Terkadang aku bertanya-tanya, kenapa ya aku lebih sering bertengkar dengan adikku daripada teman dekatku? Kenapa ya aku lebih mampu menahan amarah ke teman-temanku daripada orang-orang di keluargaku?
Padahal, Islam selalu menasihatkan kita untuk berbuat baik pada keluarga—bagaimanapun keadaannya. Aku sudah mencoba untuk menahan, terkadang bisa, kadang juga tidak. Meski saat hilang kendali, setelah itu aku juga akan menyesalinya.
Mungkin karena keluarga adalah tempat kembali kita; karena kita tahu mereka tidak akan meninggalkan kita. Berbeda dengan teman, kita lebih mudah memaafkan karena takut kehilangan mereka.
Seberapa baik buruknya diri ini, keluargalah yang tetap mampu menerima. Pun ketika kita berinisiatif berbuat baik, misalnya memberi, yang pertama kita pikirkan adalah keluarga. Mereka juga tentu demikian.
Saat dihadapkan masalah, aku mencoba untuk mundur sedikit. Melihat segala sesuatunya secara keseluruhan; melihat diriku sendiri, saudara-saudaraku, orang tuaku, bersamaan dengan masalah apa yang kami ributkan.
Dimana salahku? Dimana salah mereka? Bagaimana caraku mengatasinya? Apa memang aku yang egois? Apa yang harus aku ubah dari diriku? Sudahkah aku menunaikan kewajibanku sebagai anak maupun kakak?
Karena aku terbiasa merantau sejak SMA, tak dipungkiri, kami lebih banyak akurnya. Pulang sesekali, semua terasa menyenangkan karena saling merindukan. Berbeda ketika kami semua berada di satu atap, akan ada banyak gesekan walau hanya karena hal-hal sepele.
Lalu aku jadi berpikir tentang sesuatu. Ketika ada beberapa bola yang bergerak dalam sebuah box kecil, bola-bola tersebut akan saling bertabrakan satu sama lain; saling bersinggungan. Begitu pula manusia, semakin sering kita bertemu dalam satu ruang/lingkup, maka akan semakin sering pula saling menoreh luka maupun bahagia. Tidak hanya di keluarga, organisasi, tempat kerja, pertemanan, tentu juga akan demikian.
Marah adalah niscaya, namun yang membuat manusia bertahan adalah komitmen untuk tidak saling meninggalkan; untuk tetap saling memaafkan meski tak menutup kemungkinan akan terulang lagi.
Di dalam hadits yang diriwayatkan 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasannya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya." (HR. At-Tirmidzi)
Well, mungkin memang tak mudah saat kita menghadapinya di lapangan. Sebab, setiap dari kita tentu memiliki masalah dengan medannya masing-masing.
Namun, teruslah mencoba untuk menjadi yang terbaik, bukan yang sempurna—manusia yang sempurna hanya Baginda Nabi. Tak lupa untuk meminta pertolongan pada-Nya, sebab Dia-lah satu-satunya yang mampu menggerakkan milyaran hati manusia, lantas mengapa satu saja tidak?
Semoga Allah mengampuni kita; menjaga kita semua dari keburukan atas diri kita sendiri maupun orang lain.