Segregasi
Aku sangat ingat, Jumat, 6 Januari 2017 usai kami beramah tamah dngan pihak KJRI, kami berfoto bersama didepan gedung bertuliskan “Konsulat Jenderal Republik Indonesia Kota Kinabalu Sabah“. Senyum ceria masih terpancar di wajah kami, sambil mengantre untuk berfoto didepan kantor konsulat. Aku pun sama, mengantre sambil tersenyum menatap langit yang cerah. Kurasa langit di Sabah ini benar-benar cerah, senja nya pun ku yakin indah. Ah, aku tak sabar menikmati senja di tanah perantuan.
Tiba giliranku untuk berfoto. Kupasang senyum ceria nan menawan milikku. Kami bergiliran berfoto.Tiba-tiba saja Pak Cahyono (Staff KJRI bagian Pensosbud) mengatakan bahwa bapak dan Ibu Hamid dari CLC Hanim telah datang. Kami semua tak menyadari apa yang beliau katakan. Kemudian terdengar “Hanim, mana Hanim? KKN Sabah di CLC Hanim kesini sebentar, ini penjemputnya datang“. Kami saling bertatap dan menoleh untuk melihat pembenaran ucapan pak Cahyono.
Benar saja, penjemput tim Hanim telah datang, kemudian kami berkumpul dan mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Kedua temanku (Marta dan Azmi) adalah dua orang pertama yang harus terpisah dari kami.Dengan raut muka tak percaya dan perasaan yang tak tergambarkan, kami menerima kenyataan bahwa setelah ini kami akan terpisah-pisah menjalani 45 hari dengan partner yang tak lebih dari 1 orang. Hanya ada 1 tim yang berisikan 3 orang, yaitu tim Bingkor. Tim CLC lain hanya beranggotakan 2 orang. Aku benar benar tak mengira, kupikir masih ada 1 hari untuk kami bersama-sama, saling menguatan, dan saling mengingatkan visi misi kami ada disini. Bahkan sejak di Jakarta kami telah sepakat untuk melakukan konsolidasi terakhir sebelum kami benar2 berpisah selama berminggu-minggu di lokasi KKN masing-masing.
Namun, segalanya berjalan tidak seperti bayangan kami.Usai mendapat berita mengejutkan itu kami kembali ke ruang penginapan (Aula KJRI). Kami segera mengemas barang pribadi dan melakukan packing untuk semua peralatan yang akan dibagikan ke 9 CLC (Hanim, Kimanis, Lumadan, Ladang Cepat, Tenom, Belinin, Biah, Pasir Putih, Bingkor). Semua squad laki-laki “Bersama Sabah“ bergegas mencari masjid untuk melaksanakan Sholat Jumat. Dan kami cewek-cewek “Bersama Sabah” mengemas barang dengan hati tak menentu. Ku akui saat itu aku merasa hancur, tidak terima, ingin protes, dan benar-benar sedih. Aku tak pernah suka perpisahan. Meskipun aku tahu kami hanya berpisah sesaat dan akan ada beberapa kali kesempatan untuk berjumpa, namun aku sungguh tidak suka perpisahan yang tiba-tiba seperti ini.














