Serial Ammayatasaalun 30: Kemenangan
Al-Qur'an sebagai kitab moral meletakkan kemenangan sebagai sesuatu yang sifatnya "nanti" â suatu balasan atas usaha di tempat fana bernama dunia. Dalam Al-Qur'an, kemenangan ini disebut al-fauz.
Paling tidak ada tiga dimensi al-fauz yang Al-Qur'an lukiskan kepada kita. Pertama, "al-fauzul mubin" â kemenangan yang nyata â rahmat Allah yang mewujud sebagai perlindungan dari azab pada hari akhir, diperuntukkan bagi orang-orang beriman dan beramal saleh (Al-An'am: 16).
Kedua, "al-fauzul kabir" â kemenangan yang besar â kehidupan kekal di surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (Al-Buruj: 11). Ketiga, "al-fauzul 'adzim" â kemenangan yang agung â yang melampaui surga itu sendiri: rida dari Allah (At-Taubah: 72).
Ketiga dimensi ini, meski masing-masing turun dalam konteks ayat yang berbeda, bila kita baca secara tematik membentuk gambaran kemenangan yang saling melengkapi â dari selamat, ke surga, ke rida.
Buat seorang pecinta, tidak ada yang lebih diharapkan selain rida dari yang ia cintai. Rasulullah memberikan kita semacam panduan untuk meraih rida Allah, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim: "Tiga hal yang diridai Allah bagimu: menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, berpegang teguh pada agama Allah, dan memberi nasihat kepada pemimpin."
Jika dua hal pertama bisa kita pahami dalam hal-ihwal mendapat rida Allah â menyembah Allah dengan tulus dan berpegang teguh pada agama-Nya adalah praktik kesalehan yang bersifat personal dan telah banyak kita pelajari â perilaku ketiga lebih kerap kita abaikan, bahkan kita anggap bukan urusan orang biasa.
Akibatnya, hidup kita di dunia lebih sering suram bahkan gelap, seakan Allah akan membuat kehidupan kita cerah begitu saja tanpa ada ikhtiar kita untuk mengubahnya.
Memberi nasihat kepada pemimpin bukan sekadar anjuran â ia adalah kewajiban moral seorang beriman, bentuk ikhtiar agar kekuasaan tidak melenggang berbuat zalim tanpa koreksi. Meski tentu saja, upaya ini bukan tanpa konsekuensi.
Rida Allah bukan hanya buah dari doa di sepertiga malam atau amal saleh di bilik pribadi. Ia juga menuntut keberanian kita hadir di ruang publik: mengingatkan, mengoreksi, dan menjadi penyeimbang bagi kekuasaan.
Kemenangan itu nyata. Yang masih dipertanyakan adalah kita â apakah kita akan sampai ke sana dengan lisan dan tangan yang sudah pernah bergerak, atau sekadar mengelus dada dan pura-pura tersenyum getir seolah semua baik-baik saja.
Catatan: ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (Google NotebookLM) berdasarkan teks esai dan prompt tambahan dari saya.










