Kepada Maria Duchateau
Tanahmerah - 30 Mei 1935
Mieske. Pelan-pelan aku membaca suratmu lagi beberapa kali. Di dalamnya ada begitu banyak yang aku sukai, khususnya dalam fregmen-fregmen yang pesimistis. Aku memahami semua dengan begitu baik, aku tahu kenapa dan bagaimana kau menuliskannya. Aku tahu semua, dan itu membangkitkan banyak kenangan-kenangan dalam diriku, baik yang pahit maupun yang manis.
Itu membuatku melamun dan berpikir, semua begitu menyenangkan bagiku, aku merasa jauh lebih baik, lebih murni, merdeka, terangkai dari semua hal manusiawi yang sepele. Di dalam diri kita begitu banyak hal sepele, begitu banyak kebodohan dan piciknya pandangan.
Aku terkejut melihat itu ada di dalam diriku sendiri, sepertinya aku kira, ketenangan dan kedamaian telah direbut oleh penjara untuk selamanya. Dimana perasaan lega yang nyaman, pasrah menerima, kekuatan karena keteguhan, kesetiaan, semua sirna saat pintu-pintu penjara di belakangku ditutup. Kamu sudah bisa mengetahui itu semua dari semua surat-surat yang dikirimkan melalui kapal, bahwa ketenanganku hilang. Sampai sekarang saya belum menemukan lagi di tengah orang-orang, keramaian, keresahan, kedangkalan dan di dalam kesendirian, kesunyian dan renungan.
Sekarang di antara orang-orang yang berbicara, bertindak, membuat kesalahan, ragu-ragu, ada ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Di bulan-bulan yang lalu, aku memaksakan diri untuk konsentrasi berpikir, untuk memikirkan secara terus menerus, walaupun saat ini keadaan belum cocok untuk aku memulai belajar lagi.
Aku mencoba bersikeras melepaskan diri dari semua kekhawatiran atas soal sehari-hari yang sepele. Mengkhawatirkan keuangan dan mengkhawatirkan makanan, melepaskan diri dari lingkungan yang menegangkan. Tapi aku tidak berhasil dengan baik, studiku tidak berkembang pesat, terlalu sering merasa lesu, sangat terganggu cuaca dan terlalu sering membiarkan diri dipengaruhi lingkungan. Dimana penguasaan diri, ketentraman jiwa yang selalu ada selama ini hilang, Mieske.
Namun hari ini, malam ini, aku merasa begitu tajam. Suratmu dengan sendirinya membuatku jadi berpikir, melamun, menarik aku dari keadaan sekitar, membersihkan aku dari hal sepele yang ada. Malam ini aku merasa tenang lagi sayang. Seperti keadaan aku sekarang, sebagaimana juga perasaanku sekarang, aku tak bisa lagi menampik apa yang kamu sebut sebgai “inti yang paling dalam kita miliki”. Itu dia Mieske, yang bisa berbicara dari suratmu, membersihkan aku.
Apa yang aku tak temukan dalam studiku, apa yang tak aku temukan dalam filsafat, aku temukan pada dirimu, pada surat-suratmu.
Kamu mengerti kan Mieske? Karena itu, yang kamu tulis tidak benar Mieske, bahwa kau bilang “ada kegagalan di seluruh lini hidup kita”. Ini milik kita, ini akan mengarahkan dan menentukan hidup kita, dan itu bukan salah, tak bisa jadi salah selamanya. Karena ini adalah hal yang memberi makna kepada diri kita, dalam hidup ini. Biarpun kekecewaanmu, penderitaanmu, ucapan pahitmu, saya membaca itu semua dari suratmu, karena itu saya tidak perlu membahas semua ucapan pahitmu secara tersendiri.
Istriku, pada akhirnya kita tahu bahwa kita berada dalam titik saling mengerti sepenuhnya dan kita bisa saling memahaminya. Aku mengalami itu setiap hari.
Kadang-kadang aku merasa semua buangan, sampai sahabat paling dekatpun tidak bisa menyelami perasaanku. Di sini aku merasa lebih banyak kesepian dan sendiri, melebihi kesendirian di dalam sel penjara itu sendiri. Di dalam pikiranku, aku selalu membutuhkanmu untuk menguji pikiran dan tindakanku, untuk berunding, untuk berbagi perasaan.
Aku membutuhkan surat-suratmu untuk bertahan dan mengangkat diri ini saat hampir tenggelam dalam soal-soal yang sepele, kau tahu semua itu toh Mieske? Dan apa selain esensi yang mengkristal dari semua yang kita miliki, dari semua usaha dan berpeluangnya kita dari suka dan duka. Apa yang menjadi dorongan semangat hidup dalam buangan ini, juga tidak bisa hanya berarti penderitaan dan kemalangan dalam hidup.
Karena itu suratmu begitu sangat berarti bagiku, aku harap kamu mampu menulisnya secara teratur kepadaku. Supaya aku bisa menerima sesuatu tiap kapal yang datang berlabuh, dan itu artinya setiap sekali dalam tiga minggu sekarang.
Kehidupanku di antara orang buangan, keadaannya jauh lebih berat, daripada dalam sel isolasi penjara. Di sini sekarang aku jauh lebih membutuhkan surat-suratmu jauh lebih banyak ,daripada di dalam penjara. Sekarang selalu ada manusia di sekitar saya yang bicara, terus berbicara, tetapi tetap saya merasa kesepian.
- Sutan Sjahrir, dalam surat semasa pengasingan kepada istrinya di Amsterdam (1935). Diterjemahkan oleh Mazzini Giusepe (2019).















