Ingatan itu masih jelas terbayang di benak saya hingga saat ini. Rasa khawatir akan dikata-katai oleh beberapa teman selalu menjadi bekal setiap berangkat sekolah semasa SD dan SMP. Berusaha menghindari interaksi dengan mereka menjadi prioritas saat bersosialisasi di sekolah. Sayangnya mereka selalu menemukan cara untuk merundung: pada waktu istirahat, jam kosong di kelas atau saat pulang sekolah. Saya selalu merasa was-was dan tidak bebasÂ
Rasa malu, kesal, takut, dendam, sedih, kecewa, bingung, khawatir dan marah menjadi satu saat mereka mengejek-ejek saya di hadapan teman-teman yang lain. Melawan adalah hal mustahil, saya kalah jumlah. Mencoba tidak menghiraukan justru membuat mereka semakin menjadi-jadi. Saya merasa terasing. Teman-teman yang lain cenderung menjauh dan tidak mau terlibat jika saya sudah menjadi bulan-bulanan. Hanya satu kali seorang teman berusaha membelaânamanya Iva, teman SMP sayaânamun itu tidak merubah perilaku bullying yang mereka lakukan.
Para perundung sendiri adalah teman sekelas saya. Setelah apa yang mereka lakukan, saya tidak punya niat untuk berteman dengan mereka. âUntuk apa?â pikir saya saat itu. Ketika SD, bocah berinisial H dan dua temannya adalah perundung saya. Di masa SMP, G dan kawan-kawannya rutin mengata-ngatai saya. Keduanya memiliki karakteristik serupa. Tidak berprestasi di bidang akademik, usil, banyak bicara, dan hampir selalu duduk di barisan belakang kelas.
Ingatan itu melintas di benak saya saat saya menonton video berisi kompilasi pernyataan Donald Trump yang menyerang dan menyudutkan kelompok minoritas di Amerika selama masa kampanyenya. Ia mengingatkan saya pada para bullies.
Bully (2011, a documentary film)
Sekarang, melihat masa-masa itu, saya merasa beruntung bahwa yang saya alami sebatas verbal bullying. Efek yang membekas dalam hidup saya sejauh ini pun masih bisa saya kontrol. Apa sajakah itu? Pertama, saya menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berteman, saya juga sangat memperhatikan penilaian orang lain terhadap diri saya. Selain itu, saya pun seringkali sulit berbaur dalam masyarakat. (Thanks to Keith Ferrazziâs book, âNever Eat Aloneâ, I learned some tricks to blend in)
Figure 1. Poster film âBullyâ Karya Lee Hirsch (Source: Wikipedia)
 Dampak-dampak yang saya alami tidak seberapa dengan dampak bullying yang menimpa anak-anak lainnya. Film dokumenter berjudul *âBullyâ (2011) karya Lee Hirsch mengisahkan cerita 5 anak di Amerika Serikat yang menjadi korban bullying, dimana dua diantaranya berakhir tragis. Tyler Long (17 tahun) dan Ty Smalley (11 tahun) mengakhiri nyawa mereka setelah menerima berbagai aksi bullying.
Bullying sendiri menurut Kamus Merriam-Webster berarti âto treat abusivelyâ atau âto affect by means of force or coercionâ. Ada unsur tindakan kasar dan paksaan. Sementara menurut www.stopbullying.gov, bullying adalah perilaku agresif di kalangan anak-anak sekolah yang dilakukan pihak yang memanfaatkan ketidakseimbangan âkekuatanââtermasuk kekuatan fisik dan popularitasâuntuk mengontrol atau menyakiti orang lain, dan dilakukan secara berulang-ulang.
Film âBullyâ dibuat Lee dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran warga dunia akan betapa mengerikan dan berbahayanya bullying. Lee sendiri merupakan korban perundungan semasa ia kecil.
âI felt that the hardest part of being bullied was communicating and getting help. I couldnât enroll peopleâs support. People would say things like âget over it,â even my own father and mother. They werenât with me. That was a big part of my wanting to make the film. Itâs cathartic on a daily basis,â ujar Lee.
Diejek oleh anak-anak lain dengan sebutan yang membuat diri ini merasa dipermalukan dan jadi bahan tertawaan adalah aib yang saya tutup rapat-rapat. Itu yang ada di pikiran saya dulu. Well, sebetulnya hingga saat ini kedua orangtua saya juga tidak tahu kalau saya rutin mengalami perundungan semasa sekolah. Saya terlalu takut untuk memberitahu mereka. Takut dimarahi karena tidak bisa melawan para bullies, takut diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, dan takut mengecewakan mereka.
Figure 2. Saya Menemukan Kebebasan Berekspresi Di Geronimo
Kesadaran untuk melawan tindak bullying pertama kali saya rasakan saat saya bekerja di Radio Geronimo FM di Jogja. Dalam lingkungan kerja yang penuh rasa toleransi, terbuka dan ekspresif, saya merasa diterima apa adanya. Tidak ada orang yang menghina selera musik, selera humor maupun selera saya dalam berpenampilan. Beban rasa takut dijadikan bulan-bulanan yang menghantui saya semasa sekolah rasanya terangkat dan membuat saya sadar bahwa tidak ada satu manusia pun yang berhak mendapat tekanan sedemikian rupa akibat aksi perundungan. Setiap orang berhak bebas menjalani pilihan hidup dan menjadi versi terbaik diri mereka masing-masing.
Film âBullyâ sendiri membantu menata pola pikir saya terkait bullying. Bullying harus ditangani secara tepat. Salah-salah, efeknya bisa berakhir kematian. Secara sederhana, penanganan bullying bisa dirangkum seperti ini: laporkan, ayomi korban, ubah perilaku pelaku bullying, tanamkan kembali kepercayaan diri pada korban, dan sebarkan kesadaran akan bahaya bullying! Saya tidak tahu apa pandangan teman-teman saya setiap kali saya memposting status di media sosial tentang betapa saya menentang bullying (saya bahkan sangat menentang kegiatan semacam OSPEK yang saya nilai menjadi cikal bakal senioritas dan aksi bullying). Mungkin ada yang mengangguk-angguk, ada yang menganggap saya annoying, ada yang menilai saya baper dan terlalu sensitif, atau sama sekali tidak menganggap penting masalah ini. Satu hal yang ingin saya tekankan: memberantas bullying itu penting!
Penelitian dari Yale Univeristy menemukan adanya hubungan antara bullying dan kecenderungan bunuh diri di kalangan anak-anak. ANAK-ANAK! Sesering-seringnya saya dibully waktu kanak-kanak dulu, Alhamdulillah saya tidak pernah berpikiran untuk bunuh diri. Paling buruk ya saya berdoa agar nilai ulangan para pelaku bullying itu jeblok. Menurut penelitian itu juga, mereka yang menjadi korban bullying ternyata 2 hingga 9 kali lebih sering berpikiran untuk mengakhiri nyawa mereka sendiri dibandingkan orang-orang yang tidak pernah mengalami bullying. Yang mengejutkan, kecenderungan bunuh diri bukan cuma berlaku untuk korban, tetapi juga mereka yang menjadi pelaku bullying. Ok, saya sih kaget dengan hasil penelitian ini.
Figure 3. Grafik Peningkatan Angka Kekerasan di Sekolah di Indonesia (Source: www.genabindonesia.org)
www.nobullying.com menyatakan bahwa di sekolah-sekolah di AS, satu dari empat siswa menjadi korban bullying. Kelompok umur yang paling rentan kasus bullying adalah mereka yang duduk di kelas 6 hingga kelas 10.
Sementara itu, data dari www.ditchthelabel.org mengatakan bahwa di Inggris, dari 10 korban bullying, 3 diantaranya menjadi suka menyakiti diri sendiri, 1 akan mencoba bunuh diri, sementara 1 lainnya mengalami gangguan pola makan (eating disorder). Selain itu, prestasi rata-rata para korban di sekolah pun menurun sehingga membahayakan prospek karir mereka di masa depan.
Sementara data dari hasil survey program U-Reporters UNICEF Indonesia menyebutkan bahwa pada tahun ini, dari 4000 orang (usia 14-25 tahun) yang mengikuti survey di tanah air, 50 persen anak-anak menjadi korban bullying di sekolah. 50%! Zaman saya masih duduk di bangku SD, dari sekitar 40 siswa dalam satu kelas, biasanya hanya 2-3 siswa saja yang masuk kategori sebagai korban bullying, alias hanya 7,5 persen. Sekarang angka itu bertambah 6 kali lipat!
Figure 4. Alex Libby, Korban Bullying Yang Kisahnya Diangkat Dalam Film âBullyâ (Source: Cuplikan âThe Bully Effectâ)
Tidak ada hal baik yang muncul dari tindak bullying. Dampaknya terhadap korban sangatlah merusak, antara lain anjloknya prestasi akademik, meningkatnya rasa cemas, juga menurunnya hasrat untuk bergaul. Oleh sebab itu: laporkan! Baik kepada teman, guru, orangtua atau negara. Pemerintah Indonesia punya mekanisme sendiri untuk menanggulangi ini (ya, ya, ya⊠mungkin sebagian orang skeptis saat saya menyebut kata âpemerintahâ). Saya ingat beberapa minggu sebelum Anies Baswedan dilengserkan dari jabatannya sebagai Menteri Pendidikan, ia mengumumkan nomor hotline pelaporan tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Nomornya 0811-976-929. Apakah masih aktif? Silakan dicoba. Anies juga meluncurkan website www.sekolahaman.kemdikbud.go.id, yang semoga masih efektif menampung dan mendisposisikan laporan masyarakat. Amin.
Figure 5. Halaman âLaporkanâ Dalam Website sekolahaman.kemdikbud.go.id
Mekanisme rinci pemerintah untuk menangani bullying tertuang dalam Peraturan Mendikbud Nomor 82 tahun 2015. Bila laporan kekerasan berhasil diselidiki, korban akan direhabilitasi, pelaku akan dilaporkan ke orangtua (dengan harapan orangtuanya akan membimbing anaknya biar nggak jadi pelaku bullying lagi), atau dikenai skors hingga dikeluarkan dari sekolah, atau bahkan dilaporkan kepada polisi jika menyebabkan luka fisik atau kematian.
Sebetulnya kalau memang mau benar-benar efektif, kita sebagai masyarakat juga harus terlibat aktif menghentikan tindak perundungan ini. Salah satu cara sederhananya: berhenti menjadi pelaku bullying! Pernah mengejek atau memanggil teman kita dengan sebutan berkonotasi negatif? Ya, tanpa disadari kita bisa menjadi pelaku bullying. Mengejek alias name-calling adalah awal mula tindak perundungan. Makanya, ayo kita mulai berhenti memanggil teman kita âsi Gendutâ, âsi Gorengâ, âsi Itemâ, âsi Banciâ, dan lain sebagainya. Mungkin maksud kita mengejek hanya sebagai lelucon, tapi siapa yang tahu perasaan orang lain?
Pengakuan: saya sendiri semasa SMA dan kuliah sering mengejek seorang teman sepermainan saya, dimana saat itu ejekan tersebut saya anggap hanya sebagai lelucon. Dia kelihatan cuek-cuek saja diejek, tapi lalu saya sadar bahwa itu juga yang terjadi pada saya dulu. Berpura-pura cuek saat dirundung. Pernah dengar peneliti mengatakan bahwa korban bullying cenderung menjadi pelaku di kemudian hari sebagai aksi pertahanan mereka dalam bersosialisasi? I guess that is what happened to me, saya berubah dari korban menjadi pelaku. (halah, alasan kamu, Van!) Tapi terlepas dari itu semua, yang jelas saya merasa malu dan bersalah atas perilaku saya saat itu, sama sekali tidak ada alasan yang masuk akal untuk memback-up tindakan tersebut.
Figure 6. Saya dan teman yang saya bully (kedua dari kiri) bersahabat sampai sekarang
Menghentikan bullying bukan hanya dengan sekedar melaporkan pelaku, tetapi juga merehabilitasi mereka agar menyadari bahwa tindakan tersebut salah dan tidak bisa diterima. Ada beberapa tips bagi para bully untuk bisa berhenti melakukan tindak bullying:Â
Berhenti   melabeli diri sebagai seorang bully   alias perundung. Bully bukanlah   identitas, melainkan perilaku yang bisa diubah.
Memahami   pemicu/latar belakang yang membuat seorang perundung suka membully. Pemicu yang biasanya   ditemukan beragam, mulai dari mekanisme untuk melepaskan stress (termasuk   akibat efek broken home atau pernah   menjadi korban bullying) hingga   memang memiliki jiwa yang terlampau kompetitif.
Bicarakanlah   pada orang yang dipercaya (orangtua, sahabat atau siapapun) untuk mendiskusikan   hal tersebut dan bersama-sama cari solusi.
Memahami   dampak tindak bullying yang ia lakukan.   Bullying bukan cuma menyakiti   orang lain, tapi juga menanamkan stigma buruk masyarakat terhadap pembully yang berpotensi merusak masa   depan pelaku. Bullying doesnât help   anyone or anything, folks.
Biasanya seorang perundung atau bully merupakan pribadi yang memiliki tingkat emosi yang dangkal. Penyebabnya macam-macam: karena merasa kurang disayangi, merasa kurang dihargai, dll. Melatih empati menjadi salah satu cara untuk mengubah sifat suka merundung. Salah satu cara yang saya coba lakukan adalah dengan menimbang perasaan orang lain sebelum berbicara atau bertindak terhadap mereka.
Mungkin kamu belum pernah menjadi korban bullying, namun bisa saja sahabat, adik atau bahkan anak kamu sendiri menjadi korban berikutnya. Satu pesan saya jika kamu bertemu korban bullying: jangan menilai/men-judge mereka. Mereka tidak butuh tambahan beban moral akibat penilaianmu. Kita bisa membantu memperbaiki situasi dengan berperan sebagai teman. Teman berbicara untuk mereka yang sering merasa dijauhi, sehingga mereka merasakan adanya dukungan moral bagi mereka. Menjadi teman yang akan berdiri bersama dan membela mereka. Menjadi teman yang menjadi harapan bagi mereka untuk melewati hari demi hari.
Begitu juga sebaliknya, menjadi teman yang bersedia membantu para perundung untuk mengubah perilaku mereka. Menjadi teman yang mau menemani mereka belajar memahami empati. Menjadi teman yang membuat mereka yakin bahwa bullying adalah perilaku jahat dan merusak diri sendiri.
Terlepas dari platformnya, baik bullying secara langsung maupun bullying melalui media digital (cyber bullying), para bully tidak akan berani melakukan bullying selama ada seseorang yang terang-terangan menentang tindakan mereka. Jangan malah menjauh dan berpura-pura tak acuh.Â
Dan untuk menjawab pertanyaan dalam judul tulisan ini: sure, we can!
* Tautan special program-nya Anderson Cooper (CNN News Anchor) âThe Bully Effectâ membahas film âBullyâ: https://www.youtube.com/watch?v=9d1_ZKlLR98
* Tautan publikasi hasil penelitian Yale University: http://news.yale.edu/2008/07/16/bullying-suicide-link-explored-new-study-researchers-yale
* Tautan soal hasil penelitian relawan UNICEF Indonesia dalam topik bullying di Indonesia: http://unicefindonesia.blogspot.com/2016/08/national-pramuka-jamboree-empowering.html