughout and the extended version of happiness that prolongs itself to the then-beyond-reach past times. I donât know if my presence made them happy as much as they made me, I hope they were and they might remember that I came âWell, I didnât even come to my sisterâs graduationđ so you know lah how I hold you both in high esteem, kyaa~ I mean, how Iâve learnt my lesson.
I hope nobody does math to this as the equation would not favor my colleague and cousin, obviously. I attended this event for four of them âplus myself, those who were there yesterday and those who had been and should have been at the Balairung of Universitas Indonesia quite a few years ago, and I was equally pleasant to do so, each has her own fragments in my memory thatâd add to the pieces of my life puzzle, something nice to look back upon.
So, here you see Iâm paying my debts and people, forgive me for caring, but if youâve experienced similar trouble with the past I just want you to know âand this is the very reason behind thisâ that this is healing. This is, healing. I have a tutor we talked about self-healing so often, his name is William, itâs also thanks to him that things get easier for me. Now, I can be at peace with myself and we both carry on our shared life, smiling. Dear myself, I forgive you.
Mungkin ada di antara kalian yang lahir tahun 97? Di tahun itu percobaan bundir Pendejo Paloh gagal. Mungkin di saat yang bersamaan gue sedang senang-senangnya mengumpulkan semut-semut di pekarangan. Apapun, semoga suka. Â
Ini ya, lagu cinta paling ngehek pake âkâ! Nuansa-nuansa kantor senen pagi yekan, dan orang-orang belum pada bisa âmove onâ dari liburan panjang mereka. Sementara suasana perasaan semendung awan mega yang sedang memeluk Jakarta dari atas sana. Dipeluk, dari atas. Senin pagi, sambil cekikikan. Cepet-cepet, terus udah.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Setelah selama ini gue kebanyakan gagal dalam perjudian ketika memilih film untuk ditonton di bioskop, kali ini taruhan gue tepat sasaran! Yak, film ini bener-bener seru buat ditonton dan punya banyak sekali nilai positif dari berbagai aspek.
Sebelumnya, ada beberapa alasan kecil yang gue buat sehingga gue memutuskan untuk memilih film ini:
(1). Nuansa filmnya pas awal nonton trailer mirip El Topo (1970) dan Holy Mountain (1973). Ada kesan âcultâ di film ini yang kentara banget di benak gue dan sebagai penikmat film-film âcultâ ya gue langsung terdorong untuk ingin tahu lebih, itu sih alasan numero uno-nya. Apalagi ada adegan sadistis di mana kepala orang dipotong-potong, aduh itu eyegasm lah. State of the art.
(2). Marsha Timothy. Gue suka banget film yang dibintangi oleh aktris berparas cantik âkhosâ -udah bukan pakai kata âkhasâ lagi, tapi khos- sebagaimana cantiknya paras wanita Indonesia dalam buku-buku legenda. Apalagi dalam paras dan posturnya kini, Marsha sempurna secara visual dan pseudo-visual. Sebelumnya, gue juga harus jelasin kalau -secara separuh genealogis separuh konstruksional- gue punya empat karakteristik fisik -yang hanyalah satu dari entah berapa ratus determinan lain- yang membuat perempuan tuh gak sepintas lewat doang di depan mata, yakni: a) Lingkar lengan b) Bentuk tulang pipi dan dagu c). Kemampatan (Aslinya bahasa Fisika sih ini) dan d) Jatuhnya rambut di wajah tanpa riasan dan hiasan.
(3) Perempuan sebagai tokoh utama dan sudut pandang penarasian film itu gue suka banget. Ketertarikan gue dalam membedah isi kepala perempuan tuh berangkat dari keprihatinan gue akan banalitas yang menjangkiti isi kepala para perempuan. Tapi semenjak gue ketemu lagunya Interpol yang berjudul âHands Awayâ dan gue super duper suka sama lagu itu, gue akhirnya sadar... bahwa sementara itu banalitas memang menjangkiti isi kepala para perempuan, tapi, ada juga sisi di dalam kepala mereka yang bisa sangat tertekan oleh keadaan. Dan bisa jadi, situasi depresi ini berkaitan dengan banalitas tadi. Siapa tau, banalitas para perempuan yang sejak dulu gue anggap semenjana adalah satu-satunya jalan hiburan yang mereka punya dari keterkungkungan mereka dalam cara hidup masyarakat patriarkis? Nah, sejak itu gue selalu tertarik kalau sudut pandang yang dipakai dalam menarasikan sesuatu tuh, sudut pandangnya perempuan. Ada sisi daya dobrak dan rasa ingin bebasnya gitu loh cara pandang perempuan-perempuan mandiri, iya kan? Dan itu tuh jarang ditemuin di isi kepala laki-laki pada umumnya. Ada yang mau dibuktiin sama perempuan, sementara laki-laki tuh cenderung nerusin yang ada~
Jatuhnya film ini di mata gue: Emang bener, udah saatnya perempuan ngebunuh laki-laki. Berontak. Melawan. Malahan, kalau bisa, putar balik zaman sampai perempuan jamak untuk memperkosa laki-laki di tempat-tempat rawan, angkot, hutan, sekolah, warnet, dsb.
Emang dasarnya gue paling ogah sih menjelakan isi film secara deskriptif karena pengalaman terbaik dari sebuah suguhan seni audiovisual gue yakin berada di mata dan telinga masing-masing penonton.
Nah, dari menonton film ini ada beberapa kesan yang gue ambil sebagai pelajaran baik:
(1) Rape Culture. Ini tuh tricky ya, karna gue selalu reflektivis jadi mungkin gue sebagai laki-laki bisa aja bilang âGue anti rape culture.â Tapi kadang gue gak sadar kalau mungkin hal kecil yang gue lakukan tuh, terindikasi mengarah ke sana. Walau kadang, jauh. Semisal, cat calling. Sebenarnya ini tuh yang seringkali terjadi ke diri gue tuh seperti ini: Gue selalu klaim kalau ketika gue berbicara, gue bicara dengan penuh rasionalitas. Jadi gue akan berbicara secara sopan nanhalus dengan penuh kesadaran, dan, menghina orang dengan penuh kesadaran juga walau sangat jarang gue jadikan opsi untuk dipilih. Tapi terkadang, ketika alamnya adalah tentang alam bercanda, justru di situ gue lupa kalau candaan gue yang gue selalu anggap lepas, bebas dan netral itu ternyata bisa jadi menyakiti orang lain. Tanpa sadar. Itulah fatalisme kecil yang sering terjadi ke gue. Mungkin sedikit banyak, model seperti ini terjadi juga dalam aspek rape culture atau bahkan ya, cultural violence, seperti yang diajarkan oleh Johan Galtung. Contoh cultural violence tuh kaya jaman sekarang, baik sadar maupun tidak sadar orang semenjana pada umumnya selalu mengambinghitamkan âorang cinaâ atas segala derita yang dia hadapi. Semacam begitulah. Penyakit mengakar, tapi sulit disadari kecuali kita melihat itu sebagai observer terhadap orang selain kita. Makanya lebih baik menjaga kan, daripada salah perilaku. Ya kalau Rape Culture tuh sebenernya definisinya cuma satu kok, ketika tidak saling mengizinkan kemudian ada perlembagaan power over something dan jadilah. Tapi semua argumentasi ini batal ya kalau digunakan untuk mengukur jasa pelacur dan mereka yang kelacur-lacuran. Kalau itu, asas resiprokal namanya.
(2) Sumba itu indah banget. Gue itu asli sukak banget sama cara si sutradara mengarahkan angle-angle kamera sehingga deru ombak, tenang laut, hembus angin, semburat jingga, dan segala pertanda alam yang indah nian itu, tereskploitasi dengan sangat baik. Birahi estetika mata gue pecah ketika lihat pemandangan hamparan bukit luas yang mencium tepi laut, haduh ini sih halu~ Asli, bumi Sumba itu indah banget. Padang rumput tandus menghampar luas, menguning sementara jalan aspal yang hanya satu-satunya itu membelah perbukitan menyelingi beberapa gubuk yang menyendiri, ujung ke ujung. Luar biasa, pemandangan yang âalam liarâ bin âalam luarâ sekali. Kaya ngeliat aquarium perbuktian selama nonton film ini. Dan ini, cukup mengokupasi gairah berlibur gue yang semakin membuncah semenjak kerja. Indah banget, asli.
(3) Aspek sosio-kultural masyarakat Sumba. Maklum, sebagai pengguna analisis wacana aspek sosio kultural menjadi ujung tombak dari bagaimana mengartikan suatu wacana bergulir dalam praktik-praktik teknis di antara subjek dan objek serta medium wacana. Ngarang. Tapi jujur, dari film ini gue belajar tentang rupa-rupa masyarakat Sumba dengan berbagai elemen kebudayaan dari mulai bahasa, logat, cara melafalkan kata, panggilan/sebutan, nyanyian, pakaian sehari-hari, pakaian adat, benda berharga, penerapan teknologi, mata pencaharian, fungsi kepolisian, akomodasi, logistik, pendidikan, tingkat harapan hidup, makanan, budaya pernikahan, hingga elemen-elemen budaya lainnya yang ikut terjamah dalam narasi cerita semacam bayi sungsang lah atau mahar nikah masih pakai sapi. Ini semua yang bikin rasa ingin tahu gue terus berkembang seiring berjalannya cerita. Dan yang paling mengena sih tentang gimana sulitnya hukum ditegakkan di daerah nun jauh di sana, sebab sumber daya manusia dan logistik yang minim membuat tujuan keadilan tidak bisa dipenuhi negara. Diperkosa, membunuh. Menuntut balas, memperkosa. Membunuh, lahir anak.
Film ini punya aspek narasi yang cukup kuat, dan keindahan alam serta aspek sosio-kultural yang ditampilkan membuat narasi cukup padat lagi berwarna. Dibaginya ke dalam pembabakan mengingatkan kita pada romansa zaman Pulp Fiction, walau tentu berbeda. Film ini berisi dan, berkarakter.
Most people were less pretentious on Tumblr. As I have been curiously insisting on facebook while at the same time loosing the interest on instagram -the very mother of all evil- I ended up closing my account on both platfrom. Hereâs a tale from Jatinangor that would answer the question, âwhyâ.
At one point of my life, there was this man who excelled on philosophy taught me a simple law of logics. He asked me a very simple question, âWhy does rain fall?â Easy-peasy. âRain does fall because of some chemistry reaction up there that turns the cloud into waters.â I answered. âNo, wrong.â He replied while repeating the question. I found it very stimulating and I tried to explain the whole cycle of rain -same answer, just more detailed explanation. As I was confidently speaking, the response was nothing but shocking. âYea..yea..yea I knew it but still, WRONG.â
That broke me down, a bit. Still, this curiosity wouldnât raise the white flag any time soon. But having already answered with the most scientifically accepted explanation and finding it was getting far far more difficult to catch, I then tried to answer with all the possible answers from A to Z with relying heavily only on abstract relation of natural causal. Simply put, my model mental. I even started to make a comparison of natural and artificial rain from their causes to their effects. Still, a big NO from Him. Anyway those two were still the effects from the same cause, chemical reaction.
Irritated by my smart ass moves, He then intervened and asked me to remember and repeat the question.
âWhy does rain fall?â
He then said, âOut of every possible answer to this question from all perspectives, logics only accept one causal, and that is, gravitation.â
Kudos to you for having this dumbass astonished, Sir!
So the point is, in logics the most basic principle is causality. And in causality, whether you use it in terms of alphabetical or numerical uses, you can never separate a cause from its effect, vice versa. The premise works this way: C is the result of constant interaction between A and B. If we change that B to D, then the result will be other than C, because in logics each fact is always separable one to each other, itâs distinctive and we perceived it as, permanent.
In my case, all of my answers were incorrect because it fell on the premise regarding its existence while the question was simply asking why does it fall. Fall, in its literal meaning. You couldâve answered because water naturally seeks lower surface or because water contains masses. But still, the answers didnât appeal. Gravitation was the sole reason. period. Thatâs how logics work. General and universal.
So in short: Why do I have facebook account and managed to maintain it for, lets say, almost ten years? At times, I had these A and B to make the premise logical. Lets say, it was the abstract form of my own facebook and instagramâs gravitation. Thus, the logic stands correctly and make me have a straight answer to the question. But we have already acknowledged that in social relations between human, nature and aesthetics, there isnât any permanent determinants (pretty much like constants in physics or math), and I recently lose the âBâ , making the use of that premise is irrelevant anymore.
The removal of B from such premise demands a radical change involving the question of existence, reasons, purposes, means, and all. As I feel so reluctant on changing some very fundamental aspects in my life, I chose to close the accounts and sought other place.
Having said all this, Tumblr is that âsomewhere niceâ designed only for my runaways. Anyway, this song is very soothing. Some radical changes in life are just.... inevitable.
Bingkisan ku bawa pulang dari Goethe hari ini, kapan saja ketemu kata âFrankfurtâ gue selalu termotivasi untuk mencapai mimpi itu. Ya hari ini pulang bawa foto, besok nanti pulang bawa gelar dari Frankfurtnya langsung. Silakan dimarahi kalau salah, berdasarkan ilmu dari perguruan duolingo yang gue dalami -dan tak kunjung selesai- selama bertahun-tahun, tertulis:
âFrankfurt merupakan Ibukota finansial Eropa di mana di sana berdiri Bank Sentral Uni Eropa. Arus uang yang bersirkulasi di Frankfurt mengalir dalam jumlah yang sangat besar. Dengan 57 juta orang pengunjung per tahunnya datang melalui Bandara Frankfurt menjadikannya (kota finansial) yang terbesar di dunia.âÂ
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Bu Mega, dikerudungin manis juga ya. Gue selalu kagum, murni karena gue paham orang lahir dengan nama besar yang diturunkan Ayahandanya kepada beliau itu, gak mudah. Ada segudang ekspektasi dan stereotipe yang, pastinya, akan membebani setiap langkah beliau di kemudian hari. Toh, dari sekian anak Pak Karno, hanya Beliau yang mampu mendulang prestasi politik dari mulai di depan hingga ke belakang âlayarâ. Harusnya jadi tokoh keperempuanan yang kini makin marak diperbincangkan.
Apa yang gue lakukan? Gue hanya mencoba untuk tidak menjadi banal seperti selainnya. Dan gue berusaha seperti itu kepada siapa saja, termasuk lawan tanding politik Beliau, Pak Rizieq. Soal itu, nanti juga damai sendiri kok. Mulai aja dari dirilo sendiri^^
(via Indosoccer | berita dan opini seputar sepakbola Indonesia - Liga Indonesia - Divisi Utama : Kekalahan Perdana Persikad, Coach IJ: âKalah karena Kesalahan Sendiri bukan karena Kebagusan Lawanâ)