Ya, Allah ...

gracie abrams
🪼
YOU ARE THE REASON
Keni

@theartofmadeline
art blog(derogatory)
EXPECTATIONS
d e v o n
occasionally subtle

NASA
RMH

if i look back, i am lost
Today's Document

titsay
sheepfilms

Kiana Khansmith
Stranger Things
Monterey Bay Aquarium
Mike Driver

seen from India

seen from Australia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Algeria

seen from United Arab Emirates

seen from United States

seen from Chile

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@millenial-rust
Ya, Allah ...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bingung
Hey, bingung nih ini semua tuh apa dan gimana ya walau ada penjelasan ilmiahnya, ... overall gue tetep bingung.
Agak kurang masuk akal walau segala sesuatu itu emang gak harus selalu masuk akal, tapi ini tuh, Trauma dan segala macemnya itu aneh menurutku. Maksudnya setelah dirasakan sendiri ya. Tapi sayangnya in negative way ketika merasakannya tentunya.
Ada kalanya cukup gak kuat makannya gue rasa aneh ini. Tapi sih PMS bisa memperburuk kali ya kalau memang kebetulan masih ada vibes relapse nya. Kecuali relapse nya itu lagi bersih banget.
Ini sejak gue disadari sama psikolog sebelumnya bahwa psikolog pertama gue udah invalidasi gue dulu (which thanks for that walau gue jadi ketrigger emosi), jadi ketika saat itu relapse, waktunya jadi melambat dan lama qodarulloh.
Tapi ya sudah intinya memang qodarulloh, gue serahkan pada Allah aja karena gue sendiri pun bingung, tidak menghendaki ini semua dari segala halnya, tapi belum bisa juga pulih atau hilang.
Qodarulloh, ya Allah saya serahkan ini semua, rasa sakit ini semua, insya Allah aku terima ini gpp, semoga kuat dan bisa kurangi dosa.
Saya pasrah tapi sambil ikhtiar.
Aseli mirip!
Pulih
Semoga aku pulih. Cape juga soalnya kalau terngiang di saat kondisi gak kondusif, kayak misal ketika anak sakit masuk RS seminggu, qodarulloh 🥲 rasanya campur aduk, kadang tersingkirkan tapi tidak berasa jadi lebih ringan juga. Cuma seperti kayak diselipkan dulu tanpa berkurang 🙂
Pengen banget pulih, tidak relapse dan gak relapse lama atau berat lagi. Karena sisi personal aku pribadi itu udah berasa moved on, dalam arti aku udah gak masalahin tapi somehow otakku belum.
Konseling kedua, psikolog terbaru yang spesialis trauma
Beliau ini cukup jauh lebih muda daripada saya, surprisingly. Tapi sebetulnya sayanya yang sudah makin tambah usia sih. Namanya industri kan bergulir terus soal usia.
Tapi karena beliau khusus spesialis trauma, so far ya beliau yang paling make sense sesi nya. Memang kayak baru awal ya, di sesi 1 aku assessment soal pilihan ganda soal gejala trauma. Lalu sesi kedua fokus ke teknis skill coping ketika aku trigger dengan PR list emosi selama seminggu baik itu trigger yang berhubungan dengan trauma atau sekadar emosi yang muncul lain dari biasanya selama masa relapse ini. Karena biasanya itu bisa jadi masih ada benang merah kaitan topik dengan traumanya, katanya sih.
Misal kesal pada anak karena anak gak sabar berangkat jalan, sementara saya dan anak kedua baru saja beres banget kerjakan tugas PR sekolah dengan merekam audio. Jadi harus memanage file audionya dulu untuk dikirim ke gurunya. Ketika saya kesal daripada biasanya, ternyata itu bisa jadi berhubungan dengan trauma saya yang sudah lama terjadi tapi tak kunjung pulih, sementara saya merasa bersalah akan hal itu karena kayak kelamaan. Merasa lemah. Begitu.
Entahlah...
Tapi di sesi kedua, saya merasa ada impact sih memang. Setelah belajar coping skill, soal teknis napas, mendinginkan suhu tubuh, peregangan sensasi otot tubuh pada trauma, dan latihan workout beberapa saat.
Lumayan sih karena tadinya saya hampir panik, mau nangis tapi gak jelas alasannya. Yang pasti ya karena tegang saat sesi, lalu hilang gak lama setelah latihan napas dan peregangan otot tubuh. Kebetulan beliau juga pelatih yoga sejak 2019 khusus trauma.
Saat aku perlihatkan dengan share screen PR Daily Trigger Tracker ku, aku sempat close mendadak, karena kupikir cukup liatnya sekilas aja, tapi ternyata psikolognya sempat bingung, koq ditutup wkwk...padahal itu karena gue maluuu 😭😆 karena yang paling kiri aku tulis juga triggernya saat apa dan kenapa. Mau gak mau ada beberapa hal yang terkait kejadian trauma yang aku tulis juga. Aku buatnya di Notion pakai fitur AI buat kolomnya.
Psikologku sekilas menyimpulkan rata-rata trigger ku masih terkait INVALIDASI-nya. Waduh, ya iya sih. Jadi bener dong nambah-nambah beban traumaku si invalidasi itu, duh qodarulloh.
Semoga membaik aja deh,
Btw, yang di audio aku cerita ada semacam pelecehan verbal lagi dari DM grup chat semacam Komunitas Ibu-ibu Berkarya. Dia muncul lagi kali ini via WA dengan identitas berbeda, tapi pola pertanyaannya sama. Akhirnya memang nanya ke arah hubungan suami istri, tentu mengaku sebagai ibu juga. Jadinya saya lapor ke admin, tadinya ga diread… lalu saya lapor ke admin via Instagram, katanya akan disampaikan ke admin lain. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan yang terlihat.
Entah itu penyusup laki keq, spam entah apa keq, atau bahkan misal mau jualan keq, rasanya gak ada kewajaran di situ apa pun alasannya. Pastinya ga pantastth! saya triggering! Belum lagi identitasnya seperti tipu-tipu gitu. Kalau di WA seolah lebih lengkap, ada nama lengkap dan nama anaknya, Bunda [nama anak 1 & anak 2] dan profile pic kartun gambar keluarga pakai AI.
Untung setelah terapi saya merasa lebih tenang sih, walau sempat ada trigger juga hingga hari ini, masih.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Trauma pelecehan verbal memang beresiko minim support dan empati, alhamdulillah bisa buat belajar gimana cara berserah hanya pada Allah, ini sejalan juga dengan podcast yang saya liat soal trauma dari sisi Islami
Orang-orang pada kenapa sih.
Waduh, udah usia 40 ke atas katanya ngatasin trauma udah banyak layernya 🥲 gimana ya maksudnya. Gue aja baru paham istilah trauma-informed dan memproses trauma itu sekarang. Walau sadar trauma dari 2016 (sekitar 32 tahun) dan udah ke psikolog dari dulu, tapi salah langkah, gak cocok dan kukira ga akan lama begini.
Lelah banget, qodarulloh 🥲
Qodarulloh masih ada gejala relapsenya 🙂

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Psikolog baru lagi di antara yang baru
Ok, kemarin saya deal akan melalukan treatment traumaku (akhirnya), tapi nunggu dulu hasil tes assessment deng, yang kemungkinan besar kata beliau memang saya pastinya trauma dan lagi relapse.
Jadi setelah gak lanjut dari psikolog yang via platform itu setelah paket 3 sesi (ada di blog post bawah dijelasin), tadinya saya sudah nemu psikolog yang trauma informed banget, usianya lagi-lagi lebih muda tentunya (zaman sekarang orang-orang di bawah 40 btw). Tapi beliau ini juga istri TNI, jadi seperti sibuk kegiatan offlinenya dan sulit cari jadwalnya. Akhirnya karena takut sulit ke depannya saya bersedia ditawari platform dipilihkan psikolog lain. Sebetulnya yang trauma inform lainnya ada walau yang tadi itu seperti paling lengkap. Tapi somehow saya pilih aja di antara 2 pilihan yang ditawarin tsb sebagai alternatif.
Ya dasar entah gimana saya, mau aja milih walau sepertinya tidak trauma-informed. Saya sudah isi form nya dan cerita panjang juga, karena di situ diminta jawab lengkap.
Saya lihat di IG nya, di salah satu pilihan ini, dia sudah 10 tahun pengalaman, kemungkinan usia tidak terlalu beda jauh, penyuka film sebagai landasan penelitian dia di bidang psikologi, dosen juga dan ada testimoni kliennya yang sebut kata 'trauma' walau gak tau trauma apa dan pernah jadi pembicara di webinar kekerasan seksual walaupun saya gak nemu video rekamannya di Youtube atau manapun. Akhirnya saya coba aja deh, sepertinya dia juga keibuan dan sudah berkeluarga.
Ternyata masih di luar ekspektasi, jadi memang tidak terlalu trauma-informed, sama kayak sebelum-nya. Jadi lebih ke general saja traumanya. Walau setidaknya paham bahwa trauma itu gak mudah dihilangkan begitu saja dan beliau juga jujur dari awal gak bisa janjiin terapi pemulihan trauma dan lebih ke merekomendasi terapi trauma dengan psikolog lain secara khusus walau open terhadap konseling untuk meringankan beban jika mau.
Dan setidaknya beliau tidak terlalu seperti psikolog pertama saya banget, dimana hanya paham trauma sekilas secara teori saja tanpa empati. Mungkin karena baru pengalaman 2 tahun saat itu juga dari psikolog pertama jika dihitung sih. Akhirnya yang dulu ini, dia invalidasi trauma saya kan di 2016 secara cukup brutal efeknya ke otak saya.
Singkat kata saya tinggalkan lagi platform kedua ini. Saya putuskan ke psikolog yang memang beneran spesialis trauma dan kontaknya langsung tanpa platform. Tadinya memang ada 2 calon, yang satu followersnya banyak banget dan ternyata mereka hampir seangkatan, muda-muda dan yang followers-nya banyak banget ini muslim dan sudah menikah, dan terlihat lebih keibuan sih. Tapi karena sepertinya sibuk dan tidak terlalu bahas spesifik trauma walau di bionya sebagai trauma terapis, ... juga akhirnya saya pilih yang satu lagi, sepertinya memang bukan muslim, belum menikah, 2 tahun lebih muda daripada yang tadi. Intinya mareka muda-muda banget. Di usia dimana saya baru sadar punya trauma dulu di 2016 pokoknya.
Memilih psikolog yang trauma informed dan ada pengalaman pelecehan
Yang kedua ini beliau juga trauma survivor akibat pelecehan, tidak jelas detailnya. Dan juga guru yoga spesialis yang berhubungan dengan trauma juga. Ya sudah walau seperti nya non muslim (Seperti psikolog sebelumnya) saya pilih dia, karena saya sempat telponan sama dia karena memang dia buka 15 menit free call untuk konsultasi mengenai konselingnya. Dan followersnya gak terlalu sebanyak yang tadi, jadi jadwalnya gak sepenuh itu sepertinya. Jadwal yang selalu penuh juga bisa bikin kita kliennya frustasi lho.
Setelah kemarin jalani sesi pertama, saya langsung ikut assessment pilihan ganda fokus soal gejala trauma. Kalau sebelumnya assessment di paket Trauma Healing di platform sebelumnya, soalnya itu berupa menyelesaikan 60 kalimat yang belum selesai untuk mendeteksi isu kehidupan saya secara general. Gak nyambung kan? Mana hasil assessment dokumentasi PDF-nya juga singkat banget, yang semuanya itu sudah tersampaikan secara lisan saat video call. Psikolog ku yang sekarang juga sempat terkejut sedikit, "Oh gini doang, kirain kayak gimana hasilnya.". Lah iya sama sepemikiran, Suamiku juga mikirnya sama. Ini emang platform yang irit banget dalam hal memberi kupikir!
Saat ini saya sedang diberi PR mingguan oleh psikolognya. Kali ini PR nya memberi rating juga mirip PR seperti psikolog sebelumnya tapi lebih simpel. Dan ratingnya bukan soal kejadian trauma (ini juga bikin saya merasa makin relapse waktu PR dari psikolog sebelumnya), melainkan nge-rating emosi-emosi yang muncul saat masa relapse ini walaupun tidak ada hubungannya dengan kejadian traumatis. Misal kesal sekali pada anak lebih dari biasanya di masa relapse ini. Karena itu biasanya masih tersangkut benang merahnya pada kejadian traumatis tsb. Semuanya dicatat dan diafirmasi secara lisan juga.
Bismillah, semoga semuanya lancar.
Sesama korban pelecehan sesama jenis
Oh ya, btw dengan sesama korban pelecehan dari sesama jenis (perempuan) yang di mana kalau dia itu versi fisik (sementara saya verbal berkali-kali ....- lagi-lagi invalidasi diri 😔), akhirnya kita jadi DM-an soal hobi yang mirip, .…gaming hehe.… ia usia 36 ternyata tapi memang belum punya anak. Kita tentu gak bahas trauma tapi kalau dia share story yang menjurus ke galau samar atau galau hal lain, saya semangati dia, karena saya merasa menyemangati dia itu otomatis mantul ke saya juga, karena ada trauma yang mirip 😣
Kebetulan dia juga open banget kalau bahas game. Dia selalu balas, mirip gue kalau chat LoL. Kita selucu ini main game konsol (bukan game HP), masa dilecehin sesama perempuan ☹️🥺
When it comes to trauma, it is not uncommon for a lot of survivors to experience what is known as trauma imposter syndrome. This is when a s
“It’s okay if you thought you were over it but it hits you all over again.
It’s okay to fall apart even after you had it under control.
You are not weak. Healing is messy. And there is no timeline for healing.”
Your trauma is valid even if it looked “normal” to others.
Toxic families, subtle control, covert abuse don’t always leave obvious marks. But they still leave wounds.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
please make it stop