To Love and To Be Loved; To See and To Be Seen #2: The Unseen Wounds
— Bandung, Juli 2026
Suatu malam di Bandung, selepas training offline selama dua hari, aku membuat janji bertemu dengan seorang teman yang sudah kukenal sejak TK. Kami sudah saling mengenal sejak usia ketika definisi "teman" masih sesederhana berbagi bekal (yes, Ibuku ingat betul, bersama dua teman lainnya, ia turut menghabiskan bekal nasi goreng buatan Ibuku karena porsinya terlalu besar untuk dihabiskan sendirian) atau bermain di halaman sekolah. Rasanya lucu melihat bagaimana, bertahun-tahun kemudian, akhirnya kami kembali duduk di meja yang sama sambil membicarakan hal-hal yang dulu terasa begitu jauh dari kehidupan anak-anak.
Obrolan kami mengalir begitu saja. Kami membahas kehidupan setelah sama-sama beranjak dewasa dan kabar teman-teman kami semasa sekolah. Ia juga mengabarkan hal penting: di bulan Agustus nanti, ia akan menikah. Keputusan itu tidak datang dengan mudah. Aku tahu ada perjalanan panjang yang telah ia lalui sebelum akhirnya bertemu dengan perempuan yang kini akan menjadi pendamping hidupnya.
Malam itu, rasanya aneh sekaligus menyenangkan menyadari bahwa topik yang dulu terasa sangat jauh, kini menjadi percakapan biasa di antara kami. Aku lebih banyak mendengarkan, sesekali ikut tertawa ketika ia bercerita tentang hal-hal yang ternyata jauh lebih rumit dari bayanganku. Di tengah percakapan itu, tanpa benar-benar kupikirkan lebih dulu, aku berkata, "Aku pengen juga, deh, ngerasain rasanya to love and to be loved."
Ia tidak langsung menanggapi. Ia hanya tersenyum sebentar, lalu bertanya,
"Pas kamu mau mulai sebuah hubungan, emang tujuannya buat apa dulu? Mau have fun, atau memang fully committed?"
Aku tidak langsung menjawab.
—
Pertanyaan yang diajukan temanku itu mungkin terdengar sederhana, tetapi membuatku tersadar bahwa selama ini aku belum pernah benar-benar memikirkannya. Sepanjang hidupku, aku lebih sering membayangkan seperti apa pasangan yang kuinginkan, pernikahan yang kuimpikan, bahkan bagaimana diriku sebagai orang tua suatu hari nanti. Namun, aku lupa bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya apa yang kucari ketika memutuskan membuka hati untuk seseorang?
Mungkin itu sebabnya aku enggan tergesa-gesa untuk memulai hubungan. Aku tumbuh sebagai anak tunggal, dan tanpa sadar terbiasa menghabiskan banyak waktu bersama diriku sendiri. Aku belajar bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Ada sore-sore yang kuhabiskan dengan hal-hal yang aku senangi, ada akhir pekan yang terasa cukup meski tanpa rencana dengan siapa pun, dan ada banyak keputusan yang bisa kuambil tanpa merasa ada yang kurang. Barangkali karena itulah aku tidak pernah melihat hubungan sebagai sesuatu yang harus mengisi kekosongan. Hidupku sudah terasa utuh. Yang kuinginkan bukan seseorang untuk melengkapinya, melainkan seseorang yang suatu hari nanti ingin bertumbuh bersamanya.
Tanpa kusadari, detik itu aku sedang mengakui sesuatu pada diriku sendiri bahwa di balik semua kenyamanan yang kurasakan sebagai seseorang yang hidup sendiri ternyata tetap ada bagian dari diriku yang ingin merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, dalam konteks romansa dua insan. Selama ini aku selalu berkata bahwa aku baik-baik saja sendiri. Memang benar, aku menikmati kesendirianku, menikmati kebebasan yang menyertainya, dan tidak pernah merasa hidupku kurang hanya karena belum memiliki pasangan. Namun, di saat yang sama, rupanya ada keinginan yang selama ini tidak pernah benar-benar kuakui: aku ingin merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang dan dicintai dengan utuh.
Pertanyaan itu pelan-pelan membawaku menoleh ke belakang. Yang datang ke kepalaku malam itu bukan jawaban, melainkan wajah-wajah dari masa lalu; orang-orang yang pernah singgah, pernah membuatku percaya, pernah membuatku kecewa, dan pada akhirnya ikut membentuk caraku memandang sebuah hubungan. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menerima bahwa semuanya telah selesai, sampai lupa bahwa setiap hubungan selalu meninggalkan sesuatu untuk dipelajari.
Ada satu cerita yang terbersit di benakku; cerita semasa SMP yang, kalau dipikir-pikir sekarang, perasaan itu bertahan jauh lebih lama daripada yang pantas disebut cinta monyet. (Menyedihkannya) aku pernah menyukai seseorang selama bertahun-tahun. Karena rasa itu menjadi terlalu berisik untuk terus kusimpan sendiri, jadi aku memutuskan untuk mengatakannya. Kalau kata Nisa pada saat itu, "Daripada aku menyesal beribu tahun kemudian, maka aku katakan sekarang aku akan lawan! perasaanku."
Kalau diingat-ingat, aku menjadi terhibur (dan sudah di tahap meledek diri sendiri.) Seperti, "Wow, berani juga, ya, aku waktu itu." Memangnya aku semantap Siti Khadijah sampai merasa bisa menyatakan perasaan lebih dulu? Tapi mungkin memang begitulah caraku dari dulu. Aku hanya ingin jujur. Polosnya, aku mengira kemungkinan terburuknya paling hanya ditolak.
Plot twist-nya, yang datang bukan jawaban "iya" atau "tidak". Pesanku dibaca seminggu kemudian dan... poof, he left me without answering. Percakapan kami berhenti begitu saja tanpa pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Sejak itu, kami berhenti saling berbicara selama hampir dua tahun.
Saat itu aku mencoba menerima semuanya sesederhana mungkin. Tidak semua perasaan harus dibalas, dan tidak semua orang merasa perlu memberikan penjelasan. Hidup terus berjalan, begitu juga denganku. Bisa dibilang, aku cukup denial pada saat itu. Walaupun setelahnya ia kembali dan meminta maaf, tetapi ternyata ada dampak yang jauh lebih besar setelah itu: kebiasaan untuk mencari-cari alasan lahir. Aku mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu pada diriku yang membuat seseorang lebih memilih pergi dalam diam daripada berkata jujur?
Beberapa tahun setelahnya, aku bertemu seseorang yang membuatku percaya bahwa mungkin kali ini ceritanya akan berbeda. Kami menjalin hubungan, saling mengenal lebih dekat, dan untuk pertama kalinya aku merasa tidak perlu lagi menebak-nebak apakah perasaanku bertepuk sebelah tangan atau tidak. Namun, hubungan itu pun berakhir.
Alasannya bukan karena kami berhenti saling menyayangi. Ia berkata bahwa ia memilih pergi karena merasa dirinya tidak pernah benar-benar sepadan denganku, tepat setelah pertemuan keluarga. Saat itu aku berusaha meyakinkannya bahwa hubungan tidak pernah tentang siapa yang lebih hebat atau lebih tertinggal. Kalau aku memilih bersamanya, bukankah seharusnya itu sudah cukup? Namun, semakin bertambah usia, aku mulai memahami bahwa rasa tidak layak sering kali tidak bisa disembuhkan hanya dengan diyakinkan oleh orang lain. Boleh jadi ada luka yang sudah ada jauh sebelum kita hadir dalam hidup seseorang.
Ironisnya, aku baru menyadari bahwa dua cerita itu meninggalkan bekas yang hampir sama. Yang satu membuatku bertanya mengapa seseorang memilih menghilang tanpa penjelasan. Yang satu lagi membuatku melihat seseorang memilih pergi karena merasa dirinya tidak cukup. Lama-kelamaan, dua pengalaman itu bertemu di satu titik yang sama. Titik yang diam-diam membuatku mulai mempertanyakan diriku sendiri.
Untuk waktu yang cukup lama aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu pada diriku yang membuat orang memilih pergi. Pertanyaan itu kemudian berubah menjadi jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih menakutkan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
To Love and To Be Loved; To See and To Be Seen #1: The Unanswered Questions
— Tegal, Juni 2026
Katanya,
setiap orang punya garis waktunya masing-masing.
Seharusnya setiap kita tidak perlu merasa tertinggal hanya karena teman-teman mulai melangkah lebih dulu. Toh sejatinya hidup bukan perlombaan, kan?
Aku mengamininya.
Tapi belakangan aku justru sibuk memikirkan pertanyaan yang berbeda. Bukan kapan aku akan menikah, melainkan kenapa seseorang akhirnya memutuskan untuk menikah. Apa yang sebenarnya membuat seseorang yakin bahwa ia ingin menghabiskan hidup bersama orang lain? Kalau jawabannya bukan karena usia, bukan karena tekanan, juga bukan karena takut sendirian... lalu karena apa?
—
Akhir-akhir ini aku menyadari bahwa tidak semua percakapan berakhir ketika sebuah pertemuan selesai. Ada percakapan yang hilang begitu saja setelah laptop ditutup, tetapi ada juga yang membekas di kepala selama berhari-hari. Boleh jadi, tanpa sadar percakapan itu meninggalkan satu pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawabannya.
Bulan lalu, aku mengikuti sebuah training online. Jujur saja, kalau hari ini aku diminta mengingat kembali seluruh materi yang disampaikan, mungkin ada beberapa bagian yang sudah mulai kabur (sedihnya lagi, post-test yang ku kerjakan saja tidak lulus, hikd.) Yang justru masih kuingat adalah percakapan singkat dengan salah seorang peserta saat kami menunggu sesi dimulai. Aku tidak ingat persis bagaimana kami bisa sampai membahas hubungan dan pernikahan, tetapi yang masih tertinggal di kepalaku hanyalah satu kalimat sederhana yang ia ucapkan sebelum kami mengakhiri obrolan.
"Jangan menikah karena dikejar umur. Menikahlah ketika sudah siap."
Saat itu aku hanya mengiyakan. Kalimat itu bukan sesuatu yang baru. Aku sudah cukup sering mendengarnya dalam berbagai bentuk, baik dari media sosial, podcast, maupun obrolan santai dengan teman. Karena itu, aku mengira percakapan kami akan berakhir begitu saja.
Ternyata aku salah.
Beberapa hari setelahnya, kalimat itu terus muncul di waktu-waktu yang sama sekali tidak terduga. Saat sedang menyusun materi mengajar, saat berada di jalan pulang, bahkan ketika sedang mencuci piring. Lucunya, dari sekian banyak hal yang kubahas hari itu, justru satu kalimat itulah yang membekas.
Awalnya kupikir yang terus teringat adalah nasihatnya. Namun semakin lama kubawa ke mana-mana, semakin aku merasa bahwa yang sebenarnya menetap bukan kalimat itu, melainkan pertanyaan yang muncul setelahnya: "Kalau memang jangan menikah karena dikejar umur, lalu karena apa?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dijawab. Setiap kali mencoba menemukan jawabannya, aku selalu merasa semua alasan yang muncul terdengar benar sekaligus tidak benar-benar cukup.
Karena cinta? Mungkin itu jawaban yang paling sering kita dengar. Kalau cinta saja sudah cukup, seharusnya tidak akan ada pasangan yang saling mencintai lalu akhirnya memilih berpisah, bukan?
Karena ingin punya teman hidup? Aku juga mengenal orang yang tetap merasa kesepian meskipun sudah menikah.
Semakin lama ku renungkan, semakin aku merasa bahwa mungkin selama ini aku terlalu sering mendengar cerita tentang bagaimana sebuah hubungan seharusnya berakhir, sampai aku lupa bertanya pada diri sendiri: "Bagaimana sebuah hubungan seharusnya dimulai?"
Dari sana, semua pertanyaan ini sebenarnya berawal.
— Semarang, 2023. Ditulis ulang di Bandung pada Juli 2026.
Katanya,
ada beberapa hal yang lebih mudah ditulis daripada diucapkan.
Boleh jadi itu sebabnya surat tidak pernah benar-benar kehilangan tempatnya. Meski di masa sekarang orang lebih sering berkirim pesan lewat layar, rasanya masih ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang meluangkan waktu untuk menuliskan isi pikirannya. Ada jeda untuk memilih kata, ada keberanian yang muncul perlahan, dan ada perasaan yang akhirnya menemukan cara untuk sampai.
Kurasa itu benar.
Salah satu kebiasaanku yang masih bertahan sampai sekarang adalah menyimpan surat. Aku bahkan masih punya sebagian besar surat yang pernah dikirim untukku. Ada kartu ucapan ulang tahun, surat kelulusan, pesan-pesan kecil dari teman, sampai secarik kertas yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja. Sebagian kusimpan di dalam sebuah kaleng bekas bonus restoran cepat saji, sebagian lagi aku simpan di dalam pouch kecil. Tintanya masih sangat jelas, meski beberapa sudah berumur lebih dari sepuluh tahun.
Sesekali aku membukanya lagi, biasanya saat sedang suntuk atau ketika tanpa sengaja menemukan kaleng itu saat membereskan kamar. Yang kembali bukan cuma isi suratnya, tetapi aku seperti bertemu lagi dengan diriku di masa itu. Aku bisa membayangkan diriku di masa itu sedang dalam kondisi yang seperti apa dan bagaimana, dan situasi apa yang sedang terjadi kala itu.
Kalau dipikir-pikir, aku juga lebih suka menulis daripada berbicara.
Ada banyak hal yang bisa kusampaikan lewat tulisan, tetapi terasa canggung ketika harus diucapkan langsung. Menulis memberiku waktu untuk berhenti sejenak, menyusun pikiran, lalu memilih kata-kata yang paling mendekati apa yang sebenarnya kurasakan. Saat berbicara, semuanya terjadi terlalu cepat. Kadang aku baru tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan setelah percakapannya selesai. Kadang juga aku memilih diam karena takut kata-kataku justru memperkeruh keadaan.
Mungkin itu sebabnya aku selalu menyukai surat. Lewat tulisan, ada banyak hal yang akhirnya bisa menemukan jalannya. Terima kasih yang selama ini tertahan, maaf yang tidak pernah menemukan waktu yang tepat, perhatian yang baru kusadari setelah semuanya berlalu, atau rasa sayang yang terlalu canggung untuk diucapkan. Bukan karena perasaan-perasaan itu tidak ada, tetapi karena tidak semuanya mudah diterjemahkan menjadi kata-kata ketika harus diucapkan saat itu juga.
✉︎ Dear Nisa 2008, kamu nggak harus selalu bilang "nggak apa-apa".
Lucunya, aku justru tidak pernah menyimpan salinan surat yang kutulis untuk orang lain. Yang masih tersisa di rumah malah kumpulan tulisan sambat dan curhat untuk diri sendiri. Kalau kubaca ulang sekarang rasanya menggelikan. Kadang aku tertawa melihat betapa dramatisnya aku waktu itu. Kadang juga sadar bahwa masalah yang dulu terasa besar, sekarang tinggal menjadi bagian dari perjalanan.
Bentuk surat di era sekarang mulai bergeser. Yang biasanya ditulis di atas kertas perlahan berganti menjadi bentuk digital, seperti surel, pesan teks, atau screenshot percakapan yang kusimpan di Google Drive. Aku juga pernah menaruh tautan feedback anonim di Instagram. Awalnya hanya penasaran. Ternyata, banyak orang yang lebih berani jujur ketika mereka menulis daripada ketika mereka berbicara.
✉︎ Barangkali, ini juga surat... Terimakasih banyak... (•‿•)
Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada yang meminta maaf. Ada yang bercerita tentang kesan mereka setelah mengenalku. Ada juga yang mengkritikku dengan jujur. Sebagian besar mungkin tidak akan pernah mengatakan itu kalau kami sedang berhadapan.
Lama-lama aku sadar kalau yang kusimpan sebenarnya bukan sekadar surat semata, tetapi aku menyimpan kenangan dalam kata-kata. Karenanya aku sangat berterimakasih. Tulisan-tulisan itu membuatku lebih hidup, dan hal itu mengingatkanku bahwa setiap orang pernah meninggalkan jejak dalam hidupku, sekecil apa pun. Sebaliknya, aku pun pernah menjadi bagian dari cerita mereka.
if people are only passing seasons, why does losing them still hurt so much?
— Boyolali, April 2026
Belakangan ini, diriku sering memikirkan tentang taman.
Aku tidak begitu yakin kenapa. Boleh jadi karena semakin bertambahnya umur, aku mulai memperhatikan hal-hal yang dulu sering terlewat dari pandanganku, misalnya bunga di taman.
Saat pertama kali tumbuh, bunga tidak terlihat begitu penting. Yang penting, kita sudah menyiramnya karena memang itu yang harus dilakukan. Sesekali kita mengeceknya, lalu kembali menjalani hari seperti biasa. Tidak ada yang terasa istimewa. Sampai suatu saat, tanpa benar-benar disadari, bunga itu menjadi bagian dari taman. Kita mulai terbiasa melihatnya ada di sana.
—
Kurasa manusia hadir dalam hidup kita dengan cara yang serupa.
Sebagian besar orang yang ku anggap penting dalam hidupku tidak datang dengan cara yang istimewa. Semuanya dimulai dari hal kecil, seperti percakapan singkat. Percakapan-percakapan kecil yang terus berulang, perlahan menjadi sebuah rutinitas. Kehadiran yang biasanya, "Oh, oke, ya sudah," pun mulai terasa akrab.
Kalau dipikir-pikir sekarang, aku bahkan tidak bisa mengingat kapan tepatnya mereka berubah dari sekadar seseorang yang kukenal menjadi seseorang yang rasanya sulit kubayangkan tidak ada dalam hidupku.
Itu sebabnya perubahan terasa begitu aneh, setidaknya untukku.
Kadang aku mencoba mengingat kapan sebuah hubungan mulai terasa berbeda.
Apakah ada percakapan tertentu?
Apakah aku salah berbicara atau bertindak?
Atau, apakah ada kejadian lain yang menjadi titik baliknya?
Seiring berjalannya waktu, aku tidak menemukan jawabannya.
Perpisahan kadang tak selalu beriringan dengan adanya pertengkaran besar, even sometimes there's no goodbyes. Lebih menyedihkan lagi, tidak ada seseorang yang berdiri di hadapanku (atau setidaknya semacam rambu-rambu lalu lintas atau petunjuk) yang mengatakan bahwa setelah ini semuanya akan berubah. Kehidupan hanya terus berjalan selayaknya roda.
Orang-orang bertumbuh, kemudian menjadi sibuk. Keadaan berubah, prioritas mulai bergeser. Rutinitas baru menggantikan yang lama. Hubungan ikut berubah bersamanya. Suatu hari, tanpa sadar, kita menyadari bahwa ada bagian-bagian hidup kita yang tidak lagi mereka ketahui. Anehnya, kebanyakan dari kita baru menyadarinya setelah sekian lama berjarak.
Hal seperti ini sebenarnya normal dan aku yakin setiap manusia sudah melihat hal seperti ini berkali-kali, tetapi entah kenapa semuanya terlalu asing bagiku. Mungkin itulah yang selama ini berusaha kupahami.
Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak pertama kali aku duduk berhadapan dengan seorang psikolog, dan dua tahun terakhir aku juga menjalani terapi dengan psikiater. Kalau dulu ada seseorang yang mengatakan kepadaku saat masih remaja bahwa aku akan menghabiskan lebih dari satu dekade mencoba memahami diriku sendiri, mungkin aku akan mengira bahwa suatu hari nanti semuanya akan terasa jelas. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Aku memang jadi lebih memahami dari mana beberapa ketakutanku berasal. Aku mulai mengerti kenapa aku bereaksi terhadap hal-hal tertentu dengan cara tertentu. Aku belajar mengenali emosi sebelum emosi itu mengambil alih seluruh diriku. Tetapi ada satu hal yang sampai sekarang belum benar-benar kupelajari: bagaimana cara menceritakan semua yang kurasakan.
Masih ada percakapan-percakapan yang hanya terjadi di kepalaku.
Masih ada perasaan yang terus ku tunda untuk ungkapkan karena aku merasa tidak pernah ada waktu yang tepat.
Ada pula kekecewaan kecil yang terasa terlalu sepele untuk dibicarakan, tetapi juga terlalu berat untuk diabaikan.
Lama-kelamaan aku menyadari bahwa memahami sebuah emosi dan mengungkapkannya ternyata bukan hal yang sama. Kadang kita tahu persis apa yang sedang dirasakan, tetapi tetap tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada orang lain.
Belakangan ini aku sering bertanya-tanya ke mana semua hal itu pergi; semua kata yang tidak pernah terucap, percakapan yang tidak pernah terjadi, perasaan yang diam-diam kita pelihara karena tidak tahu harus diletakkan di mana. Apakah semuanya akhirnya menghilang? Atau justru menetap di dalam diri kita dan perlahan menjadi bagian dari siapa kita?
Mungkin karena itulah akhir-akhir ini aku lebih sering memikirkan tanah daripada bunganya.
Saat membicarakan taman, orang biasanya lebih memperhatikan bunga. Wajar saja, karena bunga lebih mudah dilihat, lebih mudah dikagumi.
Tetapi tanah selalu membuatku penasaran. Semua yang tumbuh pada akhirnya kembali ke sana. Setiap bunga yang mekar meninggalkan sesuatu. Setiap bunga yang layu juga meninggalkan sesuatu. Kadang aku bertanya-tanya, kalau sebuah taman hidup cukup lama, apakah tanahnya menyimpan jejak dari semua musim yang pernah dilaluinya?
Menariknya, menurutku manusia tidak jauh berbeda.
Ada hari-hari ketika aku merasa masih terlalu banyak hal yang belum benar-benar selesai. Namun, aku tetap memberi ruang bagi bunga-bunga baru untuk tumbuh. Aku tetap membiarkan diriku peduli. Tetap membiarkan orang-orang baru menjadi penting. Padahal aku tahu tidak ada jaminan mereka akan tinggal lebih lama dari yang lain.
Kalau dipikir-pikir, aku juga tidak yakin kenapa aku masih melakukannya. Mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu, atau tidak sama sekali.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
—sebuah harsh reminder yang selalu terpampang setiap membuka laptop
Bulan kemarin, kontrak kerjaku diperpanjang.
Harusnya ini jadi kabar baik, kan? Kontrak baru berarti ada kepercayaan baru. Ada tanggung jawab baru. Ada kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka di depan sana. Tapi ternyata, bersamaan dengan itu, datang juga pikiran-pikiran lain yang diam-diam ikut duduk di kepala setiap malam.
Sejujurnya, ini pekerjaan full-time pertamaku setelah sekian lama hidup dengan ritme freelance yang serba fleksibel. Bahkan sekarang pun aku masih mengambil side jobs di sela-sela semuanya. Kadang aku sendiri bingung, aku memang suka sibuk atau cuma takut kalau hidup terlalu tenang, pikiranku jadi ke mana-mana.
Dan, seringnya memang begitu...
Kadang di perjalanan pulang setelah kerja, atau saat malam sudah terlalu sunyi, aku mendadak kepikiran:
“Di tengah hidup yang serba berubah ini, apa sih yang benar-benar bisa dijamin akan tetap aman?”
Aku rasa aku tumbuh menjadi seseorang yang terlalu akrab dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak pernah benar-benar dijelaskan sampai selesai. Tentang kenapa aku harus lebih banyak mengerti keadaan dibanding dimengerti. Kenapa rasanya aku dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan, sementara orang lain masih sempat jadi anak-anak lebih lama. Entah kenapa, bahkan setelah berusaha sejauh ini, rasa “cukup” itu tetap terasa jauh.
Mungkin karena itu juga aku jadi terbiasa memikirkan banyak kemungkinan sebelum semuanya terjadi, seolah kalau aku sudah membayangkan skenario terburuknya duluan, nanti jatuhnya tidak akan terlalu sakit (padahal yaa... tetap sakit juga kadang, haha). Dan, itulah anehnya manusia.
Karena terlalu lama hidup dalam mode “siaga”, aku jadi sulit percaya bahwa sesuatu bisa berjalan baik-baik saja tanpa harus dicemaskan dulu. Bahkan saat semuanya terlihat aman, pikiranku tetap sibuk mencari kemungkinan retaknya di mana.
Aku dulu berpikir kalau sudah punya pekerjaan tetap, mungkin hidup akan terasa lebih tenang. Ternyata tidak juga.
Rupanya hidup cuma mengganti bentuk kekhawatirannya.
Dulu takut tidak punya pekerjaan, sekarang takut tidak cukup baik untuk mempertahankannya.
Dulu takut tidak punya arah, sekarang takut ternyata sedang berjalan ke arah yang salah.
Dari semua hal itu, aku baru sadar satu hal kecil: Mungkin semua “what if” yang muncul di benak kita itu sebenarnya tidak salah.
Mereka memang melelahkan. Kadang datangnya jam dua pagi saat badan sudah capek dan otak harusnya istirahat. Kadang muncul di tengah hal-hal baik, seolah tidak membiarkan diri sendiri merasa tenang sepenuhnya.
“What if aku gagal?”
“What if semua ini tiba-tiba hilang?”
“What if ternyata aku tidak sekuat yang orang kira?”
“What if dulu aku mencoba hal ini lebih awal?”
“What if ...”
Tapi akhir-akhir ini aku mulai melihat mereka dengan cara yang berbeda. Barangkali semua “what ifs” itu cuma bagian dari diri kita yang terlalu ingin bertahan hidup; bagian yang pernah kecewa, pernah kehilangan arah, pernah merasa tidak aman, lalu sekarang jadi sibuk memastikan semuanya tidak terjadi lagi.
Semua kemungkinan buruk yang terus berputar di kepala itu, mungkin sudah waktunya “dimaafkan”. Tidak harus dipaksa hilang supaya kita terlihat lebih tenang atau lebih dewasa. Karena toh, selama ini kita semua tetap hidup sambil membawa mereka.
Yang sering kita lupakan bahwa keberanian ternyata bukan soal tidak takut sama sekali. Kadang keberanian cuma berarti tetap menjalani hidup meskipun kepala penuh pertanyaan yang belum punya jawaban.
Jadi, kalaupun kita sampai sekarang masih wondering, masih sering overthinking, masih sering takut pada hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi, it's a normal thing.
And, wondering a little too much is just another way of being human.
Tentang Menerima, Bahkan Ketika Tak Ada yang Bisa Diubah: Interpretasi Film Sore: Istri dari Masa Depan dari Seorang Depression Survivor
Sebagai seseorang yang pernah hidup dalam gelapnya depresi, film Sore terasa terlalu dekat. Tulisanku ini bukan sekadar interpretasi, tapi catatan perjalanan: tentang kehilangan, penyesalan, dan belajar menerima.
—
Aku memutuskan untuk menonton Sore: Istri dari Masa Depan sepulang bekerja tanpa ekspektasi. Awalnya kupikir ini bakal jadi film sci-fi romantis yang ringan, manis, dan mungkin sedikit absurd. Tapi ternyata, dari menit ke menit, film ini justru terasa seperti cermin—memantulkan versi diriku yang dulu pernah sangat lelah. Yang pernah berhenti berharap. Yang pernah berpikir bahwa menghilang mungkin lebih mudah daripada bertahan.
Dan di balik cerita cinta lintas waktu yang manis, aku melihat satu hal yang lebih dalam: proses berduka atas hidup sendiri. Sebagai penyintas depresi, aku nggak bisa nggak membaca perjalanan Jonathan sebagai bentuk dari 5 stages of grief—bukan karena dia kehilangan orang lain, tapi karena dia sedang kehilangan dirinya sendiri.
Denial: Saat Semua Terasa Kosong, Tapi “Nggak Apa-Apa”
Jonathan terlihat baik-baik saja. Rutinitasnya berjalan normal, tapi hatinya datar. Seperti kamu pernah bilang, "Aku nggak apa-apa"—padahal jauh di dalam, kamu hilang rasa. Ini fase denial yang halus, tapi nyata.
Denial bukan selalu tentang menolak kenyataan secara terang-terangan. Kadang justru bentuknya lebih tenang—lebih bisa diterima oleh orang lain—karena tampak fungsional. Jonathan tetap bekerja, tetap tertawa sesekali, bahkan bisa menjalin hubungan. Tapi ada kehampaan yang melandasi semuanya. Seperti seseorang yang hidup di balik kaca bening: tampak hadir, tapi jiwanya jauh di dalam.
Bagian paling menyesakkan dari fase ini adalah: tidak ada yang sadar bahwa kamu sedang tenggelam—termasuk dirimu sendiri. Karena segalanya berjalan seperti biasa, kamu pikir semua ini cuma fase. Tapi lama-lama, kamu lupa rasanya merasa hidup. Kamu cuma menjalani hari. Satu per satu. Tanpa makna.
Itu pula yang terjadi pada Jonathan. Dan yang sering terjadi pada banyak dari kita yang pernah diam-diam kehilangan arah dalam hidup.
Anger: Marah, Tapi Tidak Sadar
Di permukaan, Jonathan terlihat datar, bahkan terlalu tenang. Tapi ada satu lapisan emosi yang perlahan terungkap: ia sebenarnya marah.
Bukan marah yang meledak-ledak. Tapi marah yang diam. Marah yang dia simpan sendiri, karena dia nggak tahu harus ditujukan ke siapa, atau bahkan bahwa ia sedang marah.
Jonathan menyimpan luka karena ditinggal ayahnya—yang memilih menikah lagi dan membentuk keluarga baru. Figur ayah yang seharusnya jadi rumah, malah pergi. Dan itu meninggalkan perasaan ditolak, tidak cukup, tidak layak dicintai.
Sebagai anak, Jonathan mungkin tidak bisa memproses pengkhianatan itu. Jadi emosinya dikubur. Menumpuk. Dan suatu hari, muncul dalam bentuk... kebekuan hidup.
Banyak penyintas depresi mengalami hal serupa. Mereka bukan tidak marah—mereka hanya kehilangan arah kemarahan itu. Ia bisa berubah menjadi kelelahan, sinisme, atau bahkan rasa malu karena merasa “nggak boleh” marah.
Bargaining: “Kalau Aku Bisa Mengulang…”
Bargaining di film ini bukan terjadi pada Jonathan, tapi pada Sore. Dialah yang datang dari masa depan. Dialah yang menawar kepada waktu—memohon kesempatan untuk memperbaiki.
“Kalau bisa mengulang seribu kali, kuharap aku bisa terus memilihmu.”
— Sore
Kalimat ini bukan cuma bentuk cinta. Tapi juga bentuk penyesalan terdalam. Karena Sore adalah sosok yang tertinggal. Yang menyaksikan seseorang yang ia cintai pergi begitu saja. Dan kali ini, dia ingin melakukan sesuatu. Apapun. Sekecil apapun. Asal bisa membuat perbedaan.
Bargaining adalah fase ketika kita mulai menawar pada semesta, pada Tuhan, pada waktu. "Kalau saja aku datang lebih cepat... kalau saja aku lebih peka... kalau saja aku bisa kembali ke titik itu..." Semua 'kalau' itu jadi mantra yang diputar di kepala berkali-kali. Karena kita merasa belum siap melepaskan. Karena kita merasa masih bisa melakukan sesuatu.
Bargaining juga kadang menyamar sebagai obsesi memperbaiki. Seperti Sore, yang terus kembali ke awal, mencoba lagi dan lagi. Mengulang percakapan, mengubah pendekatan, berharap kali ini berhasil. Tapi semua usaha itu, walau indah, tetap berakar dari satu rasa: takut kehilangan. Dan dari rasa bersalah karena merasa belum cukup berjuang.
Tapi sekuat-kuatnya cinta, tidak semua hal bisa diperbaiki.
Depression: Kehidupan yang Hilang Sebelum Mati
Jonathan nggak depresi secara eksplisit. Tapi dia terlihat kelelahan. Ada kehampaan dalam hidupnya yang nyaris permanen. Dan seringkali, bentuk paling senyap dari kedukaan atau luka batin itu bukan tangisan... tapi rutinitas tanpa rasa.
Jonathan nggak meninggal karena ingin mengakhiri hidup. Tapi dia juga tidak benar-benar hidup. Sampai akhirnya tubuhnya menyerah lebih dulu—karena serangan jantung.
Dan di situlah cerita ini dimulai: Sore datang dari masa depan. Bukan karena Jonathan meminta diselamatkan, tapi karena Sore sendiri yang nggak bisa menerima kenyataan bahwa seseorang yang ia cintai pergi begitu saja tanpa tahu bahwa dirinya dicintai.
Ini bukan cerita tentang bunuh diri. Ini adalah cerita duka—yang menyamar sebagai kisah cinta. Kadang, rasa bersalah dalam kedukaan itu bisa terasa seperti lubang hitam. Terutama kalau kamu adalah orang yang tertinggal.
Acceptance: Ketika Cinta Tak Menyelamatkan, Tapi Membuat Bertahan
Yang bikin Sore: Istri dari Masa Depan begitu menyentuh adalah karena Jonathan nggak berubah total, dan Sore nggak bisa menyelamatkan semuanya.
Dia sudah kasih tahu Jo untuk berhenti merokok, tidur cukup, jaga makan. Tapi Jo ngeyel. Merokok lagi, begadang lagi, dan menyepelekan hidupnya sendiri. Akhirnya, Sore kehabisan cara. Dia “kembali lagi ke awal”, berharap bisa mencoba lagi, satu putaran lagi. Karena dia belum siap kehilangan. Karena dia terlalu cinta.
Kalimat: “Kalau bisa mengulang seribu kali, kuharap aku bisa terus memilihmu.” bukan cuma kata-kata manis. Itu bentuk penerimaan pahit: bahwa cinta nggak selalu bisa mencegah kehilangan. Tapi setidaknya, dia bisa membuat proses kehilangan itu sedikit lebih hangat.
Ketika Waktu Mulai Marah: Saat Cinta Harus Belajar Melepaskan
Akhirnya, setelah putaran demi putaran waktu, Sore (nyaris) berhasil membawa Jonathan bertemu kembali dengan ayahnya. Bukan pertemuan yang dramatis. Tapi itu momen penting—karena dari situlah luka Jonathan berasal.
Sore berharap, mungkin kalau luka lama itu bisa bertemu jawabannya, Jonathan akan berubah. Akan lebih peduli pada hidupnya sendiri. Akan bertahan lebih lama.
Tapi nyatanya… waktu tidak mengizinkan.
“Dia mulai marah…”
Kalimat itu jadi peringatan halus. Bukan karena Sore jahat. Bukan karena Jo nggak pantas hidup lebih lama. Tapi karena takdir bukan untuk diintervensi—melainkan untuk diterima.
Setelah mencoba kembali ke awal lagi… dan lagi… Setelah lelah mengulang harapan yang sama… Akhirnya Sore menyerah, bukan karena dia berhenti mencintai, tapi karena dia mulai mengikhlaskan.
Di putaran terakhirnya, dia tidak lagi mengatakan: “Aku istri dari masa depan.”
Melainkan,
“Aku istri kamu selamanya.”
Itu pengakuan bahwa cinta sejati tidak memaksa perubahan. Cinta sejati hadir, menemani, menyentuh sebentar, lalu merelakan, meski hati patah berkeping-keping.
Perubahan yang Sejati Datangnya dari Dalam
Sore akhirnya memahami sesuatu yang penting: orang berubah bukan karena dituntut, tapi karena dicintai. Dan bahkan cinta tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang—kalau orang itu sendiri belum memilih untuk menyelamatkan dirinya.
Kalau kamu pernah berusaha memperbaiki seseorang, kamu pasti tahu rasanya. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang terkunci dari dalam. Kamu boleh mengetuk, bahkan berteriak. Tapi sampai mereka sendiri memilih membuka pintu itu—kamu hanya bisa menunggu, atau pergi. Itu juga bukan berarti kamu gagal. Itu berarti kamu mencintai dengan cukup lembut… sampai kamu belajar melepas.
—
Cinta yang Menerima, dan Diri yang Juga Perlu Dicintai
Film Sore bukan tentang menyelamatkan orang lain. Itu tentang mencintai—sedalam yang kita bisa—lalu membiarkan waktu bertindak. Sama halnya untuk diri sendiri: kamu tidak harus sempurna untuk dicintai. Kamu hanya perlu memulai untuk mencintai diri dengan tulus, penuh kesadaran, dan kesediaan untuk berubah dari dalam.
Sebagai seorang penyintas depresi, aku merasa terwakili oleh keduanya: Aku pernah menjadi Jonathan, yang tak tahu caranya berubah. Aku pernah menjadi Sore, yang ingin memperbaiki seseorang sampai lupa menjaga diri sendiri.
Dari mereka, aku belajar bahwa cinta yang dewasa bukan soal memperbaiki, tapi menerima dan menemani sampai akhir.
Kalau kamu juga sedang kehilangan, sedang gagal menyelamatkan seseorang, atau sedang mencoba bertahan, semoga kamu tahu:
Kamu cukup. Kamu berharga.
Bahkan jika waktu tidak berpihak, kamu masih bisa memilih untuk mencintai. Tanpa harus memiliki. Tanpa harus menyelamatkan.
Seni Merendah: Tulus atau Hanya Sekadar Pencitraan?
Katanya,
rendah hati bisa membawa kita ke hal-hal baik dalam hidup.
Bisa bikin orang nyaman, dihormati, bahkan mungkin lebih mudah mencapai sesuatu. Kedengarannya bagus, ya? Tapi kenyataannya, nggak sesederhana itu.
Ada orang yang benar-benar rendah hati karena mereka tulus. Mereka nggak butuh pengakuan, nggak merasa harus pamer, dan tetap tenang meski punya banyak pencapaian. Tapi ada juga yang cuma terlihat rendah hati, padahal dalam hatinya nggak sebaik itu. Ada yang memakai kerendahan hati sebagai amunisi politik—bukan untuk ketulusan, tapi untuk mendapatkan simpati, pujian, atau bahkan keuntungan tersembunyi.
Yang seperti ini biasanya baru terasa kalau diperhatikan lebih lama. Mereka yang sungguh rendah hati nggak akan sibuk menunjukkan kalau mereka rendah hati. Nggak perlu bilang, "Saya mah nggak suka sombong," atau merendah berlebihan supaya kelihatan baik. Mereka juga nggak pakai sikap rendah hati buat bikin orang lain merasa nggak enakan atau berutang budi.
Sebaliknya, ada orang yang dengan halus menutupi kesombongannya dengan kata-kata sederhana. “Ah, saya mah nggak jago,” padahal dalam hati berharap ada yang membantah dan memuji. “Saya sih cuma beruntung,” padahal dalam pikirannya dia tahu betul usahanya memang layak dihargai. Kata-kata seperti ini sering kali terdengar seperti kerendahan hati, tapi bisa jadi justru cara halus untuk menarik validasi dari orang lain.
Di sisi lain, nggak semua orang yang berkata demikian bermaksud rendah hati palsu. Kadang, ada juga yang benar-benar merasa dirinya nggak cukup baik, meski sebenarnya sudah berusaha keras. Ini yang sering disebut impostor syndrome—perasaan seolah-olah kita nggak pantas atas pencapaian yang kita raih. Bedanya, impostor syndrome datang dari rasa kurang percaya diri, sedangkan rendah hati palsu lebih ke trik sosial untuk mendapatkan validasi.
Dan bukan cuma itu. Ada juga orang yang tampak begitu baik, penuh empati, dan suka membantu, tapi sebenarnya ada maksud lain di baliknya. Mereka menawarkan pertolongan, bukan semata-mata karena ingin membantu, tapi karena ingin membangun citra tertentu, mendapatkan loyalitas, atau bahkan menanam budi agar suatu hari bisa menagihnya. Pernah ketemu orang yang bilang, "Santai aja, gue bantuin kok," tapi kemudian di lain waktu menyindir, "Dulu gue yang nolongin kamu, masa sekarang nggak bisa balas?"
Niat baik yang terselip kepentingan pribadi ini yang sering kali sulit dibedakan. Kadang terlihat seperti ketulusan, padahal di baliknya ada kepentingan tersembunyi. Dan ketika akhirnya terungkap, rasanya seperti dikhianati, padahal dari awal mungkin kita yang kurang peka.
Tapi kalau dipikir-pikir, kita semua pernah ada di posisi ini. Pernah merendah bukan karena tulus, tapi karena ingin terlihat baik. Pernah berpura-pura nggak peduli, padahal sebenarnya ingin diakui. Pernah membantu seseorang dengan harapan ada balasan, meski tak terucap. Itu manusiawi. Kita semua, dalam satu atau dua momen dalam hidup, pernah memainkan peran itu.
Hidup selayaknya panggung, dan kita adalah wayang yang memainkan peran protagonisnya agar warna asli kita tertutupi.
Kita berusaha menampilkan versi terbaik diri kita, bahkan jika itu berarti harus memakai topeng. Tapi sampai kapan?
Rendah hati yang tulus itu nggak perlu diumumkan, nggak perlu dijadikan amunisi politik, nggak perlu dipakai sebagai alat transaksi sosial. Dia seperti akar pohon—diam, tersembunyi, tapi memberi kekuatan sejati. Sedangkan rendah hati yang hanya pura-pura adalah bayangan di panggung sandiwara—mungkin tampak nyata, tapi akan menghilang begitu lampu-lampu mulai dipadamkan.
Bayangkan saja, siapa yang menyangka kalau orang-orang terdekat kita—saudara, teman, bahkan orang tua—yang setiap hari kita temui, ternyata harus pergi mendahului kita. Waktu rasanya berlalu secepat kilat, dan kita jadi berharap bisa terus bersama mereka. Sekalinya bisa melihat wajah mereka lagi, yang ada hanya foto di buku Yaasiin.
Saat kita mendengar ada yang meninggal, otomatis kita ikut berduka cita. Namun sebenarnya, kita tidak pernah tahu apakah duka cita itu tulus dari hati atau hanya basa-basi saja. Kadang, ada juga yang malah senang diam-diam, meski tidak tampak di permukaan. Ini, menurutku, benar-benar tidak berempati.
Sementara itu, hidup terus berjalan. Kita yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidup, meski kadang rasanya berat. Semua kenangan bersama mereka yang telah pergi, entah itu manis atau pahit, tetap akan selalu ada di hati. Kadang kita tersenyum sendiri mengingat momen lucu bersama mereka, atau mungkin menangis ketika rindu berat.
Hidup memang tidak selalu adil, tapi di situlah kita belajar menghargai setiap momen dan orang yang masih ada di sekitar kita. Jangan sampai kita menyesal karena tidak sempat menunjukkan rasa sayang dan perhatian kita saat mereka masih ada. Jangan biarkan kesibukan atau ego menutupi rasa sayang kita kepada orang-orang terdekat. Karena pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kenangan dan doa.
Dan ketika akhirnya tiba waktu kita sendiri untuk pergi, kita berharap orang-orang yang kita tinggalkan bisa mengenang kita dengan senyuman dan doa yang tulus. Sebab, meski raga kita tak lagi ada, cinta dan kenangan indah yang kita tinggalkan akan terus hidup di hati mereka.
Hidup memang kadang lucu dan penuh kejutan. Yang bisa kita lakukan adalah menjalani setiap hari dengan penuh rasa syukur, cinta, dan perhatian. Jadi, mari kita nikmati setiap detik yang kita punya, bersama orang-orang yang kita sayangi, sebelum waktu benar-benar memisahkan kita.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sekali Lagi—Pada Akhirnya Kita Tidak Bisa Menghalangi Perpisahan (Bagian 2)
Baca Bagian 1 di sini.
—
“Hargailah pertemuanmu dengan baik; perpisahan terakhir itu tidak selalu dipisahkan dengan kematian.”
— Wirbel, dalam Frieren: Beyond Journey's End
—
Adalah benar bahwa perpisahan terakhir tidak selalu dipisahkan dengan kematian. Meskipun demikian, bagaimanapun jalannya perpisahan itu terjadi, setidaknya kita harus menghargai setiap waktu yang ada selagi kita masih bisa bertemu dengan orang yang kita sayangi; entah itu orang tua, teman, sahabat, ataupun kekasih.
Setiap makhluk di Bumi diberi waktu 24 jam sehari. Terdengar sangat banyak, ya? Ternyata sangat terbatas; entah karena kesibukan atau hal lain.
Jika ternyata perpisahan terakhir harus dipisahkan dengan kematian, ini menjadi sangat menyedihkan. Mengingat bahwa mereka yang telah tiada sudah tidak bisa berjalan beriringan lagi di dunia. Boleh jadi kita berharap kita bisa selamanya bersama, namun siapalah kita di mata Tuhan?
Mestinya kita ingat bahwa kita harus memanfaatkannya dengan baik, terutama untuk mensyukuri dan menghargai setiap pertemuan. Karena waktu takkan terulang, sedang kita tak pernah tahu masa yang akan datang.
—
Tangkapan layar percakapan Nisa dengan Yangti di waktu berbuka puasa saat menjaga Yangkung di rumah sakit, 2023
Salah satu doa yang selalu aku panjatkan sepanjang waktu,
“Tuhan, izinkan saya melakukan semua hal yang saya inginkan tanpa penyesalan di masa mendatang.”
Saya tidak terlalu dekat dengan Yangkung. Beliau orangnya cenderung kaku, sedangkan aku terlalu banyak bercanda. Ya, walaupun kata banyak orang yang mengenalku cukup lama, aku terlalu menyeramkan kalau sedang diam.
Ketika Yangkung dirawat di salah satu rumah sakit di Semarang, itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Hari ke-2 Yangkung diobservasi menjelang operasi besar, yaitu 30 Maret 2023, kebetulan aku sedang haid saat itu jadi aku bergantian menjaga Yangkung sendirian di waktu magrib. Sedangkan Yangti, Pade, dan Ibu berbuka di ruang tunggu. Sebenarnya bisa saja mereka berbuka di kamar, karena kamarnya VIP sehingga muat untuk banyak orang. Tapi kami menghargai kondisi Yangkung yang demikian.
Di kala kami berdua, kami sempat bercakap-cakap. Cukup random, mulai dari menunjuk lampu sentral kamar, bertanya fungsinya ntuk apa, lalu bertanya beliau sedang di mana. Sampai pada akhirnya Yangkung bertanya, "Kapan saya boleh jalan-jalan lagi?"
"Belum tahu, Yangkung," jawabku. Beliau bertanya lagi, "Kenapa?". Aku hanya bisa menjawab nanti pasca operasi.
Yangkung dari dulu memang suka jalan-jalan, mungkin berat bagi beliau menerima kondisinya yang saat itu hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit. Beliau kemudian bertanya lagi, "Berarti saya belum boleh jalan-jalan lagi?"
Untuk menenangkan beliau, aku hanya menjawab, "Nanti, ya, Yangkung. Tanya dulu ke dokternya." Yangkung menanyakan kapan dokternya akan melakukan visitasi, namun jawaban yang bisa kuberikan hanya ketidaktahuanku saja. Kemudian, Yangkung terlelap.
Saya bersyukur saya masih bisa berbincang dengan beliau menjelang akhir hayatnya, walaupun sudah sedikit linglung. Mungkin karena dosis obat pereda nyerinya cukup tinggi sehingga berdampak pada kondisi psikologis beliau.
Setelah percakapan itu, Yangti, Ibu, dan Pade kembali ke kamar. Yangti menyapa Yangkung karena beliau terbangun sebentar, kemudian menyemangati, "Papa, sabar ya, sembuh dulu biar bisa jalan-jalan. Katanya mau ngerayain ulang tahun pernikahan bareng-bareng?"
Yangkung tidak merespon banyak. Kemudian beliau terlelap lagi. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, aku meninggalkan rumah sakit karena sudah jam malam pondok.
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan." QS. Al-'Ankabut[29]:57
—
Februari kemarin, kami sekeluarga nyekar ke makam Yangkung. Sepulang dari sana, kami mengambil telur asin pesanan karena Yangti akan ke Jakarta.
Yangti memulai percakapan, “Yangkung sudah tidur di sana, ya, Nis.”
Aku menyahut, “Sudah waktunya, kan?”
“Iya,” kata Yangti, “Tapi mungkin jika Yangkung masih hidup, beliau akan lebih kasihan lagi.”
Benar juga, pikirku.
Semua makhluk yang bernyawa pasti akan pulang, dan setiap dari kita sudah memiliki tiketnya. Tidak selayaknya tiket kereta atau pesawat yang bisa kita pesan jauh-jauh hari kapan kita ingin pulang atau ke mana kita akan pulang. Tuhan Maha Baik, tiketnya hanya tertera nama saja di sana, waktu dan tempatnya menjadi misteri.
Sebenarnya, dengan tangan ajaib-Nya, semua sudah diperhitungkan sedemikian sehingga dengan cantiknya. Sampai-sampai kita tidak sadar kalau atas kuasa-Nya, sebenarnya perpisahan yang nyata adalah berpisah karena kematian.
Maka kita selalu diingatkan untuk mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
—
Masih teringat jelas di benakku.
Kebetulan pondok pesantren sedang libur, dan aku menghabiskan waktu liburku di rumahku di. Dua minggu cukup untuk mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk kesibukan belajar di kampus dan pondok.
Ternyata dua minggu berlalu begitu cepat. Menurut kalenderku, 20 Januari 2023 merupakan Jumat terakhir yang tersisa di jatah libur pondok. Di hari Jumat, biasanya para lelaki muslim akan beribadah di masjid, melaksanakan salat jumat.
Hari itu, Yangkung memilih untuk salat jumat di Masjid Agung Tegal. Hanya sekitar 30 menit dari rumah. Dengan menaiki mobil sedan hitam kesayangannya, aku dan Yangti ikut menemani.
Di kondisinya yang sedang sakit parah, Yangkung masih sanggup untuk menyetir mobil sendiri. Saat itu, Yangkung masih dalam proses pemulihan dari pencabutan gigi yang lukanya tak kunjung sembuh karena diabetes. Juga, beliau mulai sedikit kesusahan untuk jalan. Tapi, memang dasarnya beliau memilih untuk mendem jero—memikul semua bebannya sendiri. Beliau tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Sesampainya di Tegal, aku dan Yangti tetap berada di dalam mobil sambil menunggu Yangkung. Dalam satu jam itu, aku masih sempat membeli pempek di dekat masjid untuk dibawa pulang. Setelah Yangkung selesai salat jumat, kami makan soto daging kemudian pulang.
Tiga hari setelahnya, aku kembali ke Semarang.
—
Bulan Februari aku tidak pulang ke rumah karena disibukkan dengan tugas akhir dan acara haul di pondok. Seharusnya bisa, namun aku memilih untuk tidak pulang.
Aku berkesempatan untuk pulang lagi pada 12 Maret 2023, bertepatan dengan kepulangan Ibu dari trip ke Turki. Aku sampai di rumah jam 11. Waktunya hampir berbarengan dengan Ibu, namun berbeda arah. Ibu dari Jakarta, sedangkan aku dari Semarang.
Sesampainya di rumah, aku kaget dengan perubahan fisik Yangkung yang cukup drastis. Yang tadinya bisa berjalan dengan normal, saat itu hanya terbaring saja di kasur. Berjalan pun perlu dipapah atau dibantu dengan kursi roda.
Siapa yang menyangka, ternyata Jumat terakhir liburanku merupakan hari terakhir kesempatanku jalan-jalan dengan Yangkung.
Sorenya, kami mengantar Yangkung ke rumah sakit karena seminggu sebelumnya Yangkung baru saja dibiopsi. Hari itu, barulah diketahui kalau akar masalah dari sakit gigi yang diderita Yangkung bukan hanya masalah biasa.
Ya, Yangkung divonis kanker.
—
Seharusnya Yangkung bisa segera dioperasi di Tegal setidaknya 2-3 hari setelah divonis. Namun, dokter yang bertugas saat itu ternyata hendak melaksanakan ibadah umrah hingga awal puasa. Sehingga, operasi dijadwalkan menjadi tanggal 24 Maret 2023. Tanggal 14 Maret 2023, aku sudah kembali ke Semarang dan memang rencananya demikian; aku akan mulai bertugas jika Yangkung sudah memulai pengobatan di Semarang.
Kanker itu salah satu penyakit yang cukup jahat jika kita terlambat diketahui dan ditangani. Setelah dibiopsi, kondisi Yangkung semakin parah. Mungkin karena semakin lama ditunda tindakannya, tidak seperti penyakit lainnya. Pada hari yang telah ditentukan, ternyata kondisi Yangkung makin tidak fit. Perlu waktu untuk transfusi darah sehingga diundur lagi menjadi tanggal 27 Maret 2024.
Tiba saatnya Yangkung akan dioperasi, dokter anastesi tidak berani untuk melakukan tindakan awal karena kesadaran Yangkung yang tidak stabil dan peralatan di Tegal kurang mumpuni. Keesokan harinya, Yangkung langsung dirujuk ke Semarang. Lebih cepat dari yang diperkirakan.
Yangkung sampai di rumah sakit Semarang bersama Pade dengan ambulans pagi harinya, beriringan dengan Yangti dan Bapak dengan mobil pribadi. Aku sampai di rumah sakit siang harinya karena paginya aku bimbingan skripsi. Ibu datang sore harinya karena ada barang yang menyusul dibawakan.
Yangkung baru bisa masuk kamar perawatan pada saat magrib. Kondisi Yangkung diobservasi selama tiga hari sebelum akhirnya dijadwalkan operasi pengangkatan kankernya, yaitu 31 Maret 2023. Alhamdulillaah, operasi berjalan dengan lancar. Namun, Yangkung masih harus diobservasi pasca operasi selama dua hari di ICU karena hal-hal tertentu.
Tanggal 2 April 2023, Yangkung sudah bisa dipindah ke ruang perawatan. Aku diminta bergantian menginap selama 3-4 malam karena jatah cuti Pade sudah habis, kemudian Ibu perlu mengurus sesuatu di rumah. Hanya Aku, Yangti, dan Bapak yang masih bertahan di Semarang selama tiga hari itu, sebelum akhirnya Tante datang untuk menggantikan Bapak sementara.
Topeng yang Dipakai Orang Lain: Menyadari Ilusi atau Kenyataan? — Sebuah Catatan Refleksi
Semarang, 21 Maret 2023.
Boleh jadi benar kata orang bahwa perilaku anak bisa menjadi sebuah cermin pribadi orangtuanya. Dulu, saat kita masih kecil, secara natural kita akan belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Kita melihat apa yang dilakukan orangtua kita, mencontoh kebiasaan-kebiasaan mereka, dan, secara tak langsung pula, otak kita merekam setiap kata yang diucapkannya. Hal-hal itu kemudian terbawa hingga kita dewasa; value yang kita pegang dan yakini, segala kebiasaan baik maupun (bisa jadi pula) kebiasaan buruk yang kita miliki, dan hal lainnya.
Saat kecil, kita dituntun untuk melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Baik dan benar, dua kata ini menggambarkan hal yang berbeda; baik menggambarkan kesesuaian suatu hal berdasarkan emosi/perasaan, sedangkan benar menggambarkan kesesuaian suatu hal berdasarkan fakta/bukti nyata. Fenomenanya, kebanyakan orangtua kadang lupa mengajarkan salah satu dari kedua hal tersebut. Mereka lupa bahwa kedua hal tersebut beriringan dan krusial, tidak dapat dipisahkan.
Saat dewasa, kita dipaksa untuk melakukan sesuatu dengan baik dan benar atas tuntutan lingkungan. Kadangkalanya apa yang kita lakukan itu baik, padahal belum tentu benar, maupun sebaliknya. Kemudian kita jadi menghalalkan segala cara agar dapat mencapai tujuan, meskipun caranya salah dan buruk sekalipun. Bahkan beberapa orang mewajarkan hal tersebut dan menjadikannya tameng setiap berbuat kesalahan. Padahal, kita tidak bisa menormalisasi ataupun mewajarkan hal ini, bukan?
Aku tumbuh dan besar dari orangtua yang telah bercerai. Ayah tinggal sendiri di Bandung, sementara Ibu melanjutkan kehidupan barunya bersama Bapak di Brebes. Saat kecil, aku lebih dekat dengan Yangti (Nenekku dari Ibu). Semuanya mengajarkanku hal-hal yang baik dan benar (setidaknya untukku sendiri); Bapak dan Ibu tentang cara berbakti pada orangtua, Yangti tentang welas asih, olah rasa, dan olah emosi, dan Ayah tentang cara bersosialisasi dengan orang sekitar.
Satu-satunya pesan yang kuingat yang dikirimkan Ayah padaku setiap aku ulang tahun adalah:
“Salah itu baik, tetapi jangan pernah berbohong.” — Ayah
Pesan ini pertama kali dikirimkan saat aku berusia 17 tahun. Kala itu, aku tidak menyadari hal ini karena sudah sehari-harinya demikian. Tetapi, ketika sudah waktunya aku keluar dari rumah (baca: merantau untuk kuliah) aku baru tersadar bahwa, “Dunia ini terlalu keras dan banyak topengnya.”
Satu hal yang aku yakini selama hidup: Orang itu unik dan punya pola dan warnanya sendiri karena ada pengaruh baik dari lingkungan internal (keluarga) maupun eksternal (teman, pekerjaan, akademik, dst). Selama ini kita tidak pernah tahu topeng yang mana yang digunakan dan motif apa yang dimiliki setiap orang yang kita temui, bahkan antara kita dengan diri kita sendiri.
Pertanyaannya sekarang, apakah topeng itu menggambarkan pola dan warna dirinya? Ataukah yang kita temui sebenarnya hanyalah ilusi? Ini yang seringkali kita abai dan seakan mewajarkan perilaku orang tersebut. Padahal, jika kita aware dengan kondisi kita sendiri; entah itu lingkungan yang kita tinggali, pengaruh masa lalu, kehidupan pertemanan dan percintaan, atau yang lainnya, sebenarnya kita bisa mengeluarkan “diri kita yang sebenarnya”. Namun naas, hidup kadang memang tak adil. Tak semua topeng bisa diterima.
Pada akhirnya, kita perlu memahami bahwa tidak ada jawaban pasti dalam hal ini, karena setiap individu unik dan memiliki nilai dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan satu suatu nilai pada orang lain, dan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan memahami hal-hal tersebut, (seharusnya) kita dapat membangun fondasi yang kuat untuk membentuk kepribadian yang positif dan membangun hubungan yang baik dengan orang di sekitar kita.
dan seharusnya demikian.
Disclaimer: Semua tulisan di atas hanya opini dari penulis.
Seandainya kamu diberikan kesempatan terlahir kembali, apa yang kamu inginkan?
— Brebes, 1 Agustus 2022
Saya menyadari betul, saya bukanlah anak yang terlahir dengan sendok emas. Walaupun saya lahir di masa di mana orang tua saya merasakan masa kejayaan orang tuanya. Tetapi saya tetaplah anak dari orang tua saya, bukan orang tua dari orang tua saya. Sehingga sudah jelas, nasib kami berbeda.
Lagi, perceraian orang tuaku memaksaku untuk mendewasakan diri. Sebagai anak tunggal, kala itu, rasanya berat sekali. Nisa kecil harus melihat orang tuanya berpisah dan menanggung semua perasaan itu sendirian. Sekarang, kehidupan mereka terlihat baik-baik saja; Ayah menetap di Bandung, sedangkan Ibu memutuskan memulai kehidupan baru bersama dengan Bapak di Brebes. Kalau dipikir kembali di masa sekarang, perpisahan mereka memang keputusan yang terbaik. Tetap saja, ada ganjalan di hati. Semacam unresolved issues.
Seringkali saya mendengar, “Ah, hidupmu menyenangkan sekali, ya, Nis,” padahal mereka hanya melihat sisi menyenangkan dari hidupku saja. Apakah mereka berpikir bahwa karena saya anak tunggal, sehingga kehidupan saya bagi mereka terlihat menyenangkan? Atau memang hidup saya benar-benar menyenangkan? Apakah itu terjadi secara natural atau karena faktor keberuntungan? Entahlah. Saya masih berpikir bahwa, mungkin, karena doa-doa dari orang tua saya dan orang-orang yang menyayangi saya yang dikabulkan, hidupku jadi dipermudah.
Terkadang saya juga mendengar, “Nisa cerah banget, ya. Hobinya senyum.” Saya tidak tahu apakah saya benar-benar tersenyum, atau saya tersenyum untuk menertawakan kehidupan yang getir, atau mungkin juga saya tersenyum untuk menutupi segala kepahitan yang dirasakan. Saya hanya berpikir bahwa dengan seperti itu, saya akan terlihat baik-baik saja. Padahal seharusnya tidak demikian.
Dari semua itu, hal yang paling saya syukuri adalah masih banyak orang baik di sekeliling saya; yang mau mendengarkan cerita saya (dan mereka juga mempercayakan saya untuk menjadi pendengar cerita mereka), yang dapat memahami kondisi saya, dan banyak kebaikan lain yang saya terima dari mereka, bahkan saya belajar dari mereka. Walaupun terkadang saya merasa tidak pantas menerima kebaikan mereka.
Dari semua pertanyaan yang saya terima, ada satu pertanyaan yang menggelitik,
Seandainya kamu diberikan kesempatan terlahir kembali, apa yang kamu inginkan?
Saya menyadari banyak hal menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya, dan saya juga tidak mengelak banyak hal tidak menyenangkan pula yang menimpa saya. Saya menerimanya dan saya mensyukuri hal itu. Tetapi jika saya diberikan kesempatan untuk terlahir kembali, saya enggan membawa memori tersebut ke kehidupan baru saya. Saya ingin terlahir baru.
Kalau ditanya apakah saya versi terlahir kembali ingin menemui orang-orang baik di masa lalu, atau orang baru yang setidaknya sama dengan orang di masa lalu, jawaban saya sudah pasti iya. Tentunya dengan harapan dan cerita baru.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming