Review Materialists: Rom-Com dengan Sindiran Kapitalisme
Bayangin kalau hubungan romantis ditentukan bukan sama rasa cinta, tapi sama isi rekening bank. Nah, ide gila itu dieksekusi dengan keren sama Celine Song lewat film Materialists (2025), karya keduanya setelah sukses besar dengan Past Lives (2023). Kalau Past Lives bikin baper dengan kisah cinta yang melintasi waktu dan jarak, Materialists datang sebagai rom-com yang nyelipin kritik tajam soal kapitalisme.
Film ini dibintangi Dakota Johnson sebagai Lucy, mak comblang yang jual mimpi “cinta sejati”; Pedro Pascal jadi Harry, pria super kaya yang charming dan kasih jaminan hidup nyaman; serta Chris Evans sebagai John, mantan Lucy yang masih berjuang tapi bawa cinta tulus meski rapuh. Sekilas kelihatannya kayak drama cinta segitiga biasa, tapi di tangan Song, ceritanya jadi jauh lebih dalam dan kompleks.
Jadi, apakah film ini beneran nyodorin refleksi tajam soal duit, cinta, dan pilihan hidup di era serba kapitalis? Dan, worth it nggak buat ditonton? Yuk, cek ulasan lengkapnya!
Baca Juga: Kumpulan Film Filipina yang Wajib Ditonton
Sentil Kesenjangan Ekonomi Lewat Kisah Cinta Segitiga
Sekilas Lucy kelihatan kayak tokoh rom-com kebanyakan: cantik, stylish, cerdas, plus punya kerjaan unik. Tapi yang jadi sorotan adalah profesinya sebagai konsultan kencan di Adore. Di sini dia “menjual” kencan romantis sebagai komoditas, sambil bantu klien nemuin pasangan ideal lengkap dengan kriteria aneh-aneh yang mereka mau.
Konflik makin seru ketika Lucy sendiri kejebak di cinta segitiga. Harry datang dengan paket lengkap: ganteng, kaya, perhatian sampai Lucy nyebutnya “unicorn” karena langka banget. Di sisi lain ada John, mantan pacar yang jadi pelayan katering. Hidupnya pas-pasan dan rapuh, tapi cintanya tulus.
Celine Song nggak kasih jawaban hitam-putih. Nggak ada yang jahat atau jadi pahlawan di sini. Harry bukan kapitalis dingin, John juga bukan sosok miskin yang selalu benar. Semua pilihan Lucy punya risiko dan alasannya sendiri. Itulah daya tarik Materialists: film ini bikin kita mikir, hubungan itu masih soal cinta murni atau udah kayak investasi yang diperhitungkan "return of investment"-nya?
Nyentil Keras Dunia Kencan Zaman Now
Salah satu kritik sosial paling nyelekit datang dari tempat kerja Lucy, Adore, yang jualan janji manis: “Kamu bakal nikah sama cinta sejatimu.” Di sini, kencan bener-bener diperlakukan kayak belanja di supermarket. Semua dibungkus algoritma, wawancara formal, dan proses seleksi mirip aplikasi dating modern.
Ada adegan montase yang lucu tapi juga pedih, waktu Lucy nge-interview klien dengan permintaan yang absurd. Dari calon pasangan harus tajir, pinter, berbakat, spiritual tapi tetap rendah hati daftarnya panjang banget. Komedinya dapet, tapi jelas jadi sindiran pahit kalau cari cinta sekarang udah kayak transaksi pasar.
Dialog Celine Song juga sering nyelekit. Contohnya pas Lucy bilang ke salah satu kliennya, “Kamu nggak jelek, kamu cuma nggak punya uang.” Kedengarannya lucu, tapi sebenarnya itu tamparan keras tentang gimana kapitalisme bikin hierarki bahkan dalam urusan cinta. Pertanyaannya jadi: kita nyari pasangan karena cinta, atau karena “return on investment” apakah hubungan ini sepadan sama waktu, tenaga, dan… duit kita?
Lewat satir yang cerdas ini, Materialists berhasil ngebongkar sisi gelap dunia kencan modern: ekspektasi nggak manusiawi, standar nggak realistis, dan cara sistem pasar yang bikin cinta berasa kayak transaksi. Song emang lagi nyentil kapitalisme habis-habisan lewat film ini.
Baca Juga: Soundtrack Pertaruhan: The Series yang Bikin Nempel di Kepala
Naskah Ciamik & Visual yang Bikin Betah Nonton
Sama seperti Past Lives, kekuatan utama Materialists ada di naskahnya. Celine Song jago banget nulis dialog yang cerdas, tajam, tapi tetap ngalir natural. Karakternya pun rumit kadang berantakan dan sinis, tapi tetap terasa manusiawi. Nggak heran dia pernah masuk nominasi Oscar untuk Skenario Orisinal di 2024, dan di film ini kemampuannya makin kelihatan.
Film ini dibuka dengan prolog tak terduga: adegan sinematis tentang pemburu-pengumpul ribuan tahun lalu di dataran yang sekarang jadi Amerika. Awalnya kayak nggak nyambung, tapi ternyata itu pondasi penting buat ceritanya. Sejak zaman prasejarah, cinta dan pertemuan pasangan emang selalu nyangkut sama ekonomi dulu lewat barter, sekarang lewat “kontrak sosial” yang kita sebut pernikahan.
Sepanjang film, siap-siap dimanjain mata. New York digambarkan super glamor, penuh pesta mewah dan apartemen kece tapi di balik kemewahan itu kita juga bisa ngerasain rasa sepi dari tiap karakternya. Visualnya bikin eyegasm banget!
Akting para bintang pun nggak kalah keren. Dakota Johnson jadi Lucy yang lihai baca orang lain, tapi rapuh pas harus memahami dirinya sendiri. Selain memerankan film The Last of Us, Pedro Pascal memancarkan pesona maskulin yang magnetis, sementara Chris Evans tampil beda banget dari citra Captain America dengan peran sad boy yang mengejutkan. Bahkan cameo Louisa Jacobson sebagai pengantin baru pun berhasil ninggalin kesan yang kuat.
Baca Juga: Nonton Exhuma Sub Indo LK21 – Rekomendasi Film Horor Korea yang Lagi Viral
Worth It Nggak Buat Ditonton?
Jawabannya: iya, banget tapi jangan berharap ini kayak rom-com ringan ala 2000-an. Celine Song memang nge-wrap cerita ini dengan visual kece dan jajaran aktor super charming, tapi di balik itu Materialists adalah bedah dingin soal gimana kapitalisme ikut campur bahkan di keputusan paling pribadi: siapa yang kita cintai dan alasannya.
Buat kamu yang pengin realita pahit soal perjuangan kelas bawah, mungkin film ini terasa “kurang pedas,” karena kondisi John lebih ke pilihan hidup yang berliku daripada perjuangan bertahan hidup. Tapi justru itu poinnya: Song pengin nunjukin kalau di level paling glamor sekalipun, kapitalisme tetap bisa nyusup dan ngerusak ruang paling privat dalam hidup kita.
Pada akhirnya, Materialists bukan soal memilih antara cinta atau uang, tapi tentang gimana kita menegosiasikan keduanya di tengah dunia yang serba kapitalis. Di balik satirnya, film ini nyelipin harapan bahwa cinta sejati bisa bertahan bukan karena cocok sama logika pasar, tapi justru karena berani menentangnya.
Jadi, kalau suatu hari kita nemu cinta sejati, masih mau nggak kita ngitung-ngitung untung rugi secara material?















