Hari itu berjalan biasa.
Seorang polisi muda berpamitan, meninggalkan rumah dengan seragam lusuh dan gaji pas-pasan. Seorang pengemudi ojol juga pamit, berangkat dengan motor tua, menanggung harapan keluarganya meski penghasilannya tak pernah sampai UMR.
Malamnya, semuanya berubah.
Polisi itu terjerumus menjadi pembunuh. Perintah dan tekanan membuatnya salah langkah, dan dosa itu akan membayanginya seumur hidup. Sementara pengemudi ojol, yang hanya ingin pulang setelah seharian mencari nafkah, tak pernah kembali. Nyawanya hilang, keluarganya kehilangan tiang penopang.
Dua keluarga hancur sekaligus.
Satu terjerat aib, satu terjerat duka. Namun keduanya sama-sama korban.
Korban dari negara yang timpang.
Saat DPR tetap bergaji ratusan juta, para jenderal bergelimang harta, pejabat masih rakus tunjangan miliaran—rakyat kecil justru saling berbenturan. Polisi berpangkat rendah dan ojol berpenghasilan minim dipaksa jadi korban konflik horizontal, sementara para penguasa duduk nyaman bergelimang harta dalam diam.

















