Menutup 2019
Akhirnya menuliskan ini; setelah beberapa waktu ragu dengan hati sendiri. Tidak yakin apakah benar hati yang tersakiti atau diri yang terlalu mendalami depresi.
Ada hal-hal prinsip dalam hidup ini yang tidak bisa (tidak boleh) diusik. Perihal yang menyangkut kenyamanan harga diri saat berinteraksi dengan orang lain. Terlepas dari apakah orang itu memiliki kontribusi dalam kehidupan atau tidak.
Selama hampir 27 tahun hidup di dunia ini, rasa-rasanya Saya belum pernah merasa begitu terluka hati karena tidak dihargai.
Bukan. Saya bukan gila hormat. Juga tidak sombong dengan menyatakan hal barusan. Bagi yang pernah berinteraksi dengan Saya dalam kehidupan keseharian, pasti paham. Bagaimana saya memperlakukan orang (baik teman atau bukan), bagaimana saya menempatkan diri dalam pergaulan, bagaimana saya memperhatikan apa yang saya ucapkan, dan bagaimana saya bersikap terhadap orang-orang.
Saya juga bukan orang yang dapat mengekspresikan emosi dengan baik. Termasuk dengan memperlihatkan kebahagiaan ataupun menunjukkan kemarahan. Saya bahkan orang yang percaya bahwa sabar adalah solusi terbaik dalam mengendalikan situasi saat marah melanda. Karena kemarahan yang akan Saya tunjukkan hanya menambah permasalahan baru: ada hati orang lain yang juga ikut tersakiti.
Maka pahamilah. Jika Saya pada akhirnya marah, ada hati yang telah terluka hebat. Atau lelah diminta mengalah.
Saya masih mencoba mencerna sampai dengan saat ini, kenapa sulit sekali bagi sebagian orang untuk menyampaikan maaf, walau dia tahu telah bersalah dalam sikap atau kata yang ia sampaikan. Membiarkan luka bermalam, bahkan sampai berbulan-bulan. Karena rasa sakit, juga (mungkin) dendam, pada akhirnya berkembang biak karena prasangka-prasangka yang tidak baik.
Saya tidak pernah tahu ikhlas itu kondisi hati yang seperti apa dan bagaimana. Tapi setidaknya saya percaya bahwa dengan menyampaikan maaf, adalah bentuk kesadaran seseorang bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Semoga hati kita selalu terjaga.
Semoga hati kita selalu diberi kelapangan dan kesabaran.
Hati, maaf telah membiarkanmu lama dalam keresahan dan ketidakpastian perasaan.















