7
Beban
Adakalanya kalimat “Amanah tak salah memilih pundak” menjadi seringkali terdengar beberapa tahun belakangan. kalimatnya tak salah, mereka yang berkatapun tak salah, mereka baik. mereka memberi semangat ia yang menjalankan amanah. mereka memberi suntikan moral (mungkin) setidaknya ada yang menyemangati di awal. mereka tak salah
Yang menjadi bahan introspeksi adalah ketika pundak-pundak (kita) tak terbiasa dengan beban-beban tersebut. menjadi pundak yang rata-rata memikul beban yang beratnya pun rata-rata. Ada yang lebih menunduk malu ketika pundak-pundak (kita) suka memilih-milih beban. pilih beban yang paling ringan, yang berat untuk saudara yang lain saja. sambil berkata, “afwan, saya kan sudah A, B, C dan lainnya.” prinsipnya, pilih dahulu yang “nampak” ringan, lalu lari dari yang “nampak” memberatkan. hebat bukan?
Hari ini, yang terjadi seringkali ditemui demikian. Ambil beban (amanah) dengan pilah-pilah. Ambil saja yang sekiranya tidak membutuhkan banyak kerja pikiran dan mudah dijalankan, lalu tinggalkan yang akan menganggu rutinitas harian. Akhirnya ia terjebak dalam zona nyamannya, tidak terbiasa untuk memikul beban (lebih). zona aman dan nyaman, selalu mudah dikondisikan, lalu bagaimana dengan saudaranya? entahlah jawabnya kemudian.
Memangnya salah dengan si pemilah-milah beban? rasa-rasanya tidak juga. semuanya punya hak, semuanya mengetahui kapasitas dirinya. namun rasanya sayang ketika ruang kapasitas yang dimiliki harus takluk dengan kekahawatiran berlebih akan suatu beban. sayangnya diam dalam nyaman dan aman tidak mengubah apapun, selain mengerjakan hal yang senantiasa berulang.
Beban-beban itu, hadir tak semata ingin melemahkanmu,tidak juga merendahkanmu, melainkan mengangkatmu menjadi lebih baik, lebih cakap, dan lebih banyak belajar. jangan pernah bosan menjadi pemikul beban, sebab hakikat manusia kan memaksimalkan peran-peran kebaikan.
ya kan?













