pesan kepada para milenial (dan diri sendiri):
1. semua keindahan dan kebahagiaan yang tampak di sosial media adalah (hanyalah) kulit luar. setiap orang memiliki gejolak dan keruwetan hidup sendiri, yang kebanyakan tidak kamu ketahui. jangan pernah membandingkan apa yang tampak di “permukaan hidup orang lain” dengan apa yang ada di “bagian terdalam hidupmu”.
2. kalau kamu merasa seperti dipanah jika melihat keindahan dan kebahagiaan orang lain itu–ada yang harus diperiksa dengan dirimu. mungkin kamu belum bersyukur atas dirimu sendiri. ubahlah caramu mengukur kebahagiaan: jangan dari yang paling sempurna ke yang kamu miliki, tetapi dari yang serba tidak ada (dari kemungkinan yang paling buruk) ke yang kamu miliki–niscaya kamu lebih bersyukur.
3. irilah kepada orang-orang yang tepat, yaitu mereka yang berilmu dan mengamalkannya di jalan kebaikan, serta mereka yang berharta dan membelanjakannya di jalan kebaikan.
4. orang yang bertumbuh tidak pernah iri dengan pertumbuhan orang lain. orang yang bertumbuh juga tidak iri dengan keberhasilan orang lain. mereka iri kepada orang lain yang bertumbuh–kepada kegigihannya, ketekunannya, keuletannya, kesabarannya. hal ini mendorong diri mereka untuk menjadi semakin baik.
5. berlomba dalam kebaikan tidak berarti berlomba dalam mendapatkan sesuatu–jodoh, karir, prestasi, dan sebagainya–tetapi berarti berlomba dalam memberikan dan membagi sesuatu–makna dan manfaat. ingatlah bahwa saingan terbesarmu dalam perlombaan ini adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. yaitu dirimu yang kadang malas, menunda-nunda, tidak penuh menghayati yang dilakukan, atau kurang sabar dan kurang ikhlas.
6. kalau ingin bersama-sama maju, sadarilah bahwa sekarang bukan zamannya untuk berperang di kolom komentar atau berbalas-balas status #nomention yang seakan membicarakan di belakang. sekarang ini zamannya kita berperang gagasan. lebih baik lagi, berperang karya.
7. pada dasarnya, jangan pernah membandingkan apapun. bahkan, jangan pernah membandingkan ujian yang diterima orang lain dengan ujian yang diterima olehmu. melalui ujian yang kita lalui, Allah tidak sedang menunjukkan siapa yang kuat siapa yang lemah, tetapi melihat siapa yang dekat dengan-Nya, siapa yang tidak.
ini saya setiap buka timeline Path dan Instagram, “ya Allah jadikanlah kami manusia yang pandai mensyukuri nikmat-Mu. limpahkanlah kepada kami rasa syukur sebanyak nikmat yang Engkau limpahkan.”