Ayat Al-Qur’an
“Fabiayyi ‘alaa ‘irabbikuma tukadzdzibaan”
Jika ditanya tentang satu ayat Al-qur’an yang bagi saya paling berkesan, salah satunya adalah ayat dari surat Ar-Rahman tersebut. Ayat dalam kalamullah yang diulang sebanyak 31 kali ini sekiranya mampu menggetarkan hati saya saat membacanya. Terlagi jika dibaca kala dalam keadaan futur. Malu bercampur sedih terkadang menengok diri sendiri yang sering lupa akan kewajiban namun gencar menuntut hak dan terkabulkannya segala permohonan.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Rasanya seperti tersindir hebat. Kadang sering bicara sama diri sendiri “Jahat banget sih. Keterlaluan banget. Allah itu kurang ngasih apalagi coba? Hidupmu selama ini itu kurang apa? Bukankah kebutuhanmu selalu dicukupkan sama Allah? Bukankah Allah itu udah baik banget sama kamu? Saat kamu terpuruk, siapa yang paling dekat dan paling cepat membuatmu bangkit lagi? Kalaupun itu orang lain, bukankah Allah yang menakdirkan mereka datang untuk menguatkan hatimu? Ayolah, ngaca. Sadar diri. Kamu itu lemah dihadapan Allah. Nggak punya daya upaya sedikitpun tanpa kuasa Allah.”
Hati manusia memang tempatnya nafsu bertarung. Gelanggang pertandingan digelar di sana. Lawan terberatnta bukan siapa-siapa. Bahkan setanpun juga bukan. Lawan terberat itu adalah diri kita sendiri.
Hadiah berupa surga sebenarnya sudah terpampang dalam stand piala kejuaraan. Namun herannya terkadang nafsu menafikan dan lebih memilih hadiah hiburan yang semu. Walaupun nurani selalu mendamba surga, tapi nafsu? Ia selalu mempunyai cara membelokkan pada gemilang dunia dan segala kefanaannya. Ingin senantiasa memuaskan diri bermain dalam wanaha permainan yang justru kadang kala membuatnya pusing, mabok, hingga lemas tak berdaya. Sepertinya membahagiakan, namun justru ketidaknyamanan yang diperolehnya.
Kadang kala jika kita tengah bergelimang kebahagian, kita lupa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan tersebut. Namun jika kebahagiaan itu dicabut sebentar saja, kita sudah mengeluh tidak karuan. Gelisah hingga rasanya membutuhkan ketenangan. Kebanyakan kacamata manusia melihat keterpurukan duniawi karena tercabutnya nikmat Allah yang sebentar tadi adalah suatu musibah besar. Tapi bukankah itu justru yang akan membuat kita menuju kepada Allah kembali? Bukankah itu justru nikmat terbesar dalam hidup saat kita mampu bermesra dengan pemilik hidup kita?
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”












