Yesus Memandangnya Dengan Belas Kasih dan Memilih Dia
Homili St. Beda Venerabilis, Presbiter (Hom 21)
Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Yesus memandang Matius, bukan dengan arti yang biasa, tetapi lebih dalam lagi dengan pengertian-Nya yang penuh belas kasih terhadap manusia.
Ia melihat sang pemungkut cukai, dan karena Ia melihat-Nya dengan belas kasih dan memilihnya, Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Ini berarti panggilan untuk mengikuti cara hidup-Nya - bukan sekedar berjalan di belakang-Nya. Santo Yohanes mengatakan kepada kita: "Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Kristus, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1Yoh 2:6)
Matius pun bangkit dan mengikut DIa. Tidaklah mengejutkan melihat sang pemungut cukai meninggalkan kekayaan duniawinya begitu Tuhan memanggil dia. Tidaklah juga mengejutkan bahwa setelah meninggalkan kekayaannya, ia bergabung dalam kelompok yang pemimpinnya, dalam pandangan Matius, sama sekali tidak kaya. Tuhan kita mengundang Matius dengan berbicara kepadanya lewat Sabda. Dengan suatu dorongan batin yang tidak terlihat, Ia membajiri pikirannya dengan terang rahmat, Ia mengajar Dia untuk berjalan mengikuti jejak-Nya. Dengan cara ini Matius dapat mengerti bahwa Kristus, yang memanggil Dia meninggalkan harta duniawinya, memiliki harta yang tak dapat rusak di surga sebagai anugerah-Nya.
Ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pertobatan seorang pemungut cukai ini, memberikan suatu teladan pertobatan dan pengampunan bagi banyak rekan sejawatnya serta orang-orang berdosa. Perhatikanlah bahwa ini adalah persiapan yang sejati dan bahagia bagi status Matius kelak sebagai Rasul dan guru para bangsa. Segera setelah ia bertobat Matius menarik banya pendosa kepada jalan keselamatan. Ia menjalankan tugas yang ditetapkan baginya sementara ia sendiri masih dalam langkah pertamanya dalam iman, dan sejak saat itu ia memenuhi kewajibannya dan bertumbuh dalam jasa.
Untuk melihat makna yang lebih mendalam dari perjamuan yang dirayakan Matius di rumahnya, kita harus menyadari bahwa ia bukan hanya memberikan suatu perjamuan bagi Tuhan di kediaman duniawinya, tetapi jauh lebih menyenangkan adalah perjamuan yang diadakan di hatinya, yang ia sediakan melalui iman dan cinta. Penyelamat kita juga menyatakan hal ini: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20)
Ketika mendengar suara Kristus, kita membuka pintu untuk menerima Dia, yaitu saat kita dengan bebas mengikuti ajaran-Nya dan saat kita memberikan diri kita untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Kristus, karena Ia berdiam dalam hati orang yang dipilih-Nya melalui rahmat cinta-Nya, masuk supaya Ia dapat makan bersama kita dan kita bersama Dia. Dia selalu menyegarkan kita dengan cahaya kehadiran-Nya sejauh kita maju dalam devosi kita dan merindukan hal-hal surgawi. Ia sendiri bersukacita dalam perjamuan itu.
V. Matius adalah ahli kitab yang berbakat dan menguasai Hukum Tuhan. R. Ia membaktikan segala usahanya untuk mempelajari Hukum Tuhan agar dengan bantuan-Nya ia dapat mematuhi perintah-Nya dan mengajarkannya kepada sesama
V. Kemuliaan Injil Tuhan diberikan kepadanya. R. Ia membaktikan segala usahanya untuk mempelajari Hukum Tuhan agar dengan bantuan-Nya ia dapat mematuhi perintah-Nya dan mengajarkannya kepada sesama












