Lebih susah saat kuliah daripada saat bekerja?
Salah satu yang mungkin dinyatakan oleh alumnus perguruan tinggi adalah bahwa saat mereka bekerja hal-hal yang terasa rumit dilakukan saat kuliah ternyata lebih mudah saat bekerja. Sehingga dengan pernyataan ini, sepintas bahwa saat kuliah hal-hal yang dilakukan lebih banyak adalah sia-sia untuk kemudian hari.
Sekalipun berpendapat adalah hak, saya pikir saya perlu menyampaikan hal ini juga. Proses belajar mengajar dari awal sampai akhir banyak bergantung pada hal ini.
Saya awali dengan mengajak untuk menyadari ada banyak bidang untuk mencari penghasilan atau penghidupan. Ada bidang perdagangan, bidang wirausaha yang menghasilkan produk barang, atau yang menghasilkan jasa. Jika bekerja sebagai pegawai, ada banyak jenis bisnis/industri yang berbeda-beda. Ada pertambangan batu bara, ada pertambangan minyak, ada perkebunan, ada usaha pertanian, ada usaha perakitan hardware ada usaha pengembangan software.
Bahkan untuk golongan besar bisnis/industri pun ada perbedaan untuk masing-masing sub bidang. Misalnya ada industri pengeboran minyak mentah, industri pemompaan minyak, industri pengolahan minyak dan industri transportasi minyak.
Di dalam satu sub industri yang spesifik sekalipun ada pembagian bidang pekerjaan. Ada yang mengurusi instrumentasi, ada yang mengurusi automasi, ada yang mengawasi operasi, ada yang melakukan perawatan, ada yang melakukan perbaikan. Kesemuanya tadi masih dalam rumpun yang sama, berdekatan. Belum lagi yang bidangnya cukup berjauhan.
Perlu juga diperhatikan kebutuhan kualifikasi riil, yang sesungguhnya diperlukan dari pekerjaan yang dilakukan. Misalnya, suatu aktivitas pekerjaan itu sebenarnya hanya memerlukan KKNI level 2 (SMK), jika seseorang pernah belajar di level itu dan kemudian melanjutkan di level 5 (D3), maka pekerjaan itu mungkin akan terasa lebih mudah. Istilahnya, sebenarnya overqualified. Tentu saja saya masih setuju, uang adalah uang. Jadi kalau pekerjaan itu mendatangkan rezeki ekonomi yang besar, mengapa tidak?
Beberapa tipe industri dan bidang pekerjaan spesifik di dalamnya, berbeda dari pekerjaan lain di industri yang lain. Sebagian bisa jadi lebih memerlukan psikomotorik daripada yang lain. Ada juga yang mungkin lebih memerlukan unsur kognitif daripada yang lain. Juga ada beberapa pekerjaan yang memerlukan tipe aktivitas kognitif yang berbeda, ada yang lebih mementingkan kecepatan proses dan respons, ada juga yang justru tidak mementingkan kecepatan tetapi lebih mementingkan kedalaman berpikir.
Kecuali kursus keterampilan tertentu yang sangat spesifik, atau pendidikan kedinasan yang sangat spesifik, kuliah umumnya bagaimanapun masih ada unsur sifat umumnya. Perlu diingat perguruan tinggi sebenarnya diadakan untuk membantu meningkatkan kemanusiaan manusia. Bisa mendapatkan pekerjaan yang layak adalah salah satu efek/hasil baik yang didapatkan, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Maka pendidikan untuk unsur-unsur fundamental yang umum khas untuk di level 5 dan seterusnya tetap dijaga keberadaannya. Secara praktis ini memang faktor pembeda dengan pendidikan level 2. Jika tidak demikian, maka untuk apa sumber daya dihabiskan untuk membangun dan mengelola level 5 jika bisa cukup diselesaikan di level 2 saja?
Banyak negara memang berupaya membentuk pendidikan tingginya agar lulusannya dapat lebih mudah diterima di dunia/lapangan kerja. Ini penting juga untuk kestabilan sosial-politik-hukum dan ekonomi suatu negara. Karena itu diupayakan kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Meskipun demikian pada kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan karena ada berbagai faktor yang terlibat.
Misalnya tidak mudah untuk membuat perjanjian dan menjamin bahwa lulusan program studi akan seluruhnya terserap di industri yang dituju. Lapangan kerja yang tersedia setiap tahun bersifat dinamis dan sering tidak mudah dengan tepat diprediksi sampai satuan terkecilnya. Maka bisanya suatu program studi pendidikan tetap akan berupaya membuat lulusannya lebih fleksibel dengan kondisi lapangan kerja yang ada.
Konsekuensinya ada sejumlah pelajaran yang secara alamiah condong ke arah kognitif, berbeda dengan level 2 yang lebih cenderung psikomotorik. Ada sejumlah tindakan aktivitas/pekerjaan yang di level 5 ke atas memerlukan telaah unsur kognitif yang lebih dalam daripada level 2.
Jika seseorang sedang mengerjakan aktivitas di level 2 yang lebih memerlukan aktivitas fisik dan tidak memerlukan kedalaman dan cakupan (keluasan) aspek kognitif, maka aktivitas itu mungkin sekali akan terasa lebih mudah. Terutama bagi mereka yang tidak menyukai aktivitas yang kental unsur kognitifnya. Jadi akan terasa lebih gampang dilakukan saat sudah bekerja itu daripada aktivitas yang sejenis pada saat masih kuliah.
Untuk beberapa hal misalnya, keterampilan yang diperlukan adalah skill untuk memasang. Tidak diperlukan perhitungan yang lebih panjang sepertinya sebelumnya saat dilakukan di saat masih kuliah. Dengan kata lain, aspek kerumitan dan kesulitannya yang sebenarnya berbeda. Karena ada beberapa aspek yang tidak ditekankan pada saat kuliah tetapi justru masuk menjadi pertimbangan saat melakukan aktivitas di dunia kerja.
Beberapa pekerjaan/kegiatan di dunia bisnis/industri pun tidak selalu sepenuhnya dikerjakan dari awal sampai akhir oleh pegawai internal. Kadang dilakukan outsourcing tenaga atau pekerjaan itu dikerjakan sepenuhnya oleh perusahaan lain. Pegawai internal hanya perlu memonitor hasil pekerjaannya saja.
Berikutnya, kemungkinan yang lain bukanlah karena tipe industri atau aktivitas pekerjaan (termasuk level KKNI), tetapi karena proses pendidikan. Yang saya maksud adalah jika sudah pernah menjalani proses pendidikan dan pelatihan dengan baik, maka hal yang tadi awalnya akan terasa susah, maka kemudian akan dirasakan menjadi lebih mudah. Apalagi jika di pekerjaannya sudah dilakukan beberapa kali, sudah lebih terbiasa. Sebagaimana otot yang sudah terlatih mengangkat dumbel dan barbel akan bisa dipakai untuk mengangkat benda lain.















