The Monk Who Sold His Ferrari: Ambisi Duniawi, Makna Kehidupan, dan Kesempatan Kedua by Robin S. Sharma
My rating: 5 of 5 stars
Hilang arah dan tenggelam dalam rutinitas adalah mimpi buruk.
Setelah membangun karir selama puluhan tahun, seorang pengacara kawakan bernama Julian Mantle nampaknya sudah berhasil mencapai kesuksesan. Bagaimana tidak? Ia memiliki semuanya. Karir cemerlang, prestise dan gelar pengacara papan atas sudah lama berada ditangannya. Belum lagi harta benda yang dimilikinya, mobil Ferarri merah yang mewah, rumah besar, liburan rutin dan rumah musim panas di pulau tropis.
Julian membayar itu semua dengan kerja keras. Bahkan terlalu keras. Ia tampak tidak pernah puas dengan apa yang sudah ia dapatkan, dan ia membayar ketidakpuasannya itu dengan bekerja lebih keras lagi. Ia menjadi seseorang yang gila kerja. Seakan-akan hidupnya ia dedikasikan untuk pekerjaannya yang terus menyita waktunya hingga ia perlahan ikut larut, tenggelam didalamnya, tapi tidak dalam makna positif.
Walaupun umurnya 53 tahun, tetapi ia terlihat sangat tua, seperti sudah berumur 70 tahun. Ia tidak lagi bisa menikmati apa yang ada ditangannya. Pekerjaannya kini hanya dianggap sebagai rutinitas dan kesibukan belaka yang ia kerjakan karena memang sudah sepantasnya begitu. Ini berdampak pada penurunan performanya dalam bekerja. Julian yang dulu sering menggelegar di persidangan, kini tampak seperti singa tua yang hanya bisa mengoceh.
Puncaknya, pada suatu persidangan, ia jatuh. Julian Mantle, sang pengacara kawakan, terkena serangan jantung besar.
Setelah itu, Julian menghilang dari peredaran. Ia mundur dari firma hukum tempat ia membangun karirnya dan pergi. Rekan-rekannya tidak mengetahui dengan pasti kemana ia pergi, hanya saja, tersiar kabar bahwa ia akan melakukan semacam ekspedisi ke India untuk belajar. Ia menjual semua harta bendanya untuk mencari kehidupan baru. Setelah itu, tidak ada yang tahu.
Tiga tahun berselang, dan masih tidak ada kabar sama sekali dari sosok seorang Julian Mantle yang didapatkan oleh rekan-rekannya di Firma. Teman-temannya sudah yakin bahwa Julian tidak akan kembali lagi. Hingga suatu saat, di sebuah ruangan kantor firma yang sudah hendak tutup, Julian Mantle kembali dengan perawakan dan aura yang sangat berbeda dari tiga tahun lalu. Ia tampak segar, bersemangat, muda dan murah senyum. Di firma, ia bertemu dengan rekannya dulu, John. Dan bersamanya, ia mengobrolkan proses perubahannya dan juga maksud dari kepulangannya.
Isi buku ini menceritakan obrolan antara Julian dengan rekannya, John, yang terkesima dengan perubahan yang sudah dialami oleh Julian. Selama tiga tahun, Julian pergi berkelana ke India untuk belajar arti hidup. Ia menemukan dan belajar bersama sekumpulan Kaum Bijak Sivana, dan darisanalah ia menemukan kesempatan kedua dalam menjalani hidup. Bersama mereka, ia belajar arti kebahagiaan dengan membangun hal-hal positif.
Hal-hal positif ini dijabarkan dalam bentuk Tujuh Nilai Kebaikan Hidup, yaitu:
1. Kuasai Benak
2. Ikuti Tujuan
3. Praktikkan Kaizen
(perbaikan menuju arah yang lebih baik secara terus menerus)
4. Hidup Disiplin
5. Hargai Waktu
6. Layani Orang Lain Tanpa Pamrih
7. Rangkul Masa Kini.
Masing-masing dari nilai kebajikan ini memiliki arti dan metode praktis yang dapat digunakan untuk mengasah kemampuan kita. Sepuluh ritual yang dapat kita lakukan dibawah ini menjadi cara untuk mencapai nilai-nilai kebajikan tersebut.
Sepuluh Ritual Hidup Bercahaya:
1. Ritual Kesendirian - Ambil waktu untuk rileks sejenak demi ketenangan. Idealnya, cobalah untuk tetap terhubung dengan alam setiap hari. Tetapi ritual kesendirian ini bisa dilakukan di mana saja. Kita bisa membangun tempat teduh yang tenang versi kita sendiri di kamar atau di tempat kerja.
2. Ritual Fisik - Luangkan waktu untuk berolahraga. Investasikan minimal lima jam dalam seminggu (168 jam) untuk beraktivitas fisik. Gerakkan tubuh, hirup udara segar dan bernapas dengan baik.
3. Ritual Makanan Bergizi - Kaum Bijak Sivana rutin memakan makanan hidup -- makanan yang bukan berasal dari makhluk yang sudah mati. Sayuran segar, buah-buahan dan biji-bijian adalah contohnya -- yang menjadi rahasia mereka tetap sehat dan terlihat muda. Jika bisa, diet vegetarian patut dicoba. Jika merasa belum mampu, kurangi makanan olahan & daging merah.
4. Ritual Pengetahuan Melimpah - "Ritual ini berpusat kepada konsep belajar seumur hidup dan mengembangkan basis pengetahuan untuk kebaikan kita dan orang-orang di sekitar kita." Pengetahuan yang kita dapat harus kita terapkan. Teruslah belajar, banyak membaca, kaji ilmu dengan cermat.
5. Ritual Refleksi Pribadi - Kenali diri sendiri, kontemplasi, berpikirlah untuk berkembang. Ambil waktu untuk menuliskan kegiatan, interaksi, dan pemikiran kita setiap hari dan cobalah untuk menilai itu. Apabila positif, lanjutkan dan kerahkan energi kita untuk itu. Tetapi apabila negatif, singkirkan. Biasakan untuk introspeksi setiap hari.
6. Ritual Bangun Lebih Awal - Bangun pagi bersama matahari dan mengawali hari dengan baik. Pola pikir yang digunakan adalah lebih baik tidur berkualitas dibandingkan dengan mengedepankan kuantitas waktu tidur. Mungkin pada awal-awal pertama mencoba akan terasa sulit. Tetapi patut dicoba. "Rasa sakit kerap mendahului perkembangan pribadi."
7. Ritual Musik - Musik bisa memotivasi dan membangun dorongan.
8. Ritual Kata Terucap - Mengulang kata-kata positif (mantra). Kita bisa menuls pesan-pesan positif, tetapi untuk efek yang lebih menakjubkan, coba untuk mengucapkannya.
Contoh: Jika ingin memotivasi diri, ucapkan "Aku bersemangat, disiplin dan berenergi." selama berulang-ulang. Untuk mempertahankan keyakinan diri, ucapkan "Aku kuat, mampu, dan tenang."
9. Ritual Karakter Selaras - Bangun karaktermu dengan nilai-nilai kebajikan.
10. Ritual Kesederhanaan - Menjalani hidup dengan sederhana. Jangan ekstrem & berlebih-lebihan. Kejar impan dan pencapaian, tetapi "jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada seember emas di ujung pelangi."
Beberapa saran dan kutipan menarik dari buku ini:
1. "Dia yang melayani lebih banyak akan menuai lebih banyak, baik secara emosional, fisik, mental, maupun spiritual. Ini cara meraih kedamaian batin dan kepuasan lahir."
2. "Perjalanan ini untuk dinikmati. Jalannya senikmat tempat tujuannya."
3. "Kasih sayang dan tindakan kebaikan sehari-hari membuat hidup lebih kaya."
4. "Kualitas kehidupanmu diukr dari kualitas kontribusimu."
5. "Aku suka tidur siang sebentar."
6. "Jangan sampai memandang hidup terlalu serius sehingga lupa menertawakan diri sendiri."
7. "Menjalani kehidupan yang kaya dengan pencapaian dan kontribusi tidak harus mengorbankan kedamaian pikiran."
8. "Rencanakan waktu seminggu ke depan dan aturlah waktu dengan kreatif. Milikilah disiplin untuk fokus pada prioritas."
9. "Menggunakan waktu dengan bijak sejak dini akan diganjar dengan kehidupan yang kaya, produktif, dan memaskan."
10. "Mulailah dengan hal-hal kecil."
11. "Karakter lebih tinggi daripada kecerdasan. Jiwa yang hebat akan kuat dalam hidup sebagaimana dalam berpikir."
12. "Ritual Kesederhanaan: Jangan pernah mempersulit yang sudah mudah. Fokuslah hanya pada prioritas, kegiatan yang benar-benar bermakna. Hidupmu akan rapi, bermanfaat, dan sangat damai. Aku jamin."
13. "Prinsip leluhur Kaum Bijak Himalaya: Kerja keras, kasih sayang, kerendahan hati, kesabaran, kejujuran, dan keberanian."
14. "Siapa menanam pikiran, dia menuai tindakan. Siapa menuai tindakan, dia menanam kebiasaan. Siapa menanam kebasaan, dia menuai karakter. Siapa menuai karakter, dia menanam takdir."
15. "Pikirkan hal-hal positif. Berdoalah untuk mengucapkan rasa syukur atas semua yang kau milik. Buatlah daftar terima kasih. Dengarkan musik bagus. Lihat matahari terbit, atau bahkan berjalan-jalan dengan singkat di alam sekitar kalau mau."
16. "Sepuluh menit sebelum tidur sangat memengaruhi pikiran bawah sadar."
17. "Jangan ekstrem, jangan berlebih-lebihan."
18. "Biasakan membaca. Membaca selama tiga puluh menit setiap hari akan membuatmu takjub."
19. "Setidaknya lima jam dalam seminggu itu dinvestasikan dalam bentuk aktivitas fisik."
20. "Buatlah daftar kelemahanmu. Sempatkan merefleksikan apa yang selama ini menghambatmu meraih apa yang kau inginkan dan kau tahu dapat kau miliki."
21. "Rasa takut tidak lain hanyalah monster mental yang kau ciptakan, aliran kesadaran negatif."
22. "Rebut kembali kegembiraan bangun setiap pagi, penuh dengan energi dan kegembiraan. Tiupkan gairah ke semua hal yang kau kerjakan. Kau akan segera meraih ganjaran material yang besar, begitu pula ganjaran spiritual."
23. "Pandanglah diri sebagaimana sosok yang kau inginkan."
24. "Kebahagiaan adalah perjalanan, bukan tujuan."
25. "Perubahan dan perbaikan kecil secara bertahap, seperti yang telah kukemukakan, akan menciptakan kebiasaan positif. Kebiasaan positif akan menciptakan hasil. Dan hasil akan membangkitkan semangat menuju apa yang benar-benar kita cintai."
Sebagai penutup untuk resensi buku ini, ada satu kutipan yang sangat pas menurut saya.