Dibalik Cobaan Ada Cinta - Love Story (PART 2)
Saya juga bingung kenapa cerita saya jadi panjang begini, sampe pake PART 1 â PART 2 segala⌠Suntuk di rumah? Iya.. Gak ada kerjaan? Iya.. Pengangguran? Iya juga.. Hehehe, daripada gigitin pensil, mending nulis blog naganoltujuh, ya nggak..
 PUBLIC BULLYING
Oke lanjut saja. Akhirnya saya melanjutkan kembali bekerja di agensi iklan, sebut saja namanya TLM (The Lost Morality). Fase ketika saya bekerja di TLM terbilang cukup struggling alias penuh perjuangan. Pergi pagi, pulang malam, naik kendaraan umum. Perjalanan Pondok Kelapa-Blok M 2,5 jam. Pulang pergi jadi 5 jam. Seringkali lembur, dan dalam satu minggu, setidaknya satu hari saya harus menginap di kantor, tidur di atas meja ruang meeting. Bukan apa-apa, deadline banyak, sementara waktu dan tenaga habis di perjalanan, ongkos naik taxi pun membuat kantong makin kering. Yah gitu deh, kondisi yang mungkin wajar bagi kebanyakan orang yang baru memulai karir, apalagi di industri kreatif. Tapi saya masih dalam tahap pemulihan TBC, jadi cukup riskan juga dengan rutinitas yang seperti itu, terlebih udara di Jakarta tidak bisa dibilang bersih. Saya selalu mendapat pandangan marah campur kesal campur khawatir dari Ibu saya setiap pulang larut malam. Saya jadi bingung sendiri, apa yang salah? Saya hanya ingin berjuang, seperti teman-teman lainnya, yang meniti karir. Rutinitas yang membuat hidup tidak teratur seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus, saya pun memutuskan untuk mencari kos-kosan di sekitar kantor di daerah Blok-M (memang nasib punya rumah di pinggir kotaâŚ). Tapi justru usaha saya untuk bisa bertahan di TLM malah berakhir dengan surat pengunduran diri.
Bagian ini saya agak malas ceritanya. Intinya, Bullying. Di lingkungan kantor, oleh seorang karyawan, yang mungkin memiliki gangguan kepribadian. Saya didorong, dibentak, diancam, dimaki, tas saya dirampas, dan saat kejadian itu masih banyak orang di kantor yang menyaksikan dan seharusnya bisa menengahi. Tapi, sungguh memang kantor yang agak aneh. Untuk sebuah agensi iklan kecilpun, desainer dan account eksekutif seharusnya masuk kategori orang yang berpendidikan, tetapi saya tidak melihatnya di kantor ini. Masalahnya adalah sepele, yang ditanggapi berlebihan oleh pelaku. Saya tidak terlalu mengerti mengenai fobia, tapi yang saya yakini, ada dengki yang membuat orang melakukan bullying. Memang jodoh saya dengan TLM harus berakhir disitu. Goodbye Marc, bos saya, sayang sekali Anda harus kehilangan desainer muda yang berpotensi seperti saya, dengan mempekerjakan desainer sakit jiwa di perusahaan Anda! Your lost, not my lost.
 ARKADIA I'M IN LOVE
Jadilah saya pengangguran, yang lebih santai dalam mencari kerja. Sempat bekerja freelance sebentar, kemudian saya mendapat tawaran sebagai desainer inhouse di sebuah perusahaan oli, sebut saja namanya C*strol. Tawaran ini tidak terlalu menarik bagi saya, come on..inhouse designer, outsourcing pula. No carreer-path and hardly developed. Tapi ada beberapa kelebihannya juga, pertama: kerjanya tidak terlalu menyita waktu, which is cocok bagi saya yang harus menjaga kondisi kesehatan extra. Kedua, gajinya sih lumayan. Ketiga, walaupun kantornya jauh dari rumah, ada sahabat karib yang menawari saya untuk menumpang tinggal di rumahnya yang ternyata dekat dengan perusahaan tersebut. Well, okelah, saya ambil. Dan ternyata kantor itu lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan, atmosfir kerjanya lebih formal, jauhlah dari kata-kata bullying. Hahaha⌠Fasilitasnya juga oke, kantornya bagus, di Perkantoran Arkadia, TB Simatupang. Secara tempatnya oil company, ya pasti baguslah. Hehehe. Lebih dari itu, yang tidak saya bayangkan sebelumnya, disinilah saya menemukan CINTA.
 KEJADIAN PARALEL YANG BERTEMU DI SATU TITIK
Sebenarnya, saya sudah menemukan orang ini jauh sebelum bekerja di C*strol. Saya mengenalnya di kampus ITB, tapi selama ini kami hanya teman (teman yang baik). Hehehe. Sebut saja namanya salah satu bintang film Hollywood terkenal, âChanning Tatumâ (please jangan muntah dulu). Saya dan Channing berkenalan secara aneh, yang mungkin story-nya kami keep sendiri saja ya.. Pokoknya, semenjak kenalan dan ngobrol-ngobrol sedikit, si Channing ini jadi sering ngajak saya jalan bareng, untuk sekedar nonton dan makan.  Channing, cowok pemalu yang awkward pisanlah kalo ketemu cewek, ngobrolnya juga kaku. Tapi anehnya, saya selalu mau aja kalo diajak jalan sama dia. Kenapa coba? Kenapa hayoo⌠Hahaha
Intensitas ketemu saya dan Channing terbilang jarang, semenjak Channing lulus dan langsung bekerja di luar kota. Sementara saya sibuk TA, kemudian memulai bisnis start-up ketika baru lulus kuliah di Bandung. Ya sama-sama sibuklah. Namun, setiap kami sama-sama berada di Bandung hampir selalu pasti bertemu. Saya jaim, dia kaku. Awalnya terasa mandek dan membosankan. Namun kami sama-sama mencoba membuka diri. Apalagi saya punya banyak cerita, tentang bisnis start-up saya yang terbengkalai, kekecewaan saya terhadap tim, sakit TBC, kesempatan bekerja di luar negeri yang hilang, office bullying yang saya alami, dllâŚdllâŚmasalah yang nggak semua orang mau mendengarkannya, sebab orang lain juga pasti sibuk dan riweuh sama masalahnya sendiri. Dan saat itu, saya menemukan pendengar terbaik selama hidup saya. Walaupun, saya nggak tahu orang ini seperti apa karakternya. Kayaknya sih baik, tapi saya harus tetap waspada, ingat trauma masa lalu, dan prinsip saya untuk menjadi wanita independent!
Kembali ke waktu masih bekerja di C*strol. Bermotif ingin menjadi wanita hebat yang independen, saya memutuskan untuk mencari beasiswa S2 di luar negeri, mengasah kemampuan bahasa Inggris dengan berbagai preparation course, dan akhirnya berakhir di sebuah kontes beasiswa yang diadakan oleh Domus Academy, Italia. Alumni FSRD ITB juga banyak yang lanjut ke kampus ini, sehingga saya cukup yakin dengan prospeknya. Waktu itu assignment yang diberikan adalah membuat paper mengenai bisnis kreatif di negara kita. Paper yang saya submit untuk lomba tersebut mendapat tanggapan positif dari juri, namun, (again) unfortunately alias sungguh-disayangkan, saya tidak berhasil mendapatkan beasiswanya. Damn⌠Ambisi saya untuk kuliah di luar negeri sangat amat besar. Saya sudah diterima walaupun bukan beasiswa, saya bisa mencari sponsor lain! Saya pun mendatangi yayasan-yayasan yang kerap memberi beasiswa pendidikan, menghubungi lembaga pemerintahan, meminta bantuan rektorat dan dosen-dosen. Pokoknya, bagaimana caranya saya harus bisa keluar negri! Untungnya pekerjaan desainer inhouse tidak terlalu menyita waktu, sehingga masih bisa dilakukan sembari mengusahakan beasiswa.
Langkah-langkah saya untuk mendapat beasiswa banyak menemui kebuntuan. Namun, orang tua saya merasa tidak tega kali yaâŚanaknya ngidam banget kuliah di luar negeri, akhirnya dengan agak berat mereka menyanggupi untuk membiayai kuliah saya (yang artinya akan mengorbankan uang pensiun). Saya tetap bersikeras untuk mencari sponsor tambahan. Anyway di saat yang sama, saya seperti di dekatkan kembali dengan Channing. Sungguh kebetulan yang luar biasa (atau memang bukan kebetulan) dia pindah bekerja di salah satu perusahaan yang berlokasi sama dengan perusahaan saya, Perkantoran Arkadia. Jadi di sinilah semua tikungan tajam yang saya hadapi mempertemukan saya bersama Channing di satu titik: komitmen. Padahal jalan yang saya pilih di awal jauh berbeda dengannya, tapi Tuhan memang maha kuasa, dan manusia terkadang sulit memahami ada apa di balik cobaan atau musibah yang menimpanya.
Tidak disangka-sangka, seiring berjalannya waktu, saya melihat sebuah titik terang tentang masa depan, semoga saja ini benar, Amin⌠Ambisi kuliah di luar negeri sambil traveling raib sudah. Seperti ada yang mengembalikan saya ke jalan yang benar, hahaha⌠Pendidikan tetap hal yang penting, namun ada hal lain yang harus saya kejar. Banyak elemen-elemen kehidupan yang harus saya sesuaikan, supaya balance.
Buat para wanita, cinta memang tidak perlu kita cari, dia akan datang sendiri, selama kita mengejar mimpi. Namun, jangan kaget kalau mimpimu berubah ketika kamu menemukan cinta. :-)