Ketika hidup tidak sekedar hidup, dan cinta tidak sekedar cinta
Pernah tau rasanya mendadak ketusuk jarum? Dari yang tadinya jarimu baik-baik saja, tetiba perih senut-senut tapi lalu hilang tak lama setelahnya. Mungkin seperti itulah hidup.
Fase itu, aku sedang berada di fase itu. Masa dimana aku merasa terombang-ambing keadaan tapi yakin sebentar lagi akan hilang. Mungkin juga sih sebenarnya aku memanja diri dibalik rasa sakit itu, atau tepatnya memanja pada ke-putus-asa-an ku.
Demi segala hal dalam hidup yang sudah kulewati, demi segala dalam hidup yang pernah datang dan pergi, aku membenci kesadaranku saat ini.
Kesadaranku yang tahu bahwa aku sedang berenang dalam arah yang tak jelas dan seakan enggan untuk mengentaskan diri dari dalamnya.
Seketika aku benci diriku, mungkin aku membenci Tuhan (sedikit), atau bahkan membenci sgala sesuatu yang ada saat ini. Aku muak dengan hidupku. Yang entah penuh warna cerah atau mungkin penuh dengan kekelaman.
Cinta, dimanakah ia? Entahlah. Aku tak mencari, tak juga menanti, bahkan mungkin juga tak berharap ia mengerti (sekalipun aku berharap ia satu-satunya yang berusaha ingin mengerti aku).
Aku menulis sebagai bentuk protesku pada keadaan. Aku enggan berbicara (seolah aku yakin tak ada yang akan mengerti bagaimana kacaunya ini). Aku bahkan tak bisa berdamai dengan otakku sendiri, lalu bagaimana aku bisa bertukar isi otakku dengan orang lain?














