“Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku,” bisik seorang dalam pria itu setiap kali ia ingin berhenti berpikir, berhenti mengadu, berhenti mencari pengakuan.
“Kau butuh aku. Tanpaku, kau hanyalah bayangan yang tak punya nama,” suara itu kembali riuh dipikiranya.
Sesuatu dalam diri pria itu bernama Ego—bukan nama yang terkenal, bukan pahlawan, bukan tokoh fiksi. Ia hanya manusia yang terlalu sadar, terlalu cermat, terlalu peduli pada dirinya sendiri.
Dan pria yg dihuni ego itu tumbuh dalam rumah yang penuh duka. Ibu yang berjuang, ayah yang hilang. tapi tidak pernah absen dalam hatinya. Dari kecil ia belajar menyembunyikan rasa sakit, karena "dewasa harus kuat".
Saat kelas, ia tak pernah mengangkat tangan kecuali benar-benar tahu jawabannya.
“Kalau salah, aku terlihat bodoh,”katanya dalam hati. Dan di sanalah egonya mulai berbisik: “Pertahankan gambaran sempurna. Jangan pernah membiarkan siapa pun melihatmu goyah.”
Pria itu bukan pendiam. Ia banyak bicara cerdas, menyentuh, sering membuat orang tertawa. Tapi di balik senyumnya, ada kegelisahan.
Saat ia mendapat pujian, ia mengalihkan topik. “Itu tidak penting.” Saat ia salah, ia berdalih: “Aku terburu-buru.”
Saat seseorang mengungkapkan kerinduan, ia berkata: “Aku juga merasa seperti itu.” Padahal justru, ia tak tahu bagaimana merasa seperti itu.
Ego bukan hanya ingin dipuji. Ia ingin mendominasi. Ingin menjadi satu-satunya suara dalam otak pria itu. “Jangan pernah terbuka. Jangan pernah lemah. Jangan pernah diinginkan orang lain.”
Suatu malam ketika pria itu sedang mengetik esai, dan terjatuh ke dalam hampa. Ia menatap layar kosong selama dua jam. Kemudian, ia menulis satu kalimat. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang saya lakukan.”
Saat itu, ego terdiam. Ia tidak berteriak. Tidak menolak. Ia menerima. Dan ketika ia mengunggah tulisan itu di media sosial, tanpa jeda, tanpa perbaikan, ia merasa: “Aku tidak lagi membutuhkan pengakuan. Aku hanya ingin berkata: Ini aku. Kacau. Tapi hidup.”
Orang-orang mengatakan, " kamu sangat jujur."
Pria itu hanya melepas tawa, tertawa seperti pertama kali ia merasa lega. Ego, Bukan Musuh. Tapi Guru. Kini, ketika ia menatap cermin yang retak, ia tidak marah.
Ia berkata, “Aku tak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin kamu belajar berdiam.”











