Let’s talk about Family Financial
Waktu sebelum menikah dulu, saya orangnya gak terlalu banyak memusingkan soal harta. Entah kenapa, bagi saya rasanya seperti masih cukup tabu untuk terlalu memberikan banyak perhatian di bidang ini, sama seperti perihal kehidupan seksual. Rasanya terlalu duniawi dan gak asik buat diobrolin, mending ngobrolin visi-misi pernikahan #aihh (yeaa.. hai introvert!).
Makanya pembahasan tentang inipun, saat taaruf dulu, ya sebatas hanya tahu pekerjaan calon suami apa, berapa gajinya. That’s it. Mahar dan biaya pernikahan juga saya gak mau banyak ribet, seadanya dan semampunya aja, gak usah jadi memberatkan, toh inti pernikahan kan ada di akad. Ilmu tentang finansial rumah tangga pun, saya anak duakan.
Saya baru belajar tentang pengelolaan keuangan rumah tangga dan investasi dkk itu 4 bulan pasca menikah. Telat banget kan? Dikira ngurus keuangan keluarga sama kaya ngurus keuangan dulu waktu single dan masih mahasiswi, padahal beda jauhhh. Dulu, uang abis akhir bulan ya gapapa paling jadi makan indom*e, lah sekarang udah berkeluarga? Itu masa depan anak cucu mau dikemanain kalau gak bijak mengelola keuangan. Tapi kan, susah senang yang penting bisa masuk surga bersama yes? #tsaaahh
Nah.. 3 tahun menjalani pernikahan, suka gak suka, mau gak mau, percaya gak percaya, sebal gak sebal, saya jadi mengakui juga bahwa yang namanya harta itu penting untuk dibicarakan, apalagi dengan latar belakang keluarga saya yang suaminya seorang pebisnis, jalurnya roaller-coaster syekalih. hehe. Saat di bawah, harus seteliti mungkin (sudah kealamin, dan Alhamdulillah dpt byk pelajaran). Saat di atas, jangan sampai kalap (udah pernah kealamin juga, dan kapok! haha. makanya cepet-cepet taubat. wkwk). Harus sebijakkk mungkin pengelolaannya.
Bagi saya pribadi, ada beberapa hal yang jadi catatan penting dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga, yaitu :
Maksud clean disini, pastikan benar seluruh harta kita bersih alias halal, dari mulai cara mendapatkan sampai ke cara menghabiskan #eh. Hindari sekali yang namanya riba, gharar, dan saudara-saudaranya. Riba teh yang gimana? Gharar teh bentuk jelmaannya apa? Belajar. Udah belajar? Praktikan.
Ya.. saya akui benar, untuk benar-benar clean di zaman sekarang memang tidak mudah. Tapi setidaknya, kita sudah berusaha meminimalisir.
Selain itu, rutin keluarkan zakat. Karena sesungguhnya dari setiap rezeki yang kita terima itu, sebenarnya ada hak-hak oranglain di sana. Dan ini harus ditunaikan, supaya harta kita berkah. Punya cita-cita ingin hidup yang bermanfaat? sesungguhnya zakat adalah salah satu langkah awal kebermanfaatan diri, dengan tidak mendzalimi hak-hak orang yang ada pada harta kita.
Dan... jangan lupa, SEDEKAH !
Jangan pernah pelit untuk sedekah. Ada sifat sedekah yang hanya bisa dipahami oleh keimanan, bahwa sedekah itu sungguh pembuka jalan rezeki. Uang kita berkurang kok malah pembuka jalan rezeki? Yes..ada beberapa hal yang gak bisa dicapai oleh logika, tapi nilai kebenarannya tak terbantahkan.
Kalau memang keadaannya mengharuskan kita memiliki cicilan atau hutang, maka saran dari beberapa pakar keuangan dan juga sharing dari ibu-ibu yang udah berpengalaman (termasuk saya sendiri. hhe), pastikan agar cicilan atau hutang kita itu tidak lebih dari 30% jumlah pendapatan kita setiap bulannya.
Misal.. kita punya pendapatan perbulan 6 juta. Maka maksimaaaaal banget cicilan perbulan itu adalah 2 juta. Jangan sampai lebih. Karena kalau lebih, besar kemungkinan, akan berat sekali untuk bisa menabung ataupun investasi, atau bahkan untuk survive sekalipun. Pada akhirnya, keuangan akan jebol, dan terjadilah skema “gali lubang tutup lubang”.
Apalagi semisal cicilan itu buat sesuatu yang pada dasarnya adalah liability. Rugi bandar. Ibaratnya kaya kita berhutang untuk bisa beliin makanan buat lintah penghisap darah yg nempel di badan kita. Kan, lucu.
Mobil ataupun handphone, adalah salah satu contoh barang liability. Barang liability adalah kebalikan dari aset, ia suatu beban, tanggungan. Mobil itu butuh pajak, butuh bensin, belum lagi biaya service kalau ada yang rusak-rusak. Handphone pun sama, untuk jalan butuh pulsa, kalau rusak perlu biaya service juga. Dan keduanya, kalau dijual lagi, harganya anjloooook banget. Jauh di bawah harga beli.
Oleh karena itu, kalau gak ada pertimbangan yang krusial banget mah, barang-barang liability begini, mendingan beli second. Ataupun kl mau yg gress, pilih yang gak terlalu mahal-mahal amat. Asal bisa dipake dan berjalan sesuai fungsinya, cukup. Buang jauh yang namanya gengsi. Jangan sampai bela-belain kredit, apalagi angka kreditnya diatas 30% pendapatan. Bisi gak tenang tidur tiap malem, keinget utang... dan dosa pula, kalau kreditnya konvensional, riba :(
Segala sesuatu itu ada prosesnya. Jangan selalu ingin instan. Nabung pelan-pelan. Selama masih memungkinkan, teruslah berupaya bisa membeli sesuatu secara cash. InsyaAllah lebih tenang.
Bingung bikin neraca keuangan? Boro-boro untuk nabung atau invest, malah bahkan jebol setiap bulannya?
Maka saya ada tips.. ketika pertama kali menerima pemasukan dan akan membaginya ke pos-pos, maka pos pertama yang harus dikeluarkan adalah ZIS (zakat, infak, sedekah) dan kewajiban-kewajiban lainnya (misal : cicilan), jika ada. Yang kedua adalah investasi atau tabungan. Setelah itu, baru sisanya untuk living cost. Cukup-cukupin. Karena sejatinya, untuk “hidup” itu sebenarnya gak seberapa, yang seberapa itu “gaya hidup” alias nafsu. Dan kalau mau menuruti gaya hidup mah, mau pendapatannya berapapun juga akan selalu terasa kurang. Karena memang pada dasarnya, manusia itu adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dengan harta.
Percaya deh, kalau gak begini caranya, akan suliiit sekali untuk namanya menabung ataupun investasi.
Nah ini nih... ilmu tentang ini yang biasanya terlewatkan dalam mempersiapkan rumah tangga (kaya saya. hiks). Padahal ini super penting.
Investasi ini ada banyak ragamnya. Ada yang berupa aset fisik (misal : logam mulia), surat berharga (misal : deposito, obligasi, saham ataupun reksadana), atau bisnis (baik franchise ataupun usaha mandiri).
Dan setiap jenis investasi ini, masing-masing punya keuntungan dan resikonya tersendiri, gak bisa disamaratakan. Oleh karena itu, sebelum invest kita harus tahu dulu tujuan invest untuk apa, waktu mencapai tujuan itu berapa lama, dan kondisi keuangan kita gimana.
Ada perumpamaan invest yang saya ingat banget dari Mbak Prita Ghozie, salah satu pakar finansial.
Investasi itu ibarat kita punya sapi. Kita mau sapi itu “digemukkan” supaya bisa dijual dengan harga tinggi, atau mau bisa terus dipelihara supaya dapat susunya setiap bulan?
Dua-duanya beresiko. Kalau yang jadi gemuk, habis dijual otomatis kita gak punya apa-apa lagi. Kalau yang mau diambil susunya, tetap ada kemungkinan sapi itu nanti mati dan akhirnya kita pun gak dapet susu lagi.
Emas atau logam mulia, itu salah satu contoh perumpamaan dari sapi gemuk. Kalau dijual, harganya bisa langsung tinggi, tapi dia gak bisa ngasih kita tambahan pendapatan setiap bulannya. Beda sama deposito, yang bisa ngasih pendapatan setiap bulannya.
Nah ini.. pemilihannya akan balik lagi ke tujuan invest kita untuk apa. Tapi kalau Mbak Prita menyarankan, kalau masih usia produktif, kita bisa pilih invest yang menggemukkan sapi. Kalau sudah pensiun, baru cari investasi yang banyak menghasilkan susu. Tapi balik lagi.. ini bebas.. gimana tujuannya. Namun yang jelas, makin beragam investasi yang kita punya, semakin baik.
Hmmm.. segitu kali ya poin-poin yang menurut saya sangat krusial. Tentang praktik cara bikin neraca keuangan gimana, bikin skala prioritas gimana, atau cara mem-pos2kan setiap kebutuhan gimana, saya rasa itu mah mangga disesuaikan aja dgn karakter masing-masing, bahkan ada yg gak cocok kalau harus sedetail bikin neraca keuangan, malah pusing. Bebas. Coba tanya Ibu atau Ibu Mertua, deh. Gimana cara beliau-beliau menyimpan keuangan. Biasanya, cara orangtua itu ajaib-ajaib. hehe. Ada yg dimasukin ke amplop2 berbeda, ada yg diselip2in ke beberapa tas, dll. Tapi cukup memberi insight.
Yes, harta itu penting, karena memang harus diakui keberadaan harta memang seringkali jauh lebih memudahkan ruang gerak seseorang. Mau pergi kajian gak pusing ongkos, mau memberikan pendidikan dan pengalaman ke anak gak tarik-tarikan sama uang makan, dsb.
Tapi, cukup sampai di situ aja pentingnya. Jangan sampai kebablasan, hingga berubah yang tadinya uang hanya sebagai “alat” penunjang hidup, jadi hidup kita yang malah jadi “alat” untuk uang. All about money, hih, kasian.
Karena soal harta itu, yang dilihat bukan seberapa banyaknya, melainkan seberapa besar tanggungjawabnya, hisabnya di akhirat kelak.