Mulia di tengah Minoritas
Bulan suci Ramadan tentu saja adalah bulan yang di rindukan oleh jutaan ummat muslim di seluruh penjuru dunia, dikarenakan dibalik bulan suci Ramadan menghadirkan ribuan berkah yang mengelilingi belahan bumi dan limpahan rahmaNya menyelimuti seluruh alam ciptaanNya.
Bagi saya pribadi, melewati bulan Suci Ramadan tahun ketiga di tanah rantau rasanya hampir sama saja seperti dua tahun belakangan yang telah lalu, rasanya sama-sama rindu suasana kampung halaman, rindu dengan suara adzan dari pengeras suara masjid dan juga rindu dengan mas-mas pentolan, mbak-mbak penjual gorengan, dan jajanan-jajanan takjil yang berbaris memenuhi tiap-tiap bibir jalan menjelang waktu berbuka puasa.
Menjalani Ramadan di Negara yang islamnya minoritas memang terasa lebih ‘greget’ dan lebih menantang namun bukan berarti kami kesulitan untuk menjalaninya.
Alhamdulillah dengan kondisi menjadi minoritas itu justru memberikan kami
kenikmatan yang tiada tandingannya, menjadikan kami merasa jauh lebih memiliki kedekatan kepada Allah merasakan nikmatnya menjadi seorang muslim yang sedkit namun kuat.
Lalu bagaimana kami menjalankan Ramadan di sini?
Berbicara tentang ibadah sholat, masjid di Negara tempat saya saat ini terbilang sangat minim, jumlahnya rata-rata hanya terdapat satu atau dua buah masjid di setiap kotanya, di kota saya sendiri saat ini hanya terdapat satu masjid yang terletak di pinggiran kota, jarak yang di butuhkan untuk sampai ke masjid tersebut sekitar 15 menit menggunakan taksi dan 30 menit bila menggunakan transport umum.
Tentu saja kondisi lokasi masjid yang jauh seperti ini tidak sama seperti di Indonesia, yang dimana setiap blok-blok daerah memiliki masjid, memiliki musholla atau memiliki saung untuk menunaikan sholat berjamaah, maka Alhamdulillah bersyukurlah teman-teman yang masih dikelilingi masjid sekitarnya, yang masih di dekatkan jaraknya dengan masjid.
Akan tetapi jarak masjid yang jauh itu tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak melaksanakan sholat berjamaah, khususnya tarwih, Alhamdulillah kami para mahasiswa muslim menggelar tarwih berjamaah di lapangan basket kampus kami, sama-sama berjamaah menunaikan shalat tarwih di setiap malam-malam Ramadan, sama-sama mengejar keberkahan ampunan dan ridho Allah SWT,
terpaan angin bahkan guyuran hujan yang terkadang turun membasahi sama sekali tidak menyurutkan semangat Ramadan kami, sama sekali tidak melunturkan rasa nikmat Ramadan itu.
Durasi berpuasa disini terbilang cukup sedikit lebih lama dibandingkan dengan durasi berpuasa di Indonesia. Terhitung waktu imsak dimulai dari pukul 2.30 dini hari sampai dengan waktu berbuka puasa di pukul 19.30 malam hari, 17 jam kurang lebih berpuasa ditengah jadwal kelas yang cukup padat dan panjang tidak menggendorkan semangat kami, hanya saja ‘terkadang’ tingginya suhu matahari diiringi godaan air mineral dingin membuat kami bergerutu dengan lamanya waktu berpuasa.
Berkahnya Ramadan di tanah rantau ini bisa kami rasakan keberkahannya secara kontan, salah satunya ialah keberkahan yang datang di waktu-waktu berbuka puasa, yaitu dimana teman-teman sesama muslim dari berbagai negeri, mereka selalu berlomba-lomba untuk memberikan hidangan untuk berbuka puasa, maka tak heran dalam waktu seminggu biasanya kami menerima undangan acara berbuka puasa sebanyak 3 sampai 4 kali bahkan terkadang lebih dari itu, Alhamdulillah dengan kesempatan tersebut kami bisa lebih mempererat tali silaturahmi dan juga bisa menikmati hidangan dari barbagai bermacam khas masakan.
Ohiya kerennya lagi, beberapa teman kami yang non-muslim juga biasanya turut mengundang dan menyiapkan makanan berbuka puasa untuk kami, muslim yang menjalankan ibadah puasa. J
Hal mendasar yang terasa indah dan menyejukkan ialah Perbedaan Negara, suku dan ras yang disatukan dalam Islam, berhasil mengajarkan kami bisa saling mengenal satu sama lain, mengajarkan kami bisa saling menghargai satu sama lain, dan khususnya mengajarkan kami bisa saling mencintai satu sama lain, semua itu tidaklah luput atas dasar kenikmatan dalam ber-agama islam yang di berikan kepada kami.
Atas dasar kenimatan islam yang di karuniakan kepada kami.
Sebagaimana yang termaktub dalam kitabulllah surat Al Hujurat ayat 13 :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Maka, Alhamdulillah dengan hadirnya Islam sebagai agama kami, menjadikan kami satu, terikat dalam tali persaudaraan, menjadikan kami kuat ditengah tanah rantau yang Islamnya minoritas, dan menjadikan kami mulia karena Islam adalah Izzah.
Jinzhou, 25 Ramadhan 1439