𝒔𝒂𝒃𝒓 صَبْرٌ // 𝒔𝒊𝒍𝒆𝒏𝒄𝒆 ساكِن
Allah has plans for those who wait.
Interview Vampire Daily
Claire Keane
sheepfilms
Doug Jones
$LAYYYTER
KIROKAZE

Discoholic 🪩

cherry valley forever

Game Changer & Make Some Noise
Xuebing Du

Andulka
Cosmic Funnies
NASA
Game of Thrones Daily
Mike Driver
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
almost home
★
seen from Vietnam

seen from Brazil
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from T1
seen from United States

seen from Germany

seen from Russia
seen from United States
seen from Iraq
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Guatemala

seen from United States
seen from France
seen from Bangladesh
seen from Chile

seen from Malaysia

seen from United States
@naafe
𝒔𝒂𝒃𝒓 صَبْرٌ // 𝒔𝒊𝒍𝒆𝒏𝒄𝒆 ساكِن
Allah has plans for those who wait.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di Jalan Nikah, Aku (dan Kamu) Berdakwah
Sengaja bgt emang. Milih judul yang kayak gitu. Biar apa ya?
Berad. Suatu hari, ada samwan said that ; di jalan dakwah aku menikah. Seperti bukunya Ust Cahyadi. Ah belum berani baca. Bukunya Ust. Salim aja belum. Kudu mondok lagi emang. Belajar fiqh² dasar sebelum fiqh munakahad. Hmmm hayo. Kenapa aku lebih memilih sebaliknya?
Karena gini..
Di usia yang sudah melewati target menikah. Eaa. Iya, target lulus juga udah terlewat. Yah, karena sebaikbaik rencana hanyalah milik Allaah swt. Kenapa bisa telat? Karena banyak hikmah di balik ini semua yang bisa diambil baik oleh aku pribadi maupun orang lain. Apa aja? Ya banyak. Misalnya untuk instrospeksi diri dan muhasabah lagi. Untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Untuk lebih mensyukuri nikmat berkesempatan lebih lama dalam perantauan, dan nikmat yang akhir-akhir ini sedang ku syukuri ; safar. Wkwk. Meski degdegan, takut, parno, campur aduk perasaannya di jalan selama kurang lebih 4jaman. Berpacu dan berjibaku dengan kendaraan lain. Mana belum lama juga megang motor lagi wkwk udah soksokan. Gapapa si. Coba indah banget kan selama beberapa jam itu yang diinget mati, harapan husnul khatimah, Allaah ajaaaa. Indah bgt dah. Meski kalo bisa pengen tak hilangkan dulu truk-truk itu dari muka bumi wkwk. Tapi yaudahlah ya. Liat Sumbing sunkissed menuju senja, membelah kabut di Kledung, naik turun Sekar Langit, sejauh mata memandang terhampar Telomoyo. Shalat di masjid-masjid indah sepanjang Solo-Boyolali-Tengaran-Grabag-Temanggung. Ah dan lain-lain. Nikmat mana yang kau dustakan?
Yah, balik lagi ke judul. Alasannya, akhir-akhir ini mulai dianggap dewasa. Iya, umur juga tak lagi muda. Meski jiwa masih membara. Banyak undangan berdatangan. Banyak doa dirapalkan "bariki koe ya nduk, nyusul" ya doa baik kenapa tidak di-aamiin-kan? Malaikat juga pasti meng-aamiin-kan orang yang mendoakan saudaranya dengan keikhlasan.
Undangan, nyinom, maupun hanya kabar berdatangan. Kolega, kerabat, teman, tetangga, dan lain sebagainya. Baik yang lebih tua maupun lebih muda. Balik lagi sih, semua punya waktu masing-masing. Bukannya tidak ingin, mungkin belum butuh? Atau belum pantas.
Makin kesini yang terfikirkan justru fokus terhadap pengabdian, bakti. Terutama sama orang tua. Nanti, bukankah baktinya akan beralih jika akad sudah diikrarkan? Iya kondisional sih, tapi tetep gabisa semaksimal kalo masih single. Ya, selesaikan dulu dengan diri sendirinya. Bukan, bukan dengan bebasnya melakukan apapun yang menyenangkan. Menggenapkan yang separuh itu perlu disempurnakan yang separuhnya terlebih dahulu. Ah gimana ya? Contoh konkretnya, semaksimal mungkin merealisasikan apa-apa yang orang tua inginkan. Menjadi yang mereka mau. Wah indah sekali. Ridha Allaah kan terletak pada ridha mereka.. Jangan pura-pura lupa.
Jangan merasa terbebani juga sih. Misal, syarat boleh nikah adalah ketika udah punya uang sendiri, atau sudah bekerja. Bukan apa-apa. Bukan pula tak percaya dengan Janji Yang Maha Tak Pernah Ingkar. Percaya. Bekerja -ah lebih tepatnya mengajar- ah lebih tepat lagi belajar bersama siswa-siswa itu justru dijadikan jalan rizki yang emang kita udah dijatah perharinya. Sebagai ibadah. Penyempurna pengharapan kepada Allaah. Juga pengabdian sepenuhnya kepada Allaah. Pengabdian untuk orang tua dan negri yang jasanya tak terhitung lagi. Begitu aku memaknainya. Masya Allaah tidak pernah sedih atas lelah fisik yang kadang manja. Justru jalan kebahagiaan ketika lelahnya bisa bernilai lillah.
Akhir-akhir ini pula, ku doktrinkan luar biasa keras pada diriku sendiri mengenai konsep penerimaan. Tiada daya dan kekuatan kecuali Allaah memang. Segala yang telah menjadi ketetapanNya, mengapa kita masih menawar? Mengapa masih ada kecewa? Ah, ada yang tidak beres. Penanaman mindset bahwa semua kehendak Yang Maha adalah kesempurnaan, yang terbaik untuk kita sangat penting. Menjadi manusia yang seutuhnya.
Bagaimana mungkin masih gelisah terhadap permasalahan diri sendiri sedangkan permasalahan umat begitu beragam?
Sedangkan apa-apa yang menjadi qodar telah ditentukan, bagaimana bisa masih khawatir, puan?
Menikah adalah sesuatu yang tidak main-main. Peribadahan yang panjang. Bagaimana mungkin tidak dipersiapkan dengan sebaik-baik cara?
Perkara dengan siapa, wahai telah ditentukan namanya di lauh al mahfudz 500 ribu tahun sebelum bumi terbentuk, bahkan. Iya sih, harus ikhtiar. Tapi, hati-hati pula cara mengikhtiarkannya. Masih perlu banyak belajar lagi.
Jodoh itu cerminan. Allaah udah janjiin kalo orang baik ya buat yang baik juga. Tinggal gimana sibuk menjadi aja sih fokusnya. Kalo mau jodoh yang shalat nya di awal waktu, ya harus gitu dulu. Bukan sibuk mencari. Lah kemana coba kalo mau nyari? Bisa juga deketdeket aja. Kalo emang dari sisi jarak belum deket ya yakin aja sedang didekatkan dari sisi waktu. Wkwk. Ngomong-ngomong cerminan, ustadzah tami pernah bilang ; cermin kan kebalik tuh, kalo orangnya cerewet kayak kita fi, nanti jodohnya ga banyak omong kayak ust ardy. Wkwk. Aamiin dalam hatinya kenceng bgt. Makanya, ah be my self aja deh. Tapi versi terbaik dan makin harus diupgrade berkala. Kayak kata Gus Dur. Ehm. Iya, bukan hanya perkara ilmu duniawi. Balance lah. Ilmu akhirat. Karena di dunia emang cuma mampir aja. Bentar banget, cuma nyari bekel buat balik ke syurga. Langsung aja ke syurga. Tempat sejatinya manusia. Ya kan? Dulu Ayah Adam dan Ibu Hawa kan tinggal disana. Gausah pake mampirmampir kemana mana. Nyicip panasnya api neraka juga naudzubillah. Balance, I mean that not same portion. Ya seimbang itu ga sama porsinya. Kudu gedein yang mana, kudu prioritaskan yang mana. Orientasi ke langit, tapi ga lupa juga sekarang berpijak dimana. Ya gitu sih. Hablum minallah dan hamblum minannas. Gabisa ditinggalkan salah satunya. Namanya juga manusia. Ada kalanya juga butuh dengan yang lain. Bermanfaat juga buat yang lain. Ikut andil, kan tugas kita di dunia selain ibadah juga jadi khalifah. Wayoloo, jangan purapura lupa lagi.
Peradaban. Tidak main-main, sekali lagi. Halah, emang siapa kamu? Soksokan mau bangun peradaban. Hey, peradaban paling awal di keluarga kan? Palagi perempuan. Berat tjoy. Madrasah al ula. Bagaimana anakmu, ya bagaimana kamu.
Makanya, didoakannya aja dari sekarang, diikhtiarkannya juga udah mulai dari sekarang.
Tuh kan, gak main-main dan gak ringan emang kalau ngomongin kek beginian.
Untuk orang-orang yang sudah melaksanakan perintah Allaah dan Rasulnya tersebut, yakin deh udah banyak persiapan yang dikantongin. Baik ilmu, kesiapan mental, finacial, dan sepaket deh. Visi-misi juga pasti sudah tersusun dengan matang.
Penting memang. Bagaimana rumah tangga akan berjalan dan terbangun dengan baik adalah dengan kesamaan visi misi.
Sefikrah, sekufu. Eh, definisi sekufu yang aku percaya; adalah bukan sama persis dari awal. Bukan selevel segala sesuatu nya dari awal. Bibit bebet bobot. Tapi, adalah yang bisa sama seiring berjalannya waktu. Bisa saling sama dengan berjalannya waktu. Begitu kiranya. Hehehe. Meski yah, sefikrah sangat penting. Tapi, bisa lah dibicarakan. Hehe.
Ngomong-ngomong tentang itu, ketika telah tiba waktu, kriteria tak penting lagi sepertinya. Pernah seseorang bertanya pada ku tentang hal itu. Ksatria Langit jawabku. Hanya itu. Tak ada embel-embel lain. Definisi yang tak dapat tertolak dari sisi agama. Untuk hal lain, biar kedua malaikat ku yang mengatur. Hmm, namun jika yang tertulis adalah manusia yang sedang diuji di bumi, yah tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali mensyukurinya terlebih dan lebih lagi.
Itulah pentingnya menetralkan hati ketika sedang berproses. Meletakkan hati pada titik nol. Agar nanti, sesiapapun yang datang, akan diterima dengan hati yang lapang. Tak ada nama-nama yang tersimpan dan kemudian akan menjadi penghambat di kemudian hari.
Fyuhhh.. Kenapa memilih berdakwah (lagi) di jalan nikah?
Kenapa coba?
Karena pernikahan adalah suatu peribadahan yang panjang, maka dakwah tak akan lepas darinya. Ga mulukmuluk dah, dakwah ke diri sendiri dulu terutama. Haha. Dakwah apa si pengertiannya? Murojaah lagi deh dirosah semester awal. Tu kan perlu nyantren lagi emang. Heuheu. Dakwah dari suami ke istrinya. Dakwah orang tua kepada anak-anaknya. Yah, itu langkah paling awal dahulu. Mendakwahi keluarga kecil, agar mencapai tujuan menjadi bagian dari peradaban. Ah berat? Ya engga juga sih. Alurnya jelas.
Bagaimana kejayaan islam? Bagaimana kesejahteraan umat? Ya dari situ, agen agen dakwah punya PR yang tidak ringan. Tentu, sesuai dengan porsi masing-masing, bidang yang dikuasai masing-masing. Dakwah kan sekarang banyak jalannya.
Makanya, betapa alasannya kembali lagi ke yang paling awal. Kudu banyak-banyakin belajar lagi. Merasa sangat belum pantas lagi. Tapi, ya ga nunggu semua ambisi diceklist juga. "Mau sampai kapan?" gitu pernah seseorang bertanya. Memang, ketika masa itu tiba, yang sangat aku tunggu adalah selesainya ambisiku terhadap duniaku sendiri. Tidak ada lagi yang penting untuk diriku sendiri. Duniaku akan selesai. Ambisiku akan redam. Dan aku tidak akan merasa lelah lagi..
Iyalah, kan ditangguhkan wkwkwk.
Solo-Wonosobo, tengah Agustus 2019
Menantu terbaik
Suatu kali, pernah saya tanpa sengaja membaca pesan whatsapp budhe saya ke mama. Kebetulan waktu itu handphone mama sedang saya pinjam untuk transfer beberapa foto. Isi pesannya cukup panjang intinya budhe saya curhat tentang hubungannya dengan menantunya yang kurang cocok. Anak budhe laki-laki, baru saja menikah 3 bulan. Alasan-alasan seperti tidak pernah masuk dapur, bangun siang, tidak pernah bantu bersih-bersih, hingga ketidak cocokan sikap dan sifat dengan menantunya diceritakan budhe di pesan itu. “Heran saya, cantik tapi kok kayak gak ada etikanya, gak peka blas” - penggalan kalimat terakhirnya. Saya membacanya tertegun lama, tiba-tiba timbul ketakutan dalam diri saya. Apakah nanti ketika menikah saya akan diterima dengan hangat oleh mertua, seperti nenek saya ke mama, atau justru akan membuat para ibu khawatir anaknya menikahi perempuan seperti saya?
Saya menemui mama dan menunjukan pesan budhe kepadanya. Kalau tidak salah saat itu mama baru selesai sholat ashar. “Aku jadi takut nikah ma” ucapku saat itu. Mama tertawa kecil bertanya kenapa aku takut “kalau ternyata orangtuanya ga suka sama aku gimana ? Kalau ternyata ga cocok, ga sepaham?”
Mama menggenggam tanganku saat itu sambil berkata “kalau mbak sifatnya kayak mantunya budhe, ya pasti orangtua manapun bakalan jengkel sama mbak” aku tertunduk lesu. “Makanya dari dulu mama ngajarin, mau dari keluarga berada atau biasa aja, harus tau unggah-ungguh di rumah. Harus tetep bantu dan aware sama kondisi rumah meskipun udah ada bibik. Harus masuk dapur minimal bantuin ngulek sama ngupas bawang. Sopan sama yang tua tanpa pandang statusnya” aku mengangguk menyadari ajaran-ajaran mama selama ini.
“Laki-laki itu mudah dibuat jatuh cinta, tapi butuh usaha keras untuk meyakinkan orang tuanya, keluarganya, kalau kita pantas”. Lagi-lagi aku tertegun. “ kalau kitanya udah cukup pantas tapi keluarganya masih belum nerima karena alasan lain gimana ma ? Karena background keluarga/ status/ suku gitu” tanyaku beruntun.
“Ingat pesan mama, nanti ketika menentukan pasangan hidup, pastikan keluarganya bisa mencintai kamu sebanyak cinta yang kamu dapat di rumah. Kamu anak mama papa dibesarkan untuk dihargai, ingat ya mbak” . Aku mengangguk mantap, ketakutan perlahan hilang tergantikan dengan perasaan semangat untuk memperbaiki diri.
“Ketika kamu menikah, kamu tidak hanya menikahi suami kamu, namun juga keluarganya. Masa-masa sekarang adalah kesempatan untuk belajar memperbaiki diri sekalian mengenal calon keluarga pasangan kamu, kalau udah ada yaa ” jawab mama sambil tertawa di ujung nasihatnya. Aku menghela nafas panjang sambil mengaminkan dalam hati, segera ya.
👧: “Mamah Dian, nyuwun pendongane ngenjang kulo saged gadhah mertua kados Dian nggih”
👩: “eman orane mertua tergantung awakmu, Nduk”
Kerad
Rindu menderu. Terkulum hilal yang terlihat lalu hilang menuju purnama ke enam. Bergemuruh riuh, ah tak terelakkan. Ingin segera memeluk, dan takkan ku lepas selamanya. Tak masalah jika darah seperti ingin mendidih. Tak mengapa belulang layak ingin lepas dari persendian. Tak apa otak seperti mau hancur ; karena tak kunjung hafal ayatnya.
Apakah kamu pernah berpikir untuk merasakan patah hati lagi? Untuk melewati hari demi hari sekali lagi, hidup dalam ketidak seimbangan, namun satu hal adalah kamu semakin menemukan dan semakin mengenal dirimu sendiri.
(wh.)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Percaya”
Orang tua saya tidak pernah bertanya kapan menikah ataupun menjodohkan seseorang dengan anak-anaknya, apalagi menghalang-halangi.
Lebih sering menyelipkan pesan dan bekal ilmu tentang bagaimana hak dan kewajiban seorang suami dan seorang istri, serta hak Allah Ta'ala didalamnya, sebelum masa itu tiba kepada anak-anaknya dengan teladan, bukan sekedar kata-kata.
Ketika bahasan itu muncul di tengah keluarga, keduanya hanya menjawab: “kami orang tuanya percaya, anak-anak tahu kapan mereka menyadari bahwa saat itu ia siap serta mampu menyempurnakan separuh agamanya, dan kepada siapa mempercayakan hati untuk membersamai, saling melengkapi dan menyempurnakan separuh agamanya dengan baik. Karena tugas orang tua adalah bagian mendidik, mengarahkan dan mendoakan yang terbaik untuk mereka.”
Tahukah? Ini adalah salah satu hal yang akan saya contoh dari cara keduanya dalam mendidik dan menunaikan amanah sebagai orang tua yang tidak pernah mau mendikte ataupun memaksa anak-anaknya dengan ambisi pribadi sebagai orang tua.
Hal ini saya bagi, semoga ada manfaat yang bisa diambil.
“This is not goodbye, my darling, this is a thank you. Thank you for coming into my life and giving me joy, thank you for loving me and receiving my love in return. Thank you for the memories I will cherish forever. But most of all, thank you for showing me that there will come a time when I can eventually let you go.”
— Nicholas Sparks; Message in a Bottle
Ketika ada temanmu yang lebih banyak dan lebih panjang do'anya, tidakkah kamu cemburu bahwasanya ada orang lain yang lebih dekat kepada Allah selain kamu?
— Taufik Aulia
Ketaatan penuh tanpa syarat. Asal Allaah menjadi alasan serta tujuan.
Karena sesungguhnya, aku mudah untukmu.
Maka aku telah bersiap menerima mu pergi bahkan di detik yang sama saat engkau tiba-tiba datang.
Karena sesungguhnya, aku mudah untukmu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yang aku tahu, cinta tidak egois. Ia hanya butuh diakui lalu diikhlaskan ; entah untuk diperjuangkan atau justru direlakan.
Karena sesungguhnya, aku mudah untukmu.
Cinta yang bahkan setanpun tak tahu
Ali - Fatimah 🌸
Dikejar cinta Allaah, dibonus cinta Yusuf
Zulaikha 🌸
Jika melepas sesuatu karena Allaah, yakinlah Allaah akan mengganti dengan yang jauh lebih baik
Jangan khawatir, sayang.
(Tidak) Beratnya Menjadi Istri
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)
Masya Allaah!!!
Sosweet nggak kaleng² part 2.
Betapa Allaah sangat memuliakan wanita. Di atas segala peraturan yang telah Allaah tetapkan, justru itu memudahkan wanita dalam menggapai syurga.
Eh, mudah? Iya kenyataannya memang tak semudah itu.
Sami'na wa atho'na terhadap segala sesuatu yang diperintahkan suami merupakan mutlak. Karena Allaah telah menetapkan hak suami atas istrinya.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Ketaatan pada orang tua yang beralih pada suami. Menomorsatukan suami setelah Allaah, tentu. Mengapa justru terdengar begitu indah?
Seorang lelaki berkata bahwa hal itu merupakan suatu hal yang harus disyukuri dari sisi kaum adam. Hey! Bukan kah kaum hawa harus bersyukur terlebih lagi?
Pasalnya, ketika status tak lagi single, dengan segala peraturan yang berfokus pada izin dan ridha suami, justru memberikan banyak keuntungan bagi perempuan.
Tabiatnya yang suka bercerita atau didengar, ia tak perlu orang lain untuk mendengarkannya lagi. Tak perlu banyak orang yang tahu lagi tentang dirinya. Menjadikan suami sebagai teman dan sahabat dalam keadaan apapun. Cukup lah baginya satu orang saja yang dapat mengerti setiap keadaannya.
Lelaki yang dimana terletak syurganya itu juga dapat meredamkan ambisi bagi seorang perempuan yang ambisius. Terhadap hal apapun. Karir misalnya. Sekeras apapun tekat perempuan, sevisioner sampai batas manapun perempuan, jika suami tidak ridha ia bekerja, tak akan melewati batasnya.
Betapa sangat dimudahkannya seorang perempuan dalam bertaat?
Mengapa mau memerankan peran istri dengan penuh peraturan dari suami? Karena jika keegoisannya dikesampingkan, jika kepentingan pribadi tak diindahkan lagi; akan tersadar bahwa bisa jadi ia tak mampu memikul tanggung jawab sebesar yang harus dipikul seorang suami.
Yah, peran masing-masing. Dengan indahnya, Allaah telah berlaku seadil-adilnya.
Duh berad. Kerad bahasannya. Sekian dulu ah.
Dinukil dari sebuah notula kajian, diskusi random dengan seseorang, dan belajar dengan mamake di pagi hari yang masih sejuk | Ceritanya sedang belajar.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
فَإِنِّي قَرِيبٌ
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 482]
Nah loh. Mendekatlah wahai hamba. Perpanjang sujudmu di waktu-waktu mustajab. Di malam-malam hari ketika lelap harus dilawan, ketika dingin harus diterjang. Berdoalah, mohon ampunlah.
Ceritakan semua lelah, segala gundah, seluruh resah. Sungguh Allaah senang apabila hambaNya meminta. Bisa jadi, saat engkau tengah lelah berusaha dan merasa pada titik terberat, disitulah Allaah menginginkan mu untuk mendekat lagi. Meminta lagi. Memohon lagi. Wujud penghambaan. Secara totalitas dan tanpa batas. Sepenuh mengharap ridha. Hanya berharap dipantaskan melihat wajah Allaah kelak. Apa lagi balasan yang lebih indah? Selain rahmatNya yang Mahagung.
Ketika dirasa hidup memberat, terlalu banyak keinginan, maka cukup lah perbanyaklah istighfar;
أستغفر الله
Dan saksikan apa yang akan terjadi. Tangan-tangan ajaib tak kasat mata akan menyatakan dongeng manusia yang percaya akan terwujudnya.
Sesungguhnya Allaah adalah dekat. Lebih dekat daripada nadi. Ucap asmaNya dalam helaan nafas.
لا إله إلا الله
Jadikan setiap hembusan nafas mu berarti karena basah oleh dzikir yang tak henti. Niscaya engkau akan bersibuk dengan hal itu. Hingga lupa dengan hal lain yang tak perlu disibukkan lagi.
Mendekatlah, hambaNya! Mendekat..
Wonosobo, 27 Ramadhan | Kepada dirinya sendiri.
Setiap murojaah binadhor (eh mana ada wkwk) selalu keinget masa² ziyadahnya
Tentang tempatnya, tentang dg siapa setorannya, gimana air matanya, gimana seseknya, gimana berasa mritili tulangbelulangnya. Ah alay. Tapi bener da, pen sampe mendidih otaknya, kalo ga hafal². Padahal perkara hati, biasanya yang jadi penyebab. Dan, auto kangen masa² berdarah saat ziyadah. Hey, yok jan kelamaan liburnya! Masih sangat banyak lho yang minta kamu setorin. Ehehe.