âOld Normalâ Experience
Saya masih ingat betul, masa-masa terakhir saya tidak mengkhawatirkan apa yang kita ketahui kini sebagai virus corona. Masa-masa saya merasa bebas keluar rumah tanpa perlu mempedulikan protokol kesehatan, berkerumun dan tak perlu bermasker.
9 - 15 Maret 2020
Mengawali pekan tersebut, saya pergi pagi sekali ke kantor, tetapi mampir dulu ke McD yang terdekat dari kantor. Kala itu sedang ada promo event, pelanggan yang mengantri sudah mulai dicek suhu tubuhnya dan diminta menggunakan hand sanitiser. Setelahnya, sampai kantor, mulailah saya benar-benar kepo tentang perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Ditambah lagi, sudah ada teman main yang disibukkan karena kantornya sedang meneliti virus corona.
2 hari kemudian, tweet yang menyerukan kewaspadaan akan virus corona semakin banyak. Di Mata Najwa, bertebaran argumen mengapa kita di Indonesia harus mulai lockdown, dengan membandingkan perkembangan kasus di negara yang saat itu kondisinya sedang parah-parahnya (Italia). Perbincangan di kantor pun tak jauh-jauh tentang virus ini dan segala dampaknya. Beberapa pertandingan liga di Eropa harus ditunda, entah sampai kapan karena negaranya sedang lockdown. âWah kasian tuh Liverpool kalo Liga Inggris dibubarin gegara corona,â canda saya pada malam hari sambil masih bergerombol di luar rumah tanpa waswas.
Esoknya, saya bangun pagi langsung buka Twitter. Banyak tweet membahas Liga Champions, Liverpool kalah di kandang oleh Atletico Madrid. Itulah pertandingan bola berpenonton terakhir yang saya ingat. Esoknya masih ada berita pertandingan, MU di Liga Eropa, tetapi sudah dilaksanakan tanpa penonton. Paginya saya cepat-cepat berangkat ke kantor, niatkan cari sarapan di jalan, dan berakhir di McD BIP. Masih banyak orang beramai-ramai, sebagian sudah pakai masker. Malamnya, saya ke bioskop (untuk terakhir kalinya hingga kini). Di bioskop sudah bertebaran hand sanitiser, sebelum film ada iklan tentang kebersihan studio bioskop. Karena memang hobi nonton, saya jadi tidak terlalu khawatir kalau berdiam lama di studio bioskop. Esoknya lagi, ketika Salat Jumat, suasana masjid masih seperti biasa, solat berimpitan, setelahnya merasa aman untuk bersalam-salaman. Paginya pun saya masih santai-santai saja berkerumun sambil jajan di pinggir jalan.
Ketika akhir pekan, saya pergi ke mall dan beberapa kafe, mulai membiasakan diri pakai masker semenjak keluar rumah. Tempat-tempat macam itu masih ramai meski saat masuk sudah ada pemeriksaan suhu tubuh dan pembersih tangan. Saya pulang malam, karena terjebak hujan dan betah menulis blog di kafe. Sambil menulis blog, saya mengikuti perkembangan pandemi ini, makin banyak event yang dibatalkan, kantor saya pun bersiap untuk memulai WFH.
16 - 22 Maret 2020
Pada pekan itu, saya lewat ITB, sudah sepi sekitarnya dari para pedagang makanan. Kampus tutup, mereka pun ikut pulang. Saya mulai bermasker kemana-mana, termasuk di 2 hari terakhir masuk kantor seperti biasa. Rabu, Kamis, Jumat, sebenarnya saya tetap keluar rumah sambil benar-benar mempersiapkan supaya betah di rumah minimal selama sebulan. Suasana di luar, beberapa kafe sudah menerapkan social distancing, tetapi bioskop masih dibuka walau sepi. Teringat di hari Jumat, saya sudah tidak ikut salat Jumat di masjid lagi. Ketika saya hendak mengambil barang tertinggal di kantor, prosedurnya sudah ketat, tetapi masyarakat sekitar di luar masih sedikit yang aware dengan virus ini.
Akhirnya di hari Sabtu saya pertama kalinya 24 jam diam di rumah setelah sekian lama. Di hari Minggu saya ke mall yang ada supermarketnya sendirian, bekal masker cadangan dan hand sanitiser. Saya melirik ke sebuah kafe, geram melihat orang yang duduk tanpa jaga jarak. Saya pulang relatif lebih awal dari biasanya, sekitar jam 7 lebih.














